Berita Terkini :
Home » » Sepasang sayap Kupu-Kupu

Sepasang sayap Kupu-Kupu

Kamis, 15 Desember 2011 | 0 komentar

Di pinggir sungai Amazon yang bening airnya, tinggalah seorang gadis bernama Chimidyue. Ia bersama keluarga dan saudara-saudaranya tinggal di rumah besar yang mereka sebut Maloca. Sementara para pemuda pergi berburu atau mencari ikan, Chimidyue pergi ke kebun di dekat rumah mereka bersama para gadis dan perempuan lainnya. Ia tak pernah pergi ke dalam hutan, karena ia tahu di dalam sana ada banyak binatang buas yang siap memakannya, atau setan-setan jahat yang bisa mencelakainya.
Namun ia sering mendengar dari para tetua tentang dunia lain di luar sana yang membuatnya penasaran. Kadang ia memberanikan diri pergi ke tepi hutan, bermain-main di sekitar pohon raksasa dan bertanya-tanya ada apa di balik pohon-pohon besar itu.
Suatu hari Chimidyue pergi ke tepi hutan untuk menganyam keranjang. Seekor kupu-kupu bersayap biru yang sangat cantik memamerkan keindahannya di depan Chimidyue.
“Kamu kupu-kupu terindah yang pernah kulihat!” bisik Chimidyue mengawang. “Andai aku bisa sepertimu...”
Kupu-kupu itu terbang merendah seolah menjawab bisikkan Chimidyue, lalu kembali membubung tinggi menuju hutan.
Chimidyue melemparkan keranjangnya dengan tergesa. Ia berlari-lari kecil mengikuti kupu-kupu itu. Dikepakkannya kedua tangannya seolah ia adalah kupu-kupu. Tanpa ia sadari, ia berlari jauh ke dalam hutan. Barulah ketika kupu-kupu itu hilang di balik dedaunan, Chimidyue tahu kalau ia telah tersesat. Betapa takutnya ia. “Ayah, Ibu...! Tolong aku!” teriaknya putus asa. “Aduh...! Bagaimana aku pulang ya?”
Chimidyue berjalan ke sana ke mari, berharap menemukan jalan pulang. Tiba-tiba ia mendengar suara Tap! Tap! Tap seperti ada orang yang sedang menebang pohon. Ia mengikuti arahnya. Oh, itu ternyata hanya seekor burung pelatuk.
“Ah!” Chimidyue menggelengkan kepalanya dan mengeluh. “Kalau saja kau seorang manusia, mungkin kau bisa menolongku keluar dari hutan ini.”
Burung pelatuk itu menghentikan kesibukannya mematuk batang kayu dan menatap tajam Chimidyue. “Kenapa aku harus jadi manusia untuk bisa menunjukkan arah?” ujarnya marah. “Aku bisa! Meskipun aku seekor burung!”
“Oh, maukah?” Chimidyue bertanya dengan sedikit terkejut. Ia tak menyangka seekor burung bisa bicara.
“Apa kamu tidak lihat kalau aku sibuk?” Burung pelatuk melotot marah. “Huh! Manusia selalu menganggap mereka sangat berkuasa. Semuanya ingin dilayani. Tapi perlu kau tahu ya! Di dalam hutan…burung pelatuk pun sama berharganya dengan manusia!” Dengan masih mengomel panjang pendek, burung pelatuk itu terbang dengan cepat meninggalkan Chimidyue.
“Aku tidak bermaksud menyinggungmu…” bisik Chimidyue setengah menyesal. “Aku hanya ingin tahu jalan pulang.”
Hati Chimidyue semakin sedih. Ia melangkah semakin jauh ke dalam hutan. Tiba-tiba dilihatnya sebuah gubuk. Seorang nenek dengan keranjang di tangannya duduk di beranda.
“Oh, Nenek!” seru Chimidyue dengan gembira. “Betapa leganya aku bisa bertemu seseorang di sini. Kupikir aku akan mati.”
Plop!
Mendadak rumah dan nenek itu menghilang dari hadapan Chimidyue. Seekor burung Tinamou rupanya menggunakan sihir untuk menjebak mangsanya. Ia kelihatan sangat marah.
“Jangan pernah berani memanggilku Nenek!” serunya seraya terbang ke atas dahan. “Ribuan tahun keluargamu memburu dan membunuhku. Berapa banyak keluargaku yang jadi korban? Mereka mengurung dan memakan teman-temanku. Kau pikir aku mau menolongmu?”
“Sepertinya semua binatang di hutan ini membenciku,” Chimidyue menunduk sedih.
Chimidyue kembali melangkah tak tentu arah. Perutnya mulai keroncongan. Sebutir buah sorva jatuh tak jauh darinya. Ia memungut dan meakannya dengan rakus. Tak lama sebutir buah lagi jatuh, lalu berbutir-butir lainnya. Chimidyue mendongak. Dilihatnya puluhan ekor monyet sedang memakan buah sorva. Beberapa tergelincir dari pegangan mereka dan jatuh ke tanah.
“Aku akan mengikuti mereka!” pikir Chimidyue. “Setidaknya aku tidak akan kelaparan.”
Sepanjang hari itu Chimidyue berjalan mengikuti monyet-monyet yang bergelantungan dari pohon ke pohon. Tapi ketika matahari mulai redup, Chimidyue kembali was-was. Ia menyembunyikan dirinya di balik semak. Sementara monyet-monyet itu turun dari atas pohon. Chimidyue terkesiap! Begitu menyentuh tanah, monyet-monyet itu berubah menjadi manusia. Saat sadar dari kagetnya, monyet-monyet jelmaan itu sudah mengelilinginya.
“Helo Chimidyue! Apa yang kau lakukan di sini?”tanya mereka.
“Aku mengejar kupu-kupu ke dalam hutan dan tersesat!” sahut Chimidyue sedih.
“Oh, kasihan sekali kamu! Tenanglah! Besok kami akan mengantarmu pulang!” janji mereka.
“Terima kasih. Tapi, saya perlu tempat menginap malam ini,” ujar Chimidyue memohon.
“Ikutlah dengan kami ke festival. Malam ini kami diunan ke sana oleh raja Monyet!” ajak mereka.
**
Raja Monyet menatap Chimidyue dengan tak senang.
“Siapa kamu? Berani sekali kamu datang tanpa diundang!” bentaknya.
“Ia tersesat di hutan ini dan kami menemukannya lalu membawanya kemari,” seorang monyet jelmaan menjawab.
Raja Monyet menggerutu, namun membiarkan Chimidyue bergabung dalam festival tersebut.
Mereka menari dan menyanyi hingga larut malam. Tengah malam saat semua telah tertidur, Chimidyue masih tetap terjaga karena suara dengkur Raja Monyet yang begitu keras. Kemudian sesuatu yang tertangkap di telinganya membuat Chimidyue terkejut. “Hey, sepertinya raja Monyet sedang menggumamkan kata-kata!” Chimidyue mendengarkan lebih seksama.
“Aku akan memakan Chimidyue! Aku akan memakan Chimidyue!” dengkur raja Monyet.
Chimidyue menjerit.
“Siapa? Ada apa?” raja Monyet terbangun kaget.
“Kau....kau bilang dalam tidurmu…kau akan memakanku!” Chimidyue mengkerut ketakutan.
“Omong kosong! Mana ada monyet makan manusia. Jangan pedulikan kata-kataku! Mungkin aku sedang mimpi buruk!” ujarnya marah. Ia membalikkan badannya dan kembali tidur.
Chimidyue kembali mendengar dengkur yang sama. Namun kali ini terdengar seperti geraman. Chimidyue menatap lekat-lekat raja Monyet tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia melihat raja Monyet yang tadi berbentuk manusia, kini berubah menjadi hewan buas dengan totol-totol hitam di punggungnya. Raja Monyet ternyata bukan monyet. Ia seekor Jaguar. Jantung Chimidyue berdebar keras. Diambilnya sebatang obor. Lalu dengan mengendap-endap ia pergi meninggalkan kumpulan monyet itu secepatnya.
Setelah berlari cukup lama. Chimidyue terduduk dengan nafas tersengal. Kala itu matahari sudah mulai terbit. Chimidyue menangis putus asa.
“Aku benci hutan ini!” teriaknya.
“Apa kamu yakin?” Sebuah suara kecil mengejutkannya.
Chimidyue cepat-cepat menyeka air matanya dan mendongak. Seekor kupu-kupu Morpho yang sangat besar menatapnya dari atas ranting tempat ia bertengger. Ia mengepak-epakkan sayap birunya yang indah.
“Oh, ibu!” kata Chimidyue seolah pada ibunya. “Tak ada yang masuk akal di hutan ini. Mereka sering berubah bentuk dan menipu mataku!”
“Nak! Begitulah hutan. Duniamu, hanyalah sebagian kecil dari dunia yang lebih luas lagi. Kau tidak bisa mengharapkan semua sama seperti yang ada di duniamu!” ucap kupu-kupu.
“Tapi kalau aku tak mengerti hutan ini, bagaimana aku bisa pulang?” isak Chimidyue.
“Aku akan mengantarmu!” ujar kupu-kupu.
“Benarkah, ibu?” Chimidyue menatapnya penuh harap.
“Tentu! Ikutilah aku!”
Kupu-kupu itu melayang dan terbang. Chimidyue bergegas mengikutinya. Tak lama mereka telah tiba di pinggir sungai Amazon. Chimidyue menatap gembira perahu-perahu kecil yang tertambat di sisi lain sungai itu.
“Kemarin aku menyebrangi sungai tanpa menyadarinya. Tapi…itukan tidak mungkin?” ujarnya bingung.
“Tidak mungkin?” tanya kupu-kupu.
“Maksudku…aku tidak mengerti bagaimana caraku menyebrangi sungai ini kemarin. Dan sekarang aku juga bingung, bagaimana aku menyebrang kembali ke kampungku!” jelas Chimidyue.
“Itu mudah!” jawab kupu-kupu. “Aku akan mengubahmu menjadi kupu-kupu!”
Ia merapalkan mantera ke tubuh Chimidyue.
Chimidyue merasa tubuhnya mengecil sementara tangannya berubah menjadi sepasang sayap. Tak lama ia telah melayang di samping kupu-kupu penolongnya.
“Aku seekor kupu-kupu!” ujar Chimidyue takjub.
Mereka mulai terbang menyebrangi sungai. Sayap-sayap biru mereka berkilauan tertimpa cahaya matahari.
“Aku merasa sangat ringan! Oh, kuharap ini tak segera berakhir!” kata Chimidyue.
Tapi begitu kakinya menyentuh tanah di beranda rumahnya, Chimidyue berubah kembali menjadi manusia.
“Aku akan meninggalkanmu di sini. Selamat tinggal Chimidyue!” ujar kupu-kupu.
“Ibu!” teriak Chimidyue. “Bawalah aku bersamamu!”
Kupu-kupu tersenyum. “Tidak bisa Chimidyue! Kau adalah milik keluargamu. Mereka mencintai dan menyayangimu. Tapi sejak kau menjadi bagian dari kami, maka kau akan selalu memiliki hutan ini di hatimu.”
Chimidyue melambaikan tangannya dengan sedih ketika kupu-kupu terbang kembali ke hutan. Kemudian dengan sepenuh hati ia berbalik dan berlari riang menuju rumahnya.
Selesai

By: Rachma MJ
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger