Berita Terkini :
Home » » Prinsip dan Konsep-konsep Tentang Organisme Pada Tahap Populasi

Prinsip dan Konsep-konsep Tentang Organisme Pada Tahap Populasi

Jumat, 22 Juli 2011 | 2komentar

A. Pengertian populasi
Odum (1998) mendefinisikan populasi sebagai kelompok kolektif organismee-organismee yang berasal dari species yang sama yang menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki ciri atau sifat tertentu yang bukan merupakan sifat dari individu. Beberapa sifat itu adalah kerapatan, natalitas (laju kelahiran), mortalitas (laju kematian), penyebaran umum, potensi biotik, disperse, dan bentuk pertumbuhan atau perkembangan. Populasi juga memiliki sifat-sifat genetik yang secara langsung berkaitan dengan ekologinya yaitu sifat adaptif, sifat keserasian reproduktif dan ketahanan.
 Beberapa sifat Kelompok Populasi (bukan individu)
1. Densitas populasi (population dencity) 7. Bentuk &fluktuasi pertumbuhan
2. Populasi selalu berubah (Rate population) 8. Berstruktur& beragregasi
3. Natalitas populasi (natality) 9. Berisolasi & Teritorialitas
4. Mortalitas populasi (mortality)
5. Berdistribusi umur
6. Potensi biologis & Ketahanan lingkungan
B. Kepadatan dan kerapatan populasi dan indeks jumlah relatif
Istilah kepadatan biasanya digunakan untuk hewan dan manusia, sedangkan istilah kerapatan untuk tumbuhan. Kepadatan menunjukkan hubungan antara jumlah individu (dalam populasi) dalam ruang yang ditempati pada waktu tertentu. Misalnya 200 pohoh per hektar. Harap diingat bahwa perhitungan jumlah terlalau mementingkan arti organisme kecil sedangkan biomasa terlalu membesarkan arti organisme besar, sedangkan komponen arus energi memberikan indeks yang lebih baik untuk membandingkan populasi mana saja dalam ekosistem
Dalam peraktik sering kali lebih penting mengetahui apakah suatu populasi berubah (bertambah / berkurang) dari pada mengetahui jumlah populasi pada suatu saat. Dalam hal ini jumlah relatif bermanfaat bagi hubungannyadengan waktu misalny jumlah burung yang terlihat setiap jam. Kesukaran untuk mengukur kepadatan populasi ialah organisme tidak tersebar merata, akan tetapi tersebar tidak merata atau berkelompok , oleh karena itu dalam mengambil sampel penelitian kepadatan populasi harus berhati-hati.
Di daerah everglade florida kerapatan atau kepadatan ikan kecil paada keseluruhan arca pada musim panas menurun. Tetapi kepadatan ekologi naik pada waktu permukaaan air surut. Hal ini disebabkan oleh jumlah ikan yang berjubel dalam air yang sempit. Burung bangau mengatur waktu bertelurnya sedemikian rupa sehingga pada waktu menetas bertepatan dengan kepadatan ekologi mencapai puncak atau dengan kata lain persediaan makanan maksimum bertepatan dengan permintaan makanan yang maksimum karena anak sedang tumbuh. sehingga dengan keadaan ini memberi kemudahan kepada induk bangau untuk menangkap ikan sebagiai makanan anaknya.
Perbedaan antara kepadatan kasar dengan kepadatan ekologi dapat di gambarkan dengan concoh berikut:
perkiraan IV I
kepadatan
ikan
II

III


(Bulan)
Keterangan: I = kepdatan ekologi
II = kepadatan kasar
III = permukaan air
IV = bangau mulai bertelur

C. Konsep dasar tentang laju (rates)
Karena populasi merupakan kesatuan yang selalu berubah. Kita tidak hanya tertarik pada ukuran dan komposisi pada suatu saat, tetapi juga bagaimana populasi berubah.
Beberapa sifat khas penting yang berkaitan dengan perubahan populasi ialah laju (rates). Suatu laju didapat dengan membagi perubahan dengan periode waktu berlangsugnya perubahan. Jumlah kelahiran per tahun = laju kelahiran (birth rates). Terminologi laju/rates tersebut menunjukkan kecepatan perubahan sesuatu pada suatu waktu.
Dalam membahas angka rata-rata perubahan populasi notasi standar adalah ∆N/∆t (N = besar populasi, t = waktu). Untuk laju suatu saat/waktu = dN/dt.

jumlah
tawon
(ribuan) B

A
N





pertambahan
tawon per- minggu B
A
∆N
∆t

Waktu (minggu)

GAMBAR 7.2. kurva pertumbuhan populasi (atas), kurva laju pertumbuhan (bawah) dari dua koloni tawon.

Kurva pertumbuhan bntuk S dan laju pertumbuhan bentuk udang , karakteristik untuk populasi tahap pionir (permulaan). Untuk mudahnya lazim dipakai singkatan perubahan dengan simbol ∆ (delta).
N = perubahan jumlah
N/t = laju rata-rata perubahan jumlah per satuan waktu
N/N.t = laju pertumbuhan per wwaktu per organisme
Kita terkadang tidak hanya tertarik pada rata-rata pertumbuhan persatuan waktu tetapi juga pada laju pertumbuhan teoritis pada suatu saat, maka t = 0, dalam keadaaan ini umumnya ∆ diganti dengan d.
dN/dt = Laju pertumbuhan jumlah pada suatu saat.
dN/N.dt = Laju pertumbuhan jumlah per waktu per individu pada suatu saat
contoh :
Populasi protozoa (50) sedang tumbuh dengan mitosis. Dan 50 menjadi 150 setelah 1 jam. Berapa besar laju pertumbuhan per jam per individu ?
jawab :
N = 50
N = 100
N/t = 100/Jam
N/N.t = 2/jam/individu atau 200% per jam/ individu
Kepadatan populasi dirumuskan:

Dimana: D = densitas
N = Number (jumlah)
S = Space (ruang)
Kerapatan kotor (Crude Density) adalah jumlah (atau biomasa) persatuan areal seluruhnya.
Kerapatan ekologi atau kerapatan jenis jumlah (biomasa) per satuan ruang habitat (ruang yang tersedia yang benar-benar dapat diduduki oleh populasi).
C.1. Natalitas (Angka kelahiran)
Natalitas merupakan kemampuan populasi untuk tumbuh, laju natalitas/birth rate pada demografi diperoleh dengan kelahiran, menetas atau berkecambah, pembelahan dan sebagainya.
Natalitas ekologik atau natalitas sebenarnya atau biasa hanya disebut natalitas adalah kenaikan populasi dalam keadaan sebenarnya. Harganya tidak tetap tergantung keadaan lingkungan.
Rumus laju natalitas :

Dimana: B = laju kelahiran
ΔNn = banyaknya kelahiran
Δt = waktu
Laju kelahiran per satuan populasi :

Dimana: b = laju kelahiran per satuan populasi
ΔNn = banyaknya kelahiran
Δt = waktu
N = jumlah populasi seluruhnya
Natalitas absolut = Nn
t Nn = ∑ individu baru
Natalitas Spesifik = Nn ∆t = waktu tertntu
N.∆t
Harga laju natalitas selalu > 0 dan tidak pernah negatif. Sedangkan N dapat positif maupun negatif, karena melibatkan natalitas, mortalitas, emigrasi, imigrasi dan sebagainya
C.2. Mortalitas (Angka kematian)
Mortalitas adalah angka kematian dalam populasi. Laju mertalitas adalah laju kematian dalam demografi ialah jumlah individu yang mati dalam satu satuan waktu.
Mortalitas ekologik yaitu mortalitas nyata / realita, yaitu jumlah individu yang mati dalam keadaan lingkungan yang sebenarnya , harganya tidak tetap tergantung pada keadaan lingkungan.
Mortalitas minimum (teoritis) adalah kehilangan individu dari populasi dalam keadaan lingkungan yang ideal dan harganya tetap.
Mortalitas dan natalitas bervariasi menurut umur, terutama organisme berderajat tinggi. Menurut ito (1959), bentuk kurva survivorship berkaitan dengan perlindungan induk terhadap anaknya. Pada tawon madu dan burung robin yang
memelihara anaknya, bentuk kurva kurang cekung (concave).Jika dibandingkan dengan bentuk kurva ikan dan belalang yang tidak memelihara dan melindungi anaknya.
Bentuk kurva survivorship dipengaruhi oleh densitas, populasi dengan densitas tinggi bentuk kurva lebih cekung dari pada populasi dengan densitas rendah.
Menurut ahli/pakar ekologi, peledakan populasi manusia tidak merupakan ancaman yang gawat bagi kehidupan manusia, tetapi ancaman bagi mutu kehidupan perseorangan.
Manusia beradab telah meningkatkan longevity ekologisnya karena perbaikan makanan, kesehatan, sehingga kurva mortalitas mendekati kurva mortalitas minimum yang bersudut tajam, tetapi jelas mnusia tidak bisa meningkatkan longevity maksimum fisiologinya, karena itu hampir tidak ada manusia yang berumur lebih dari 100 tahun.








A = Tipe cembung (convex), mortalitas tinggi waktu mendekati akhir kehidupan.
B1 = Tipe tangga,laju kehidupan mengalami perubahan drastis pada peralihan dari tingkat perkembangan kehidupan.
B2 = Kurva teoritis, brupa garis lurus.
B3 = Tipe agak sigmoid.
C = Tipe cekung (concave), mortalitas tinggi pada usia muda.


D. Penyebaran umur populasi
Pola penyebaran umur merupakan sifat penting yang mempengaruhi natalitas dan mortalitas. Nisbah (perbandingan) dari berbagai kelompok umur dalam suatu populasi menentukan status reproduktif yang sedang berlangsung dari populasi dan menyatakan apa yang biasa dihadapkan pada masa mendatang.
Pertumbuhan populasi yang berlangsung cepat akan mengandung kelompok umur muda, populasi yang stasioner memiliki pembagian umur yang lebih merata, dan populasi yang menurun menggambarkan sebagian besar berumur tua (tidak produktif).
Pada penyebaran populasi yang sudah mantap, adanya kelahiran / kematian yang luar biasa akan mengakibatkan perubahan sementara dalam populasi yang kemudian kembali ke keadaan yang matap.
Menurut bodenhimer (1939) dalm populasi terdapat 3 kelompok umur ekologis, yaitu:
1. Pre- refroduktif
2. Reproduktif
3. Post- reproduktif
Pada manusia ketiga unsur ini kurang lebih sama panjangnya, pada manusia premitif, post- refroduktif pendek. Pada beberapa hewan (serangga) dan tanaman fre- reproduktif sangat lama, reproduktif pendek dan post- reproduktif tidak ada.
Cotoh piramida umur:





%individu muda tinggi, poligon bentuk genta, %individu muda rendah,
Populasi berkembang populasi stabil bentuk kendi,populasi menurun
Penyebaran (dispersi) individu-individu yang sejenis yang membentuk populasi di dalam suatu ekosistem mengikuti tiga pola dasar yaitu pola penyebaran bergerombol, pola penyebaran seragam, dan pola penyebaran acak.
Kecendrungan organisme untuk berkelompok misalnya waktu berbiak, membentuk koloni (semut, rayap). Contoh populasi acak adalah kutu beras, remis dalam lumpur. Hal ini terjadi karena lingkungan sangat homogen.
Penyebaran secara berkelompok terutama disebabkan oleh respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal, respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman, akibat dari cara atau proses produksi / regenerasi, sifat-sifat organisme dengan organ vegetatifnya yang menunjang untuk terbentuknya kelompok atau koloni.
(http://djafar-geonet.blogspot.com 21/05/2011 16:29:38)
E. Pola pertumbuhan populasi dan konsep carrying capacity (daya dukung)
Populaasi mempunyai pola pertumbuhan yang sangat khas, disebut bentuk pertumbuhan populasi. Ada dua pola dasar pertumbuhan berdasar pada pada kurva pertumbuhan yaitu:
a. Kurva pertumbuhan betuk J
b. Kurva pertumbuhan bentuk S atau sigmoid.
Apabila distribusi umur dalam keadaan tetap dan tidak berubah laju laju pertumbuhan spesifik disebut laju intrinsik dari kenaikan alamiah atau r-max. Harga r-max sering disebut potensial biotik atau potensial refroduktif.
Pola pertumbuhan populasi dapat berbentuk huruf J atau S atau gabungan dari keduanya sesuai denagan kekhususan pertumbuhan populasi organisme dan lingkungannya. Pada pola pertumbuhan bentuk J kepadatan naik dengan cepat secara eksponensial kemudian berhenti mendadak karena hambatan lingkungan atau faktor pembatas bekerja secara efektif secara mendadak.
Pada pola pertumbuhan populasi bentuk sigmoid populasi mula-mula naik secara lambat kemudian menjadi cepat kemudian lambat kembali setelah hambatan lingkungan kembali mulai bekerja dan akhirnya hampir seimbang.
Batas atas dimana tidak ada pertumbuhan lagi merupakan asimptot dari kurva sigmoid yang biasa disebut daya dukung lingkungan atau daya topang. Pada pola pertumbuhan bentuk J tidak terdapat tingkat keseimbangan akan tetapi batas N merupakan batas yang ditentukan oleh lingkungan.
Persamaan untuk kurva bentuk J adalah persamaan eksponensial hanya harga N terbatas. Pertumbuhan populasi berhenti apabila faktor pembatas bekerja mendadak misalnya kekurangan mkanan,udara beku dan sebagainya.
Untuk kurva pertumbuhan bentu S persamaannya adalah:
dN = rN K – N atau
dt K
= rN – rN2 atau
K
= rN ( 1 – N )
K
K = K
1 + e(a – rt)
Catatan :
dN = laju pertumbuhan populasi (perubahan ∑ dalam waktu)
dt
r = laju pertumbuhan spesifik
N = jumlah individu dalam populasi
K = ukuran populasi maksimum = asimptot atas
e = dasar logaritma
a = konstanta
F. Fluktuasi populasi dan ayunan (osilasi) siklik
Apabila populasi telah menyelesaikan pertumbuhannya, N, rata-rata sama dengan nol, kepadatan populsi cendrung berfluktuasi diatas dan dibawah tingkat atas asimptotik atau daya dukung.
Fluktuasi ini merupakan hasil dari perubahan dalam lingkungan fisik atau intraksi dalam populasi atau keduanya atau antar populasi, karena itu fluktuasi dapat terjadi meskipun keadaan lingkungan tetap misalnya dalam laboratorium.
Dialam perlu dibedakan :
a. Perubahan ukuran populasi musiman yang sebagian besar dipengaruhi oleh adaptasi sejarah kehidupan bersama- sama dengan perubahan faktor lingkungan.
b. Fluktuasi tahunan (anual)
Fluktuasi (ayunan) tahunan ada dua macam :
a. Fluktuasi yang dipengaruhi oleeh perbedaan faktor fisik lingkungan yang terjadi secara tahunan atau faktor ekstrinsik (yaitu faktor diluar interinsik dalam populasi). Fluktuasi yang dipengaruhi oleh perbedaan faktor fisik lingkungan cendrung tidak teratur dan jelas berkaitan dengan variasi dari faktor fisik yang membatasi misalnya tempratur, curah hujan, dan sebagainya.
b. Fluktuasi yang terutama dipengaruhi oleh dinamika populasi atau faktor intrinsik (yaitu faktor dalam populasi). Populasi jenis ini sering memperlihatkan keteraturan shingga istilah “siklus / daur” adalah memadai. Fluktuasi tahunan akan hebat pada ekosistem yang relatif sederhana dimana komunitas hanya terdiri dari beberapa populasi misalnya populasi kutub, hutan buatan, dan sebagainya. Dapat dikatakan makin tua dan terorganisir komunitas makin rendahlah fluktuasi populasi.
 Faktor – faktor yang menyebabkan :
a. Fluktuasi kepadatan populasi dapat disebabkan karena variasi faktor fisik luar misalnya variasi iklim, faktor fisik luar adalah faktor ekstrinsik.
b. Fluktuasi juga dapat disebabkan karena faktor intrinsik (faktor dalam populasi) misalnya predasi, penyakit, dan sebagainya.
Kadang – kadang sulit untuk menentukan penyebab fluktuasi karena populasi dapat mengubah dan mengadakan kompensasi terhadp faktor fisik. Tetapi dapat dikemukakan perinsip dasar sebagai berikt ; makin terorganisir dan matang suatu komunitas serta makin stabil lingkungan akan makin rendah amplitudo fluktuasi kepadatan populasi.
G. Pengaturan populasi dan konsep-konsep pengendalian populasi yang bergantung dan tidak bergantung kepada kepadatan populasi.
Pada ekosistem dengan keanekaragaman rendah dan sedang mengalami tekanan fisik cendrung bergantung pada komponen fisik misalnya cuaca, arus, pencemaran, dan sebagainya. Sedangkan pada ekosistem dengan keberagaman tinggi atau tidak mengalami tekanan fisik maka populasinya cendrung dikendalikan secara biologik.
Pada semua ekosistem terdapat kecendrungan yang kuat dimana populasi akan berkembang menurut seleksi alam dan menuju pengendalian diri.
Fakto-faktor ekologik baik yang berupa faktor pembatas yang merugikan maupun yang bukan faktor pembatas (faktor yang menguntungkan) atau faktor fositif maupun faktor negatif terhadap populasi dapat tergolong faktor :
a. Density independent/ density legislatif atau tidak tergantung kepada kepadatan jika pengaruhnya atau efeknya tidak tergantung pada besarnya populasi.
Contoh : faktor iklim, angin ribut, penurunan temperatur yang drastis, faktor cahaya, dan sebagainya.
b. Density dependent/ faktor, bergantung kepadatan yaitu faktor ekologi yang pengaruh atau efeknya terhadap populasi merupakan fungsi dari kepadatan/ densitas populasi. Pengaruh density dpendentseperti pengatur mesin karna merupakan alat utama untuk mencegah over population dan bertanggung jawab atas pencapaian kedaaan seimbang (steady state).
Merupkan contoh faktor density dependent ialah fakto-faktor biotik, misalnya kompetisi, parasitisme, pathogen, natalitas, mortalitas, dan sebagainya.
Kadang – kadang keadaan populasi yang mantap dapat dikacaukan oleh perubahan cuaca misalnya penurunan tempratur yang drastis yang dapat mengakibatkan menurunnya parasit serangga dan akibatnya populasi serangga akan naik dengan cepat dan terbentuk kurva bentuk J. Apabila terjadi keadaan yang demikian akan dapat mengaakibatkan gundulnya pohon – pohon eucalyptus sehingga serangga akan kekurangan makanan dan populasi serangga akan menurun kembali secara deraastis. Penurunan populasi pemangsa dapat juga disebabkan karena naiknya populasi pemangsa akibatnya banyak serangga.
H. Penyebaran populasi
Penyebaran populasi ialah pindahnya individu atau keturunan (biji, spora, larva) keluar dari daerah populasi atau dari populasi :
Ada 3 pola penyebaran populasi yaitu :
a. Emigrasi = gerakan keluar satu arah
b. Immigrasi = gerakan masuk satu arah
c. Migrasi = perpindahan keluar masuk cecara periodik
 Pengaruh penyebaran pada populasi akan mengkibatkan :
a. Kecil, apabila individu yang masuk atau keluar populasi sedikit tau populasinya besar.
b. Besar, apabila penyebaran yang terjadi secara massal (sangat besar jumlahnya) dan terjadi dalam waktu yang pendek.
 Penyebaran populasi dipengaruhi oleh :
1. Barier, misalnya : sungai, gunung, lembah, dan sebagainya
2. Vigalitas atau kemampuan gerak organisme umumnya organisme dengan vigalitas tinggi akan memudahkan penyebaran, misalnya: burung, serangga.
Penyebaran merupakan sarana dimana daerah baru atau lahan yang kosong yang semula tidak dihuni akan menjadi dihuni sehingga terbentuk suatu keseimbangan baru, disamping itu penyebaran juga penting untuk gene flow dan pembentukan species baru.
 Pengaruh penyebaran terhadap populasi tergantung kepada :
a. Setatus bentuk pertubuhan populasi, apakah populasi berada dekat/ jauh dari carrying capacity (daya dukung), sedang tumbuh atau sedang menurun.
b. Kecepatan penyebaran dan ini di pengaruhi oleh barier dan vigalitas organisme.
Apabila populasi dalam keadaan seimbang dengan faktor lingkungannya, maka migrasi atau emigrasi yang moderat hanya berpengaruh kecil terhadap populasi, akan tetapi apabila populasi berada diatas atau dibawah daya dukung penyebaran akan bepengaruh lebih nyata misalnya emigrasi akan mempercepat pertumbuhn populasi atau sebaliknya emigrasi akan mempercepat pemusnahan.
Migrasi sering melibatkan perpindahan massal populasi (burung, belalang). Ini sering dilakukan oleh golongan vertebrata dan insecta.
 Migrani musiman dan anual (siang dan malam ) peting untuk :
a. Menempati daerah yang kosong
b. Memungkinkan organisme memperthankan kepadatan optimum dan aktifitas yang tinggi.
Populasi yang tidak dapat melakukan migrasi serius harus mengalami penurunan kepasatan populasi atau mengaddakan domansi ( istirahat) pada keadaan yang kurang menguntungkan.
H.1. Pola penyebaran interen (dispersi)
Penyebaran (dispersi) individu-individu yang sejenis yang membentuk populasi di dalam suatu ekosistem mengikuti tiga pola dasar yaitu pola penyebaran bergerombol, pola penyebaran seragam, dan pola penyebaran acak.
 Individu dalam populasi dapat tersebar dengan tiga pola yaitu :
a. Acak
b. Seragam (lebih teratur daripada acak)
c. Berkelompok (tak teratur, tak acak)
Penyebaran secara acak jarang terjadi di alam dan dapat terjadi apabila lingkungan sangat seragam dan tidak ada kecendrungan untuk berkelompok.
Penyebaran seragam (uniform) terjadi apabila kompetisi antar individu sangat hebat atau ada organisme positif yang mendrong pembagian ruang yang sama.
Berkelompok dengan bermacam derajat merupakan pola yang paling umum ddalam populasidan hampir merupakan aturan apabila dipandang dari sudut individu. Akan tetapi harap diperhatikan bahwa penyebaran berkelompok mendekati acak.
Penyebaran secara berkelompok terutama disebabkan oleh respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal, respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman, akibat dari cara atau proses produksi/regenerasi, sifat-sifat organisme dengan organ vegetatifnya yang menunjang untuk terbentuknya kelompok atau koloni.
Kecendrungan organisme untuk berkelompok misalnya waktu berbiak, membentuk koloni (semut, rayap). Contoh populasi acak adalah kutu beras, remis dalam lumpur. Hal ini terjadi karena lingkungan sangat homogen.
Selanjutnya Hutchinson (dalam Sodradjad, 1994) menyebutkan beberapa factor penyebab perbedaan pola sebaran sebagian anggota populasi adalah:
• Faktor vektorial yang timbul dari gaya-gaya eksternal, seperti arah angin, arah aliran air, dan intensitas cahaya.
• Faktor reproduktif yaitu faktor yang berkaitan dengan cara berkembang biak, misalnya tumbuhan yang berbiji seperti kemiri sangat lambat menyebar jauh dari pohon induknya.
• Faktor sosial sebagai sifat yang dimiliki oleh spesies tertentu, misalnya perilaku territorial.
• Faktor koaktif yang timbul karena persaingan intra jenis.
• Faktor stokastik karena adanya keragaman acak dalam salah satu faktor di atas.
http://djafar-geonet.blogspot.com/21/05/2011 16:29:38
I. Interaksi nantar spesies
I.1. Interaksi negatif : predasi, parasitisme, dan antibiosis
Predasi dan parasitisme adalah contoh intraksi antara dua poppulasi yang mempunyai efek negatif pada pertumbuhan dan kehidupan pada salah satu populasi.
Hasil yang sama terjadi jika satu populasi menghasilkan zat yang merugikan populasi lainnya. Interaksi ini dikenal dengan antibiosis. Terminologi allelopathy (merugikan yang lain) dipakai untuk penghambatan secara kimia oleh tanaman.
Pengaruh negatif tersebut cendrung berkurang pada populasi yang telah berinteraksi dalam jangka lama dan dan pada ekosistem yang mantap dengan demikian species yang satu tidak memusnahkan spesies yang lain.
Pemangsa dan parasit memang menekan laju pertumbuhan populasi, misalnya populasi serangga, burung, dan sebagainya, untuk tidak menjadi over population.
I.2. Interaksi positif : Komensalisme, kooperasi, mutualisme.
Interaksi positif dimulai dengan komensalisme yang kemudian berkembang menjadi mutualisme dimana kedua soesies saling bergantung.
Komensalisme merupakan tipe sederhan dari interaksi positif dan mungkin nlangkah awal menuju ke hubungan saling menguntungkan (epefit, anemon pada karang). Kepiting dan coelenterata sering saling mengadakan hubungan kerja sama saling menguntungkan misalnya colenterata hidup dipunggung kepiting, dalam hubungan ini coelenterata tidak saling bergantung.
Langkah selanjutnya adalah kerja sama saling menguntungkan dan keduanya saling bergantung, keadaan ini disebut mutualisme atau simbiosis obligat. Simbiosis jenis ini biasanya antara ototrof dengan hterotrof, (jamur dan algae), bakteri pengikat N dengan leguminoceae, rayap dengan flagellata dan binatang memamah biak dengan bakteri dalam rumen.
Simbiosis obligat antara mikroorganisme pencerna selulosa dan hewan, penting untuk rantai makanan detrritus. Pada simbiosis rayap dengan flagellata (ordo hypermastigina), rayap akan mati tanpa kerja sama dengan flagellata, karna rayap tidak bisa mencerna selulosa sehingga akhirnya akan kelaparan. Koordinasi antara rayap dengan flagellata sangat baik, misalnya flagellata sangat tanggap pada hormon ganti kulit (pengaruh hormon), flagellata akan membentuk cyste, sehingga akan menjamin transmisi dan reinfeksi setelah ganti kulit.
Simbiosis antara jamur dengan semut attine. Semut attine akan merawat jamur dengan memupuk, menanam dan merawat jamur. Pada peristiwa ini, rayap mengadakan endosimbiotik dengan flagellata, sedangkan semut mengadakan eksosimbiotik dengan jamur.
Fungsi jamur disini adalah menguraikan selulosa yang tidak dapat dicerna oleh semutsedangkan kotoran semut mengandung enzim proteolitik yang tidak dipunyai oleh jamur untuk membantu metabolisme protein.
Seperti halnya bakteri pengikat N pada leguminoceae , jamur berintraksi dengan jaringan akar membentuk organ yang dapat meningkatkan kemampuan tanaman untuk menghisap mineral dari dalam tanah, sebagai imbalan jamur akan mendapat makanan dari tanaman.
Secara garis besar dapt disimpulkan bahwwa ada berbagai macam bentuk interaksi antara satu spesies dengan spesies yang lainnya diantaranya adalah :
1. Netralisme adalah kedua populasi tidak saling menguntungkan
2. Kompetisi tipe gangguan langsung adalah hambatan langsing terhadap kedua populasi
3. Kompetisi tipe penggunaan sumber daya adalah hambatan tan langsung apabila sumber daya menurun
4. Amensalisme adalah populasi I terhambat sedangkan populasi II tak terhambat.
5. Parasitisme adalah populasi I parasit umumnya lebih kecil populasi II (hospes)
6. Predasi adalah populasi I predtor, umumnya lebih besar (hospes) tidak terganggu
7. Komensalisme adalah populasi I komensal untung, populasi II (hospes) tidak terganggu
8. Protokooperasi adalah interaksi menguntungkan keduanya tetapi tidak saling tergantung
9. Mutualisme adalah kedua populasi saling untung dan keduanya saling bergantung, kerjasama merupakan kewajiban.

KESIMPULAN

1. Pengertian Populasi
Adalah: kelompok organisme sejenis (atau kelompok individu organisme yang terdiri dari spesies yang sama); sedangkan;
2. Komuniti (komunitas)
Adalah: kelompok populasi (populasi group) yang terdapat pada suatu luasan daerah tertentu.
Jadi; sifat individu-individu sejenis mencerminkan sifat populasi, dan sifat populasi akan mencerminkan sifat komuniti
Ekologi populasi pada umumnya adalah ekologi komuniti yang dikenal sebagai ekologi modern (Synecology) dan sekarang ini lebih banyak diminati dan dikembangkan oleh pakar lingkungan. Alasannya adalah:
Respon satu individu thdp suatu faktor fisika-kimia belum mencerminkan sifat dari seluruh individu yang sejenis
Adanya suatu jenis organisme yang survivalnya ditentukan oleh kompetisi dan atau simbiosis
3. Beberapa sifat Kelompok Populasi (bukan individu)
1. Densitas populasi (population dencity) 7. Bentuk & fluktuasi per-
2. Populasi selalu berubah (Rate population) tumbuhan
3. Natalitas populasi (natality) 8. Berstruktur& beragregasi
4. Mortalitas populasi (mortality) 9. Berisolasi & Teritorialitas
5. Berdistribusi umur
6. Potensi biologis & Ketahanan lingkungan
4. Densitas Populasi
Yaitu: besaran populasi yang terdapat dalam suatu unit ruang atau tempat tertentu.(cth: populasi rusa 1000 ekor/Ha; 5000.000 diatom/m3 ; bandeng 1000 kg/Ha; udang 2 ton/Ha
Ada 2 bentuk densitas:
1) Densitas krud (crude dencity), yaitu: jumlah (ekor) atau biomas dari setiap unit dalam total ruang
2) Densitas khas (specific dencity), sering disebut densitas ekologi (bila pertimbangan ekonomi disebut densitas ekonomi), yaitu: jumlah (biomas) setiap unit ruang habitat dalam suatu ekosistem
5. Populasi selalu berubah
Konsep “Rate“ (tingkat perubahan), dimaksudkan sebagai ukuran untuk perubahan populasi, yaitu: hasil bagi antara besaran perubahan populasi dengan periode waktu selama perubahan itu terjadi.
Dalam konsep “Rate” kita kenal:
 Rate pertumbuhan (growth rate) untuk populasi, yaitu: jumlah organisme yang bertambah ke dalam populasi untuk setiap ukuran waktu tertentu.
Contoh: pertambahan jumlah populasi = ∆N, dan waktu yang digunakan untuk menghasilkan ∆N adalah ∆t, maka rate rata-rata dari perubahan populasi adalah ∆N / ∆t.
 Specific Growth Rate, yaitu: perubahan rata-rata setiap individu dalam waktu tertentu. Atau dengan rumus =
SGR = ∆N / N * ∆t
Contoh: terdapat populasi ikan mas (cyprinus carpio) sebesar 50 ekor, setelah sebulan menjadi 150 ekor, maka:
∆N = 150 – 50 = 100 ekor/bulan, dan SGR = 100 / 50 = 2 ekor/bulan
(catatan: rate pertumbuhan dapat +, 0, dan −).
3. Natalitas (Natality)
Adalah: kemampuan memperbanyak diri dari suatu populasi dengan jalan regenerasi (melahirkan) (disebut juga “birth rate”), yaitu: produksi individu-individu baru dari suatu organisme yang bersumber dari kelahiran, pertunasan, penetasan dan pembelahan.
Natalitas maksimum
Adalah: produksi maksimum teoritis individu2 baru di dalam suatu keadaan ideal (secara ekologis tidak ada faktor pembatas kelahiran, kecuali faktor fisiologis)
Natality Rate (tingkat natalitas)
Maksudnya: suatu perubahan jumlah populasi karena adanya kelahiran. Diperoleh dari jumlah individu baru hasil produksi (kelahiran) dibagi dengan waktu (∆t)(disebut juga natalitas mutlak)
Jadi Natalitas mutlak = ∆Nn / ∆t
Specific Natality Rate (SNR); yaitu: jumlah individu baru/unit waktu/unit populasi
SNR = ∆Nn / ∆t / N
Catatan:
∆Nn = natalitas; produksi individu-individu baru dalam setiap populasi
∆Nn / ∆t = Rate natality perunit waktu (natalitas mutlak)
∆Nn / N * ∆t = SNR
N = populasi total sebelum peristiwa natality (populasi awal yang dari sini sebagian jumlah yang berproduksi)
Natalitas dapat 0 atau +
4. Mortalitas (Mortality)
Adalah: jumlah kematian dalam suatu populasi pada periode waktu tertentu
Ada 3 pengertian menyangkut mortalitas, sbb:
1) Mortalitas Ekologi (Ecological of realized mortality) yaitu: kematian yang terjadi karena keadaan lingkungan tertentu atau karena adanya faktor ekologi tertentu.
2) Mortalitas Minimum Teoritis, yaitu: kematian yang terjadi hanya karena faktor ketuaan dan bukan karena limiting factor.
3) Mortalitas Khusus (Specific Mortality), yaitu: prosentase (tingkat) kematian dari populasi semula untuk setiap priode waktu tertentu.
5. Distribusi Umur
Maksud: Suatu sifat populasi yang menunjukkan kelompok umur dalam suatu populasi yang berhubungan erat terhadap natalitas dan mortalitas.
Misalnya suatu populasi yang indikatornya lebih dominan didukung oleh individu-individu muda, maka populasi tersebut cepat tumbuh dan berkembang.
6. Potensial Biologi & Ketahanan Lingkungan
Potensial Biologis; kesanggupan suatu organisme untuk mengembangkan (memperbanyak/memperbesar) populasinya.
Dapat dilihat dari: ∑ telur, benih, larva, tunas, anakan, dll.
Ketahanan lingkungan; potensi fisik, kimia, biologi suatu lingkungan yang dapat mendukung pertumbuhan/perkembangan organisme.
Bila lingkungan (environment) tidak terbatas (ruang, makanan, dan gangguan dari organisme lain tidak ada), m/ % rate pertumbuhan menjadi tetap dan maksimum (Y = max).
Share this article :

2 komentar:

  1. kenak gati apa sik ku peta lq makalah ne.. thank's sobt, ndek ulak cara badak ite bejulu lengan sekoliiiiiiiiiiiiiiiiiii.......??!!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. taok ke dengan meta ....
      lassingan ndekne beketuan

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger