Berita Terkini :
Home » » Alat Evaluasi Non_Tes

Alat Evaluasi Non_Tes

Selasa, 24 Januari 2012 | 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada dua individu yang prsis sama, baik dari segi fisik maupun psikisnya. Ini merupakan salah satu bukti keagungan Allah SWT atas segala ciptaanNya dan agar kita semua berbakti kepadaNya.
Adanya perbedaan individual itu sudah barang tentu akan turut serta menentukan berhasil atau tidaknya individu-individu tersebut dalam menjalankan kewajiban dan tugas, baik berupa tugas/kewajiban bekerja maupun belajar, sehingga dengan demikian akan berakibat pula adanya pebedaan prestasi kerja maupun prestasi belajarnya.(Sudijono: 2009)
Senada dengan adanya perbedaan individu itu, maka perlu diciptakan alat untuk mendiagnosis atau mengukur keadaan individu, dan alat pengukuran itulah yang lazim disebut tes, sebagai contoh yaitu dalam proses baelajar mengajar. Perlu diketahui bahwa, keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak hanya dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.
Dengan Teknik Non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan beberapa jenis teknik non tes.
Dari uraian di atas, pembahasan tentang evaluasi dengan menggunakan tehnik non-tes ini sangat penting dibahas untuk mempermudah pemahaman tentang mata kuliah Evaluasi hasil Belajar dan di samping itu juga makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas kelompok dalam menempuh mata kuliah Evaluasi Hasi Belajar.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian tehnik penilaian Non-tes?
2. Bagaimanakah penyusunan dan langkah-langkah pengembangan alat evaluasi non-tes?
3. Apa sajakah jenis-jenis penilaian non-tes?
C. Batasan masalah
Makalah ini hanya terbatas pada pembahasan tentang “ tehnik evaluasi yang meliputi portofolio, sosiometri, riwayat hidup, dan skala bertingkat”.
D. Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari tehnik evaluasi non-tes
2. Memahami penyusunan dan langkah-langkah pengembangan alat evaluasi non-tes.
3. Mengetahui jenis-jenis penilaian non-tes
E. Manfaat
Dengan pembuatan makalah ini diharapkan kita dapat memahami dan mengetahui secara jelas tentang tehnik evaluasi yang meliputi portofolio, sosiometri, riwayat hidup, dan skala bertingkat.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknik Non Tes
Teknik Non tes merupakan cara pengumpulan data tidak menggunakan alat-alat baku, dengan demikian tidak bersifat mengukur dan tidak diperoleh angka-angka sebagai hasil pengukuran. Teknik ini hanya bersifat mendeskripsikan atau memberikan gambaran, hasilnya adalah suatu deskripsi atau gambaran. Terhadap gambaran-gambaran yang diperoleh dapat dibuat interpretasi, penyimpulan-penyimpulan bahkan dengan kualifikasi tertentu.
Tehnik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak hanya dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.
Dengan Teknik Non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan beberapa jenis teknik non tes. Teknik non tes ini pada umumnya memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik daris segi ranah sikap hidup (effective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitive domain).
B. Penyusunan dan Langkah-langkah Pengembangan Alat Evaluasi Non-tes
1. Penyusunan Alat Penilaian Teknik Non-Tes
Teknik non-tes sering kali kurang mendapat perhatian para guru, karena kurang dikenal atau kurang handal dibanding dengan teknik tes. Namun teknik ini besar kegunaannya sebagai pelengkap dari teknik tes terutama untuk mengevaluasi hasil belajar yang sukar diukur dengan tes, seperti kerajinan, ketekunan, kepemimpinan, keterampilan, dan lain-lain.
Pada umumnya teknik non-tes lebih bermanfaat untuk mendapatkan gambaran siswa secara keseluruhan/kualitatif. Perbedaannya apabila pada tes, jawaban siswa dinilai benar atau salah, sedangkan pada teknik non-tes jawaban siswa dapat bersifat kesesuaian, persetujuan, pilihan, minat,kecenderungan. Secara keseluruhan alat pengumpul data dibagi ke dalam dua katagori yaitu tes dan non-tes. Untuk mengetahui hasil belajar yang bersifat kognitif (pengetahuan, pemahaman, dll) lebih tepat digunakan instrumen tes. Sedangkan untuk mengungkap hasil belajar yang bersifat afektif dan psikomotor digunakan instrument non-tes.
2. Langkah-langkah pengembangan alat evaluasi non-tes
dalam pengembangan alat evaluasi non-tes, dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan aspek apa yang akan diukur. Tetapkan aspek apa yangakan diungkap. Biasanya aspek belajar yang akan diungkap dengan non-tes berkenaan dengan ranah afektif dan psikomotor.
b. Menentukan instrumen yang akan digunakan sesuai dengan hal yang telah ditetapkan diatas.
c. Menentukan definisi atau bahasan tentang aspek yang akan di unkap. Hal ini biasanya berdasarkan atas teori tertentu. Misalnyakita akan mengungkap keterlibatan siswa dalam diskusi.
Rumuskan apa yang dimaksud dengan keterlibatan itu. misalnya menurut pendapat Nana Syaodih (2005 ) keterlibatan siswa dalam berdiskusi mencakup kemampuan siswa dalam mengikuti diskusi, yang mencakup: keaslian dalam mengungkapkan ide atau gagasan siswadan keikutsertaan dalam menyanggah pendapat orang lain. Maka yang akan dinilai hanya hal itu saja, bukan yang lain.
d. Menentukan format instrumen. Misalnya kita akan mengungkap keterlibatan siswa dalam berdiskusi dengan menggunakan observasi.
Maka format instrument yang digunakan adalah uraian bebas(essay), skala penilaian (rating skill), pilihan ganda atau daftar cek,atau yang lainnya. Hal yang akan lebih dijelaskan dalam hal ini adalah berkenaandengan skala. Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minatatau perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilaioleh responden yang hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang digunakan.
Ada dua jenis skala yang sering digunakan, yaitu:
1) Skala sikap
Sikap dapat diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap stimulusyang datang pada dirinya. Jadi skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupakatagori sikap, yaitu mendukung, menolak atau netral.
2) Skala penilaian
Skala penilaian mengukur perilaku siswa melaluipernyatan perilaku pada suatu titik kontinum atau suatu katagori yang bermakna nilai.
e. Mengembangkan kisi-kisi.
f. Menulis pernyataan yang sesuai dengan kisi-kisi. Lakukan penulisanatau pembuatan pernyataan.
g. Analisis rasional terhadap pernyataan yang telah dirumuskan. Bisa dilakukan oleh sendiri atau orang lain yang memiliki keahlian dalam bidang tersebut.
C. Jenis-jenis evaluasi non-tes
1. Evaluasi dengan portofolio
a. Pengertian dan fungsi portofolio
Portofolio atau ( portfolio) sudah banyak digunakan oleh para guru maupun para pengguna lain, misalnya arsitek, artis, tim penilai akreditasi, dan sebagainya. Portofolio dapat digunakan untuk menggambarkan mutu kinerja mereka atau siswa ya ng ingin di evaluasi. Dibidang pendidikan portofolio juga banyak digunakan untuk tujuan pengumpulan data kinerja siswa. Secara definitif, fortofolio menurut Johnson dan Johnson (2002) dapat diartikan sebagai pengumpulan data secara terorganisasi yang dilakukan dalam periode waktu tertentu atas siswa atau perkembangan program kelompok mahasiswa, pencapaian keterampilan atau sikap.
Portofolio dapat berupa sekumpulan file yang terdiri atas topik pilihan tugas atau pekerjaan yang telah dan akan diselesaikan siswa dalam satu semester, satu tahun atau sejak masuk sampai selesai menjadi siswa atau mahasiswa, tergantung tujuan penggunaan portofolio tersebut. Alat ini juga dapat menggambarkan kinerja siswa dalam satu atau beberapa mat peajaran atau bahkan semua mata pelajaran yang telah dicapainya. Dilihat dari siapa sasarannya, portofolio dapat bervariasi misalnya untuk satu orang siswa maupun satu group siswa untuk satu orang portofolio. Di samping itu, portofolio dapat juga disimpian dalam map guru, dalam note book, kotak atau dalam CD. Apa isi fortofolio? Pada prinsipnya, portofolio juga dapat berisi bermacam-macam informasi, misalnya untuk keperluan menyimpan data sekolah, maka dapat berisi semua mata pelajaran, atau bahkan semua nilai rapor siswa selama belajar disekolah tersebut.
Mengapa portofolio sampai sekarang masih banyak digunakan, diantara jawabannya dapat dilihat sebagai berikut :
1) Portofolio dapat memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengarahkan potensi belajar mereka sesuai dengan kemampuan
2) Menentukan tingkat pencapaian hasil belajar
3) Mengetahui perkembangan usaha belajar siswa
4) Portofolio dapat digunakan untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas kurikulum dan instruksional
Kegunaan portofolio sebenarnya masih banyak sekali sehingga para guru atau para administrator dapat mengembangkannya sesuai dengan bidang keahlian dan tujuan mereka.
b. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan portofolio
Untuk menilai proses dan hasil belajar matematika siswa dengan menggunakan portofolio diperlukan kemauan dan kerja keras guru, motivasi siswa, dan dukungan social. Portofolio yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan penilaian belajar siswa secara menyeluruh terhadap kemajuan-kemajuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa selama dalam proses pembelajaran di sekolah memiliki kekurangan-kekurangan sebagai hambatan yang mungkin ditemui dalam penerapannya.
Pkan Dengan portofolio, semua isinya akan dinilai. Siswa diharapkan akan memberikan perhatian yang tinggi pula kepada bagian –bagian yan tidak diujikan atau tidak masuk dalam tes. Jika guru ingin agar siswanya suka melakukan penyelidikan atau melakukan eksplorasi, tida sekedar menghafal, dan siswanya tidk mudah melupakan materi tertentu, maka penggunaan portofolio penilaian merupkan jalan yang cocok untuk maksud itu.
Belajar merupakan proses yang panjang. Untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang sesuatu, siswa memerlukan banyak penglaman ( banyak membaca, merenungkan, banya komunikasi, memecahkan banyak masalah, dan sebagainya). Portofolio yang berisi tentang koleksi produk siswa, dan laporan proses yang dilalui siswa, yang meliputi rentang waktu yang panjang, dapat memberikan gambaran yang relative lengkap tentang perkembangan dan kompetensi siswa yang bersangkutan.
1) Kelebihan penggunaan portofolio
Penggunaan portofolio untuk penilaian juga bermanfaat, karena hal-hal berikut:
a) Portofolo menyajikan atau membrikan “bukti” yang lebih jelas atau lebih lengkap tentang kinerja siswa daripada hasil tes di kelas.
b) Portofolio dapat merupakan catatan penilaian yang sesuai dengan program pembelajaran yang baik.
c) Portofolio merupakn catatan jangka panjang tentang kemajuan siswa
d) Portofolio memberikan gambaran tentang kemampuan siswa.
e) Penggunaan portofolio penilaian memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan keunggulna dirinya, bukan kekurangan atau kesalahannya dalam mengerjakan soal atau tugas.
f) Penggunaan portofolio penilaian mencerminkan pengakuan atas bervariasinya gaya belajar siswa.
g) Portofolio memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam penilaian hasil belajar.
h) Portofolio membantu guru dalam menilai kemajuan siswa.
i) Portofolio membantu guru dalam mengambil keputusan tentang pembelajaran atau perbaikan pembelajaran.
j) Portofolio merupakan bahan ang relative lengkap untuk berdiskusi dengan orang tua siswa, tentang perkembangan siswa yang bersangkutan.
k) Portofolio membantu pihak luar untuk menilai program pembelajaran yang bersangkutan.
2) Kekurangan/ kelemahan penggunaan portofolio
Penggunaan portofolio juga memiliki kelemahan atau kesulitan antara lain:
a) Penggunaan portofolio tergantung pada kemampuan siswa dalam menyampaikan uraian secara tertulis. Selama siswa belum lancar berbahasa tulis, penggunaan portofolio akan merupakan beban tambahan yang memberatkan sebagian besar siswa.
b) Penggunaan portofolio untuk penilaian memerlukan banyak waktu dari guru untuk melakukan penskoran; apalagi kalau kelasnya besar.
Oleh karena itu, portofolio yang ditugaskan untuk dibuat perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa berbahasa tulis Indonesia dan waktu yang tersedia bagi guru untuk melakukan penskoran; apalagi kalau kelasnya besar.
Oleh karena itu, portofolio yang ditugaskan untuk dibuat perlu disesuaikan dengan kemampuan siswa berbahasa tulis Indonesia dan waktu yang tersedia bagi guru untuk membacanya.

2. Sosiometri
Banyak ditemukan di lingkungan sekolah siswa yang kurang mempu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia nampak murung,mengasingkan diri, mudah tersinggung bahkan over acting. Kondisi ini perlu diketahui oleh guru dan mencari upaya untuk memperbaikinya, karena hal ini dapat menggangu proses belajarnya. Salah satu caranya yaitu dengan menggunakan dengan teknik sosiometri. Dengan teknik inidapat diketahui posisi siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswalainnya. Misalnya siswa yang terisolasi dari kelompoknya atau yang paling disukai oleh teman-temannya.Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menyuruh siswa dikelas untuk memilih satu atau doa orang teman yang paling disukai ataupunyang kurang disukainya. Dengan cara tersebut maka dapat diketahui siswa mana saja yang menghadapi kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, kemudian diberi bantuan
Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Sehnggga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas, yang meliputi stuktur hubungan individu, susunan antar individu dan arah ubungan sosial. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan social dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas.
Langkah yang ditempuh guru dalam sosiometri ada 3 yaitu:
a. Langkah pemilihan teman
Disini guru menyuruh semua murid untuk memilih teman-temannya yang disenangi secara berurutan sebanyak satu atau dua anak. Dalam memilih anak perlu disebutkan alasan mengapa harus memilih teman itu.
Contoh:
Nama : Tono
Kelas : IIIA
Teman yang saya pilih:
1) Candra Karena aktif belajar dan pandai
2) Sumarsono Karena tegas dalam berbicara
3) Nunung Karena penurut
b. Langkah pertabelan
Guru membuat tabel dalam materi tes sosiomentri dari data yang telah diperoleh dalam langkah pemilihan teman.
Misalnya setiap anak memiliki 2 dari 6 orang
Dipilih
Pemilih

Andi
Ani
Ana
Susi
Sandi
Anto
Andi



1

1


Ani


1

1 Ana



2

2
1 Susi


2




1 Sandi




2


2 Anto






2
Pilihan I 2 2 1 1 - -
Pilihan II - - 2 1 2 1
Jumlah 2 2 3 2 2 1
c. Langkah Pembuatan Gambar (Sosiogram)
Dari data yang telah kita buat dalam metrik sosiometri, dapat pula kita buat sebuah peta atau sosiogram. Dalam pembuatan sosiogram usahakan anak yang paling banyak dipilih diletakkan ditengah-tengah, agar dapat mudah diketahui siapa yang paling banyak dipilih.
Dengan melihat hasil sosiometri kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan dan relasi sosial dari masing-masing anak dalam kelompok. Sehingga hasil dari sosiogram ini dapat dibuat pertimbangan untuk menilai sikap sosial anak dan kepribadiannya dalam kelompok.
Sosiometri sebagai alat penilaian nontes sangat berguna bagi guru dalam beberapa hal, antara lain:
• Untuk pembentukan kelompok dalam menentukan kelompok kerja (pembagian tugas)
• Untuk pengarahan dinamika kelompok
• Untuk memperbaiki hubungan individu dalam kelompok dan memberi bimbingan kepada setiap anak.
3. Riwayat Hidup
Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagaibahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.
Adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik nontes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi).
Selain itu juga dokumen yang memuat informasi tentang orang tua peserta didik, seperti: nama, tempat tingga;, tempat dan tanggal lahir, agama yang dianut, pekerjaan pokoknya, tingkat atau jenjang pendidikannya, rata-rata penghasilannya setiap bulan dan sebagainya.
4. Skala bertingkat (Rating Scale)
Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain.
Contoh: adalah skor atau biji yang diiberikan oleh guru di sekolah untuk mnggambarkan tingkat prestasi belajar siswa. Yang mendapat skor 8, digambarkan ditempat yang lebih kanan dalam skala. Dibandingkan penggambaran skor 5.4 5 6 7 8. Biasanya angka-angka yang digunakan diterangkan pada skala dengan jarak yang sama. Meletakkannya secara bertingkat dari yang rendah ke yang tinggi dengan demikian maka skalaini dinamakan skala bertingkat.


Skala menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap sesuatu hasil pertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan : ”Rating gives a numerical value to some kind of judgement’’, maka suatu skala selalu disajikan dalam bentuk angka.
Ranting scale tidak hanya untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status ekonomi, pengetahuan dan kemampuan. Yang paling penting dalam ranting scale adalah kemampuan menerjemahkan alternative jawaban yang dipilih responden.
Dalam ranting scale fenomena-fenomena yang akan diobservasi itu disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan. Jadi, ranting scale tidak hanya mengukur secara mutlak ada atau tidaknya variable tertentu, tetapi kita lebih jauh mengukur bagaimana intensitas gejala yang kita ingin mengukurnya.
Contoh tabel dalam rangka menilai sikap peserta didik dalam mengikuti pengajaran pendidikan agama islam di sekolah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak hanya dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor.
Dengan Teknik Non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa “menguji” peserta didik, melainkan dilakukan dengan melakukan beberapa jenis teknik non tes. Teknik non tes ini pada umumnya memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik daris segi ranah sikap hidup (effective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitive domain).
Tehnik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan, baik secara individu maupun secara kelompok. Adapun jenis-jenis tehnik penilaian non-tes, diantaranya yaitu portofolio, sosiometri, riwayat hidup, dan skala beringkat.

B. Saran
Penyusunan makalah ini jauh dari sempurna walaupun telah dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan ketelitian. Mengingat keterbatasan penulisan serta sifat manusia yang fitrahnya lupa dan salah, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya keritikan dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan demi kemajuan bersama
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger