Berita Terkini :
Home » » Belajar Pembelajaran

Belajar Pembelajaran

Minggu, 12 Juni 2011 | 0 komentar

A. JENIS-JENIS PEMBELAJARAN

1. Pendekatan Konstektual
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti. Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapinya
Pendekatan konstektual merupakan pendekatan yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.pendekatan kontekstual sendiri dilakukan dengan melibatkan komponen komponen pembelajaran yang efektif yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian sebenarnya.
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu :
1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan.
4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata.
5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan fokus pada pemahaman bukan hapalan
2. Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan.
Pada dasarnya pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa berupa keterampilan dasar yang dapat diperlukan dalam pengembangan diri siswa baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.
Dalam pendekatan konstruktivisme ini peran guru hanya sebagai pembibimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Olek karena itu , guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan unutk meningkatkankemampuansiswasecarapribadi.
Jadi pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengalaman langsung dan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial. Tidak ada satupun teori belajar tentang konstruktivisme, namun terdapat beberapa pendekatan konstruktivis, misalnya pendekatan yang khusus dalam pendidikan matematik dan sains. Beberapa pemikir konstruktivis seperti Vigotsky menekankan berbagi dan konstruksi sosial dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial); sedangkan yang lain seperti Piaget melihat konstruksi individu lah yang utama (konstruktivisme individu).
• Konstrukstivisme Individu
Para psikolog konstruktivis yang tertarik dengan pengetahuan individu, kepercayaan, konsep diri atau identitas adalah mereka yang biasa disebut konstruktivis individual. Riset mereka berusaha mengungkap sisi dalam psikologi manusia dan bagaimana seseorang membentuk struktur emosional atau kognitif dan strateginya
• Konstruktivisme social
Berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa pengetahuan dibentuk secara sosial, yaitu terhadap apa yang masing-masing partisipan kontribusikan dan buat secara bersama-sama. Sehingga perkembangan pengetahuan yang dihasilkan akan berbeda-beda dalam konteks budaya yang berbeda. Interaksi sosial, alat-alat budaya, dan aktivitasnya membentuk perkembangan dan kemampuan belajar individual.
• Ciri-ciri pendekatan konstruktivisme
Dengan adanya pendekatan konstruktivisme, pengembangan pengetahuan bagi peserta didik dapat dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui kegiatan penelitian atau pengamatan langsung sehingga siswa dapat menyalurkan ide-ide baru sesuai dengan pengalaman dengan menemukan fakta yang sesuai dengan kajian teori.
Antara pengetahuan-pengetahuan yang ada harus ada keterkaitan dengan pengalaman yang ada dalam diri siswa.
Setiap siswa mempunyai peranan penting dalam menentukan apa yang mereka pelajari.
Peran guru hanya sebagai pembimbing dengan menyediakan materi atau konsep apa yang akan dipelajari serta memberikan peluang kepada siswa untuk menganalisis sesuai dengan materi yang dipelajari
3. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif (deductive approach) adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduktif yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduktif sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum kesesuan yangk husus.
4. Pendekatan Induktif
Pendekatan induktif menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus menuju keadaan umum.
5. Pendekatan Konsep
Pendekatan konsep adalah pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh.
• Ciri-ciri suatu konsep adalah:
a. Konsep memiliki gejala-gejala tertentu
b. Konsep diperoleh melalui pengamatan dan pengalaman langsung
c. Konsep berbeda dalam isi dan luasnya
d. Konsep yang diperoleh berguna untuk menafsirkan pengalaman-pengalaman
e. Konsep yang benar membentuk pengertian
f. Setiap konsep berbeda dengan melihat ciri-ciri tertentu
Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
a. Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai dengan unsur lingkungan.
b. Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
c. Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang komplek.
d. Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
• Langkah-langkah mengajar dengan pendekatan konsep melalui 3 tahap yaitu:
a.Tahap enaktik
Tahap enaktik dimulai dari:
- Pengenalan benda konkret.
- Menghubungkan dengan pengalaman lama atau berupa pengalaman baru.
- Pengamatan, penafsiran tentang benda baru
b.Tahap simbolik
Tahap simbolik siperkenalkan dengan:
- Simbol, lambang, kode, seperti angka, huruf. kode, seperti (?=,/) dll.
- Membandingkan antara contoh dan non-contoh untuk menangkap apakah siswa cukup mengerti akan ciri-cirinya.
- Memberi nama, dan istilah serta defenisi.
c.Tahap ikonik
Tahap ini adalah tahap penguasaan konsep secara abstrak, seperti:
- Menyebut nama, istilah, definisi, apakah siswa sudah mampu mengatakannya
6. Pendekatan Proses
Pendekatan proses merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pada pendekatan ini peserta didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerrja dan sebagainya.
7. Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat
Pendekatan Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses,CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan, sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya. Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
1. Jenis-jenis Sumber Pembelajaran dan Pemanfaatannya
a. Sumber pembelajaran berdasarkan sifat dasarnya
 Sumber insani (guru, sastrawan, tokoh masyarakat, tutor sebaya dan sebagainya).
 Sumber noninsani (buku, majalah, surat kabar, radio tv, internet dan sebagainya).
b. Sumber Pembelajaran Berdasarkan Segi Pengembangannya
 Learning sources by design : sumber pembelajaran yang dirancang/disengaja dipergunakan untuk keperluan pengajaran yang telah diseleksi.
 Learning sources by utilitarian: sumber pembelajaran yang ada di sekeliling sekolah yang dimanfaatkan untuk memudahkan siswa yang sedang belajar / sifatnya insidentil.
2. Jenis Sumber Pembelajaran Menurut Association Of Education Communication Technologi (AECT):
 Pesan/ Message : informasi yang diteruskan oleh komponen lain dalam bentuk gagsan, fakta, arti dan data.termasuk disini bahan pelajaran yang dituangkan dalam buku/wacana.
 People/ orang nara sumber: manusia yang bertindak sebagai penyimpan, penglah dan penyaji pesan.
 Materials/bahan : Perangkat lunak yang mengandung pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat/perangkat keras ataupun dirinya sendiri (tranparansi, slide, film, audio, vidio, modul, majalah, buku dan sebagainya).
 Device/ alat; sesuatu perangkat keras yang digunakan untuk menyempaikan pesan yang tersimpan dalam bahan (OHP, tape recorder, pesawat radio, dan sebagainya).
 Technique/teknik: prosedure/acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan peralatan, orang, lingkungan untuk menyampaikan pesan.
 Setting/lingkungan : situasi/suasana sekitar dimana pesan disampaikan.
 lingkungan fisik (ruang kelas, gedung sekolah, Perpustakaan, laboratorium, taman, lapangan).
 lingkungan non fisik (iklim belajar, tenang, ramai, lelah, dan sebagainya).
3. Beberapa Acuan untuk Memilih Menggunakan Sumber Pembelajaran
 Penggunaan itu dalam rangka memotivasi belajar siswa.
 Pengunaan itu dalam rangka mendukung pencapaian kompetensi siswa.
 Penggunaan itu dalam rangka mendukung program pengajaran yang melibatkan aktivitas penelitian siswa.
 Penggunaan itu dapat membantu memecahkan masalah.
4. Prinsip-prinsip Pengadaan Sumber Pembelajaran
 Ekonomis/menyangkut dana pembiayaan.
 Adanya teknisi yang dapat mengoperasikan alat tertentu yang dijadikan sumber pembelajaran.
 Praktis dan sederhana, mudah mengoperasikan dan terjangkau.
 Fleksibel, mudah dikembangkan, tidak kaku.
 Relevan dengan materi dan kompetensi yang hendak dicapai siswa.
 Efesiensi, tepat dan mudah dalam pencapaian kompetensi yang ingin dikuasai siswa.
 Bernilai positif bagi proses pembelajaran siswa. Contoh memilih wacana hendaknya yang berdampak positif seperti kekejaman perang, musibah dan sebagainya, jangan tentang pembunuhan/perkosaan
5. Jenis Pembelajaran Pengayaan
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
1. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa sejarah, buku, tokoh masyarakat, dan sabagainya, yang secara regular tidak tercakup dalam kurikulum.
2. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
3. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau pendekatan investigatif/penelitian ilmiah. Pemecahan masalah ditandai dengan:
a) identifikasi bidang permasalahan yang akan dikerjakan
b) penentuan fokus masalah/problem yang akan dipecahkan
c) penggunaan berbagai sumber
d) pengumpulan data menggunakan teknik yang relevan
e) analisis data
f) penyimpulan hasil investigasi.
Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat belajar
dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan tuntutan kompetensi
melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang menginginkan memiliki keunggulan
khusus.

B. METODE-METODE PEMBELAJARAN
Metode-metode pembelajaran dapat dilihat dari dua sudut:
A. Metode Pembelajaran Sudut Siswa
1. Menurut Ausuble dan Robinson (1969) ada empat macam bentuk belajar yaitu: belajar menerima, belajar diskaveri, belajar menghapal dan belajar bermakna.
a. Belajar Menerima
Belajar menerima adalah suatu bentuk kegiatan belajar dengan peranan siswa lebih pasif, lebih banyak menerima dari apa yang disampaikan oleh guru. Pengertian menerima atau pasif lebih banyak menyangkut proses mental terutama berfikir. Dalam belajar menerima tidak berarti tidak ada proses berfikir, tetapi prosesnya hanya sedikit atau sederhana.
Bentuk kegiatan belajar menerima yaitu: mendengarkan ceramah dan membaca bahan pelajaran secara pasif.
b. Belajar Diskaveri
Belajar diskaveri disebut juga belajar inquiri, yaitu erat hubungannya dengan apa yang biasa disebut CBSA. Kegiatan belajar ini lebih berfikir aktif, karena ada sejumlah proses mental yang dilakukan siswa. belajar diskaveri lebih kompleks, banyak menuntut aktifitas berfikir dan bahkan tidak jarang pula menuntut sejumlah aktifitas fisik.
Bentuk-bentuk belajar diskaveri yaitu: tanya jawab, diskusi, pengamatan, percobaan, latihan-latihan, bersimulasi, permainan, mengerjakan tugas-tugas, mengadakan penelitian sederhana, memecahkan masalah dan lain-lain.
c. Belajar Menghapal
Belajar menghapal merupakan kegiatan belajar yang menekankan penguasaan pengetahuan atau fakta-fakta tanpa memberi arti terhadap pengetahuan atau fakta tersebut.
d. Belajar Bermakna
Dalam belajar bermakna suatu yang dipelajari dari makna. Makna dapat terjadi karena: 1) ada hubungan antara suatu fakta/pengetahuan dengan fakta/pengetahuan lainnya, umpamanya gedung tinggi dengan tangga, atau antara angin laut dengan nelayan yang pulang, 2) ada hubungan antara suatu pengetahuan dengan penggunaannya, umpamanya manfaat kincir air atau kincir angin, penggunaan pupuk dan sebagainya.
Walaupun tidak selalu sejajar, belajar menerima cenderung mengarah kepada belajar menghapal dan belajar diskaveri cenderung ke arah belajar bermakna.
2. Belajar Di Sekolah dan Di Luar Sekolah
Kegiatan belajar di sekolah berada di bawah bimbingan dan pengawasan langsung dari guru. Kegiatan belajar di luar sekolah tidak mendapatkan bimbingan dan pengawasan guru. Kegiatan belajar di luar sekolah dapat berlangsung di rumah, perpustakaan atau pusat-pusat kegiatan belajar.
3. Belajar Secara Klasikal, Kelompok dan Individual
Kegiatan belajar dapat berlangsung secara klasikal, kelompok atau individual.
4. Belajar Teori dan Praktik
Apa yang di pelajari oleh siswa dapat berkenaan dengan suatu teori, tetapi dapat juga menyangkut kegiatan praktik.
B. Metode Pembelajaran Sudut Guru
1. Membelajarkan Secara Ekspositori
Kegiatan belajar yang bersifat menerima terjadi karena guru menggunakan pendekatan mengajar yang bersifat ekspositori. Baik dalam tahap perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran guru berperan lebih aktif. Guru telah mengelola dan mempersiapkan bahan ajar secara tuntas, lalu menyampaikan kepada siswa.
Metode mengajar yang biasa digunakan dalam pengajaran ekspositori adalah:
a. Metode Ceramah
Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan saecara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Muhibbin Syah, (2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
Yang dimaksud dengan ceramah ialah penerangan dan penuturan secara lisan. Dalam pelaksanaan ceramah untuk menjelaskan uraiannya, pengajar dapat menggunakan alat bantu seperti gambar-gambar. Tetapi metode utama, berhubungan antara pengajar dengan pembelajar ialah berbicara. Peranan dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh pengajar.
• Ceramah wajar dipergunakan untuk :
1. Kalau pengajar akan menyampaikan fakta (kenyataan) atau pendapat dan tidak, terdapat bahan bacaan yang merangkum fakta atau pendapat yang dimaksud.
2. Kalau pengajar harus menyampaikan fakta kepada pembelajar yang besar jumlahnya atau karena besarnya kelompok pendengar sehingga metode-metode yang lain tidak mungkin dapat dipergunakan.
3. Kalau pengajar adalah pembicara yang bersemangat dan akan merangsang pembelajar untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan. Dengan ceramah, persiapan satu-satunya bagi pengajar adalah buku catatanya. Pada seluruh jam pelajaran ia berbicara sambil berdiri atau kadang-kadang duduk. Cara ini paling sederhana dalam pengaturan kelas, jika dibandingkan dengan metode demonstrasi di mana pengajar harus membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, ia harus merubah posisi kelas dan sebagainya.
• Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :
a. Membuat siswa pasif
b. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
c. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
d. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
e. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
f. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
g. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
• Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :
a. Guru mudah menguasai kelas.
b. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
c. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
d. Mudah dilaksanakan
• Batas batas kemungkinan metode ceramah
1. Pengajar tidak dapat mengetahui sampai di mana murid telah mengerti (memahami) yang telah dibicarakan.
2. Pada pembelajar dapat terbentuk konsep yang lain dari pada kata-kata yang dimaksudkan oleh pengajar tersebut.
• Langkah-langkah di bawah ini pada umumnya merupakan langkah yang dapat mempertinggi hasil metode ceramah:
a. Rumuskan tujuan khusus yang hendak dipelajari oleh pembelajar.
b. Setelah menetapkan tujuan, hendaklah diselidiki apakah .metode ceramah benar-benar merupakan metode yang sangat pada tempatnya.
c. Susuanan bahan ceramah yang benar-benar perlu diceramahkan.
d. Pengertian yang dapat dijelaskan dengan alat atau dengan uraian yang tertentu harus ditetapkan sebelumnya.
e. Tangkaplah perhatian siswa dan arahkan pada pokok yang akan diceramahkan.
f. Kemudian usahakan menanam pengertian yang jelas. Hal ini biasa dilaksanakan dengan melalui beberapa jalan misalnya : Pertama, pengajar memberikan ikhtisar ringkas mengenai pokok-pokok yang akan diuraikan. Kedua, pengajar menguraikan pokok tersebut dan akhirnya menyimpulakan pokok-pokok penting dalam pembicaraan itu.
g. Adakan rencana penilaian. Teknik evaluasi yang wajar digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan-tujuan khusus itu perlu ditetapkan.
Dalam merencanakan pengajaran dengan metode ini hal yang perlu dipersiapkan dengan seksama oleh guru adalah bahan ajar. Sesuai dengan topik atau pokok bahasan, bahan ajar dipilih dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan dan perkembangan siswa, disusun secara sistematis rinci, dilengkapi dengan contoh-contoh dan peranyaan.
b. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat – alat bantu pengajaran seperti benda – benda miniatur, gambar, perangkat alat – alat laboratorium dan lain – lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses. Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek, membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep serta fakta yang memungkinkan.
Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.
Metode ini digunakan sebagai metode mengajar tersendiri untuk mengajarkan suatu bahan ajar yang memerlukan peragaan atau sebagai metode pelengkap dari metode ceramah.
2. Membelajarkan Dengan Mengaktifkan Siswa
Dalam pelaksanaan kegiatan mengajar yang mengaktifkan siswa, guru tidak begitu banyak melakukan aktivitas, aktivitas lebih banyak dilakukan oleh siswa. Guru memberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan siswa, mengarahkan, menguasai, dan mengadakan evaluasi.
Metode mengajar yang biasa digunakan dalam pengajaran dengan mengaktifkan siswa adalah:
a. Metode Tanya-Jawab
Metode ini paling sederhana dalam pengajaran dengan mengaktifkan siswa. Metode dapat dilaksanakan secara klasikal maupun kelompok, antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa. Pertanyaan dapat berasal dari siswa, guru maupun buku-buku sumber.
Dalam penggunaan metode mengajar di dalam kelas, tidak hanya Guru saja yang senantiasa berbicara seperti halnya dengan metode ceramah. melainkan mencakup pertanyaan pertanyaan dan penyumbang ide-ide dari pihak siswa. Cara mengajar yang serupa ini dapat dibedakan dalam dua jenis ialah : metode tanya jawab dan metode diskusi Perbedaan pokok antara kedua metode itu terletakdalam :
1) Corak Pertanvaan Yang Diajukan Oleh Guru.
Pada hakikatnya metode tanya-jawab berusaha menanyakan apakah murid telah mengtahui fakta-fakta tertentu yang sudah diajarkan. Dalam hal lain siswa juga bermaksud ingin mengetahui tingkat-tingkat proses pemikiran murid. Melalui metode tanya-jawab Guru ingin mencari jawaban yang tepat dan faktual.
2) Sifat Pengambilan Bagian yang Diharapkan Dari Pihak Siswa.
Sebaliknya dengan metode diskusi, Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang agak berlainan sifatnya. Di sini Guru merangsang siswa menggunakan fakta-fakta yang dipelajari untuk memecahkan suatu persoalan. Pertanyaan seperti ini biasanya tidak mempunyai jawaban yang tepat dan tunggal, melainkan lebih dari sebuah jawaban. Dari penjelasan tersebut kita ketahui bahwa metode, tanya-jawab mempunyai wilayah yang saling mencakup dengan metode diskusi, sehingga kadang-kadang sukar dibedakan, apakah yang sedang dipakai oleh Guru dalam suatu kelas. Tetapi lepas dari kenyataan bahwa kedua metode ini sering sukar dibedakan, akan tetapi tujuan dan teknik masing-masing cukup mempunyai perbedaan yang besar sehingga dalam uraian ini seyogyanya dibedakan.
• Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk memberikan gambaran tentang wajar atau tidaknya penggunaan metode tanya-jawab, berikut ini akan disajikan suatu kejadian dalam kelas. Dalam tiap kejadian akan diikuti dengan analisis mengenai aspek pokok pelajaran itu dan sejauh manakah kewajaran penggunaan metode tanya-jawab.
• Ilustrasi penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan pelajaran yang lalu
2. Menyelingi pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
3. Memimpin pengamatan atau pemikiran siswa
• Kelebihan metode tanya Jawab :
1. Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan saja.
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
3. Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.
• Kelemahan metode tanya Jawab:
1. Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2. Membutuhkan waktu lebih banyak.
b. Metode Diskusi
Metode ini banyak persamaannya dengan metode tanya jawab. Perbedaan utamanya terletak pada hal yang dibahas serta cara pembahasannya.
Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama.
• Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru hendak:
a. Memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa
b. Memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya
c. Mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai
d. Membantu siswa belajar berpikir secara kritis
e. Membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman
f. Membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah
g. Mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut.
• Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
a. Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.
b. Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan.
c. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.
d. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.
e. Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
f. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat.
g. Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.
h. Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat.
i. Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
j. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.
c. Metode Pengamatan dan Percobaan
Metode pengamatan berkaitan erat dengan metode percobaan, keduanya berisi kegiatan pengamatan atau observasi. Perbedaanya terletak pada obyek yang diamati. Dalam pengamatan yang diamati adalah suatu obyek (benda, kegiatan dan lain-lain) yang bersifat ilmiah, sebagaimana adanya, sedang pada percobaan yang diamati adalah suatu obyek yang dibuat oleh pengamat.
Beberapa saran untuk mengadakan eksperimen.
1. Menerangkan sejelas-jelasnya tujuan-tujuan pelajaran pada siswa, sehingga siswa mengetahui pertanyaan yang perlu dijawab dengan eksperimen.
2. Membicarakan bersama dengan siswa prosedur atau langkah-langkah yang dianggap sebaik-baiknya untuk memecahkan rnasalah dalam eksperimen, serta bahan-bahan yang diperlukan, variabel yang perlu dikontrol dan hal-hal yang perlu dicatat.
3. Menolong siswa untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan.
4. Setelah eksperimen selesai siswa membandingkan hasilnya dengan hasil eksperimen orang lain dan mendiskusikan bila ada perbedaan-perbedaan atau kekeliruan-kekeliruan.
d. Metode Belajar Kelompok
Secara singkat metode ini disebut juga metode kelompok, adalah suatu cara yang menekankan aktivitas belajar siswa dalam bentuk kelompok. Dalam belajar biasanya digunakan kelompok kecil (2-5 siswa) dan kelompok sedang (6-10 siswa).
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif.
Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen.
Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topic
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
e. Metode Latihan
Pada umumnya metode ini berisi rangkaian kegiatan mengulangi suatu perbuatan, sampai perbuatan tersebut disukai siswa. Contohnya: pemecahan soal, olahraga/permainan, kesenian, keterampilan, mengarang, bekerja dan ain-lain.
f. Metode Pemecahan Masalah
Metode ini merupakan metode belajar-mengajar taraf tinggi, karena metode ini mencoba melihat dan memecahkan ”masalah yang cukup kompleks” dan menuntut/mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi.
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
• Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk
menyelesaikanmasalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan,
khususnya dunia kerja.
• Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.
g. Metode Pemberian Tugas
Agar para siswa belajar di luar kelas/sekolah maka penggunaan pemberian tugas merupakan metode yang paling tepat.
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda. Agar pemberian tugas dapat menunjang keberhasilan proses pembelajaran, maka:
1) Tugas harus bisa dikerjakan oleh siswa atau kelompok siswa
2) Hasil dari kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dengan presentasi oleh siswa dari satu kelompok dan ditanggapi oleh siswa dari kelompok yang lain atau oleh guru yang bersangkutan
3) Di akhir kegiatan ada kesimpulan yang didapat.
h. Metode Cooperative Learning
1. pengertian Cooperative Learning
Cooperative learning merupakan suatu kegiatan pembelajaran dalam kelompok kecil dimana siswa belajar dan bekerja bersama untuk memperoleh pengalaman belajar.
Metode cooperative learning berbeda dengan belajar kelompok. Perbedaan tersebut terletak pada pembagian kelompok siswa dalam pembelajaran dan struktur kerjasama diantara siswa.
Johnson (1991), mengemukakan bahwa metode cooperative learning dalam pelaksanaannya siswa tidak harus duduk berhadapan dalam satu meja untuk menyelesaikan suatu masalah guna mengerjakan tugas individu masing-masing. Model cooperative learning bukan pula merupakan tugas laporan suatu sekelompok siswa dimana hanya salah satu siswa yang mengerjakan tugas seluruhnya, sedangkan yang lainnya pasif.
Dalam metode cooperative learning menurut anita lie (2000), terdapat lima unsur yang harus diterapkan, yaitu: 1) saling ketergantungan positif, 2) tanggung jawab perseorangan, 3) tatap muka, 4) komunikasi antar anggota dan 5) evaluasi proses kelompok.
Agar kelima unsur tersebut dapat dicapai, maka siswa didalam kelompok harus mempunyai niat dan kiat (will and skill). Dalam pengelolaan kelas ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) mengelompokkan, 2) semangat cooperative learning, dan 3) penataan kelas
2. Model Cooperative Learning
Menurut degeng (2000) menyatakan bahwa perlunya perubahan persepsitentang bagaimana menata lingkungan agar belajar bukan lagi dilihat sebagai aktivitas yang membosankan dan menyakitkan, akan tetapi merupakan aktivitas yang menyenangkan dan menggairahkan membutuhkan kebebasan dalam melakukan kontrol diri. Banyak fenomena pendidikan yang nampak jelas membatasi kebebasan anak untuk bertindak kreatif-produktif. Hampir semua prilaku dikontrol oleh kondisi atau sistem di luar dari anak, sehingga yang terbentuk adalah anak-anak yang ”duduk manis” dan ”patuh” atas kehendak lingkungan yang merupakan lawan dari anak-anak yang kreatif-produktif.
Menurut gunter (1990), terdapat enam model cooperative learning. Model-model tersebut adalah:
1. the jigsaw model
Model ini dapat meningkatkan kerjasama antar siswa. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok dan tiap-tiap kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa. Kelompok-kelompok ini disebut ”home group”. Tiap-tiap anggota dalam kelompok tersebut mengerjakan tugas yang berbeda satu sama lain. Kemudian masing-masing anggota dari one group berpencar dan berpindah ke kelompok lain, dan ini disebut”expert group” karena siswa tersebut menjadi seorang ahli dengan tugas yang sama untuk memberikan informasi ketika ia kembali ke kelompok semula.
2. the team-games tournament (TGT) model
Model ini memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berlomba dalam belajar. Masing-masing kelompok berlomba untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian Kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4.Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team Recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40
3. the student teams avhivement division (STAD) model
Model ini dikembangkan karena seorang siswa kurang puas dengan hasil nilai yang diperoleh dari the team-games tournament (TGT), oleh karena itu seorang guru akan memberikan tes lanjutan dalam bentuk quiz atau tes.
4. the team interview model
Team interview dikembangkan untuk memperoleh kerjasama kelompok, membangun kegiatan kelompok, cara memantau pemahaman bacaan atau laporan nilai kelompok.
5. the graffiti model
Graffiti adalah model pembelajaran struktur, dimana siswa diminta memberikan bentuk struktur yang benar. Model ini merupakan cara yang paling tepat untuk melihat sejauh mana pemahaman struktur yang benar.
6. the think, pair, share model
Model ini merupakan teknik sederhana dengan hasil yang besar. Hasilnya dapat meningkatkan peran serta siswa dalam menambah informasi. Siswa berdiskusi dalam kelompok kecil atau berpasangan sebelum diskusi didalam kelas. Siswa lebih percaya diri karena telah memiliki bekal dalam diskusi kelompok kecil atau pasangan sehingga mereka lebih aktif karena tidak didominasi oleh siswa yang pandai semua siswa berperan serta dalam diskusi kelas tersebut.

C. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian,
• Model pembelajaran terdiri dari tiga jenis yaitu:
1. Direct instruction (DI)
2. Cooperative learning (CL)
3. Problem based instruction (PBI)
• Empat ciri khusus model pengajaran:
1. Landasan teoritik
2. Tingkah laku mengajar (sintaks)
3. Tujuan hasil belajar siswa
4. Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan
• Terdapat tiga katagori penilaian terhadap model pengajaran tersebut:
1. Penilaian berdasarkan pada penilaian berbasis kelas
2. Dilakukan secara terintegrasi selama proses pembelajaran dilaksanakan
3. Diperlukan kriteria yang jelas dan konsisten pada setiap jenis penilaian yang dilakukan
1. Direct Instruction (DI) Pengajaran Langsung
Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
Landasan teoritiknya adalah teori belajar sosial, dari albert bandura tentang pemodelan tingkah laku yang melahirkan modeling dimana sifatnya CTL (centered teacher learning), yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru.
Hasil belajar siswa terdiri atas:
1. Pengetahuan prosedural
2. Pengetahuan deklaratif sederhana
3. Mengembangkan keterampilan belajar, dimana strategi belajar direncanakan, dirumuskan, dipilih dan ditentukan oleh seorang guru
Tingkah laku mengajar (sintaks) dari model ini dapat dilihat dalam lima fase utama:
1. Fase Pertama; menyampaikan tujuan dan mengkondisikan siswa
Perilaku guru adalah: menjelaskan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, dan mempersiapkan siswa untuk belajar
2. Fase Kedua; mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
Perilaku guru adalah: mendemonstrasikan keterampilan yang benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap
3. Fase Ketiga; membimbing pelatihan
Perilaku guru adalah: marencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
4. Fase Keempat; mengecek pemahaman dan memberi umpan balik
Perilaku guru adalah: mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan memberi umpan balik
5. Fase Kelima; memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Perilaku guru adalah: mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan perhatiankhusus pada penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan perlu perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati dari pihak guru.
2. Pembelajaran Kooperatif (CL)
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
Landasan teorinya adalah teori konstruktif yang bebicara tentang hakikat sosiokultural dari vygotsky. Konsep utamanya adalah learning community, bersifat CTL (pembelajaran konstektual/bermakna).
Hasil belajar siswa terdiri dari :
1. Hasil belajar akademik berupa konsep-konsep sulit
2. Keterampilan sosial berupa keterampilan kooperatif
Tingkah laku mengajar (sintaks) dari model ini dapat dilihat dalam enam fase utama yaitu:
1. Fase Pertama; menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Perilaku guru adalah: menyampaikan tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
2. Fase Kedua; menyajikan informasi.
Perilaku guru adalah: menyajiakan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
3. Fase Ketiga; mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar.
Perilaku garu adalah: menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membantuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
4. Fase Keempat; membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Perilaku garu adalah: membimbing kelompok pada saat mereka mengerjakan tugas-tugasnya.
5. Fase Kelima; evaluasi.
Perilaku garu adalah: mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok untuk mempersentasikan hasil kerjanya.
6. Fase Keenam; memberikan penghargaan
Perilaku guru adalah: menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan diarahkan kepada terbentuknya proses demokrasi dan peran aktif siswa. Siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Sehingga model pembelajaran ini juga berpusat pada siswa.
3. Pengajaran Berdasarkan Masalah/Problem Based Instruction (PBI)
Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.
Landasan teoritiknya adalah teori belajar konstruktivis dari Bruner dengan konsep intinya belajar penemuan (Inquiry), model ini juga bersifat CTL.
Hasil belajar siswa berupa pemecahan masalah autentik sehingga dapat menjadi pembelajaran yang mandiri/otonom.
Tingkah Laku Mengajar (Sintaks) dari model dapat dilihat dalam lima fase utama yaitu:
1. Fase Pertama; orientasi kepada masalah
Perilaku Guru adalah: menjelaskan tujuan, logistik yang diperlukan, memotivasi siswa sehingga terlibat pada aktivitas pemecahan masalah.
2. Fase Kedua; mengorganisasikan siswa untuk belajar
Perilaku Guru adalah: membantu siswa mendefinsikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan tugas belajar.
3. Fase Ketiga; membimbing penyelidikan individu maupun kelompok
Perilaku Guru adalah: mendorong siswa untuk mau mengumpulkan imformasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4. Fase Keempat; mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Perilaku Guru adalah: membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, serta membantu mereka dalam membagi tugas.
5. Fase Kelima; menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Perilaku Guru adalah: membantu untuk melakukan refleksi/evaluasi terhadap penyelidikan merekadan proses yang mereka gunakan.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan ditujukan dan diarahkan menjadi terbuka, proses demokratis, peran aktif siswa. Norma inkuiri terbuka dan siswa bebas mengemukakan pendapat.
4. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.
5. Problem Posing
Problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
6. Problem Terbuka (OE, Open Ended)
Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.
7. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.
8. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.

9. SAVI
Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga, dan Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.
10. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:
a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan
b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan-kesepakatan.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger