Berita Terkini :
Home » » PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN ( RESUME PTK II )

PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN ( RESUME PTK II )

Kamis, 28 Juni 2012 | 0 komentar


PENETAPAN FOKUS MASALAH PENELITIAN

Merasakan adanya masalah

Pertanyaan yang mungkin timbul bagi pemula PTK adalah bagaimana memulai penelitian tindakan kelas ? untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut, pertama – tama dan harus dimiliki guru adalah perasaan ketidakpuasan terhadap praktek pembelajaran yang selama ini dilakukannya. Manakala guru merasa puas terhadapa apa yang dulakukan dalam proses pembelajaran di kelasnya, meskipun sebenarnya terdapat banyak hambatan yang dialami dalam pengelolaan proses pembelajaran sulit kiranya bagi guru untuk memunculkan pertanyaan seperti diatas yang kemudian dapat memicu untuk dimulainya sebuah PTK.
Oleh sebab itu agar guru dapat menerapkan PTK dalam upayanya untuk memperbaiki dan/atau meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih professional, siswa dituntut keberaniannya untuk mengatakan secara jujur khususnya kepada dirinya sendiri mengenai sisi – sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi  program pembelajaran yang dikelolanya . dengan kata lain guru garus mamapu merefleksi, merenung, serta berpikir balik, mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasi sisi –sisi lemah yang mungkin ada. Dalam proses perenungan ini terbuka peluang bagi guru untuk menemukan kelemahan – kelemahan praktek pembelajaran yang selama ini selalu dilakukan secara tanpa disadari. Oleh karena itu untuk memanfaatkan secra maksimala potensi PTK bagi perbaikan proses pembelajaran, guru perlu memulainya sedini mungkin merasakan adanya persoalan – persoalan dalam proses pembelajaran.
DEngan kata lain permasalahan yang diangkat dalam PTK harus benar – benar merupakan masalah – masalah yang dihayati oleh guru dalam praktek pembelajaran yang dikelolanya, bukan permasalahan yang disarankan apalagi ditentukan oleh pihak luar termasuk oleh dosen LPTK yang menjadi mitranya. Permasalahan tersebut dapat berangkat bersumber dari siswa, guru, bahan ajar, kurikulum, interaksi pembelajaran, dan hasil belajar siswa.


  1. Identifikasi Masalah PTK
Sebagaimana telah dikemukakan penetapan arah PTK berangkat dari diagnosis terhadap keadaan yang bersifat umum. Guru juga bisa merinci proses penemuan permasalahan tersebut dengan bertolak dari gagasan – gagasan yang masih bersifat umum mengenai keadaan yang perlu diperbaiki. Menurut Hopkins (1993), untuk mendorong pikiran – pikiran dalam mengembangkan focus PTK, kita bisa bertanya kepada diri sendiri, misalnya :
-          Apa yang sedang terjadi sekarang ?
-          Apakah yang terjadi itu mengandung permasalahn ?
-          Apa yang bisa saya lakukan untuk mengatasinya ?
Bila pertanyaan tersebut telah ada dalam pikiran guru sebagai actor PTK, maka langkah dapat dilanjutkan dengan mengembangkan beberapa pertanyaan sepeerti dibawah ini :
-          Saya berkeinginan memperbaiki …………………
-          Beberapa orangkah yang merasa kurang puas tentang
-          Saya dibingungkan oleh…………………………..
-          Saya memilih untuk menguji cobakan di kelas gagasan tentang;
-          Dan seterusnya.
Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan – gagasan yang awal mengenai permasalahan actual yang dialami guru di kelas. Dengan berangkat dari gagasan – gagasan awal tersebut guru dapat berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan dengan menggunakan PTK.

Jika mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi permasalahan, guru dapt meminta bantuan pada rekan seasama guru, berdiskusi dengan mitranya (dosen LPTK) dan/atau melacak sumber – sumber kepustakan yang relevan . Namun para koleganya itu perlu memaklumi bahwa da kemungkinan guru yang bersangkutan akan lebih terfokus pada kesulitannya daripada kepada tujuan dan perubahan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Bila menghadapi hal seperti ini guru perlu diajak mendalami lebih jauh permasalahn yang dihadapi. Mitra dari LPTK harus siap menjadi pendengar yang lebih baik dan terbuka agar semua permasalahan yang dihadapi guru di dalm tugasnya dapat diidentifikasi. Sebaliknya mitra dari LPTK itu harus berupaya keras. Agar tidak terperosok dan menempatkan diri sebagai Pembina atau pengarah. Sebab ia juga ada posisi membutuhkan kesempatan belajar baik dalam memahirkan diri dalam PTK maupun dalam mengakrabi lapangan.

  1. Analisis Masalah
Setelah memperoleh sederet permasalahan melaui proses identifikasi ini, maka peneliti guru kelas sendirian atau dengan bermitra dengan dosen LPTK melakukan analisis terhadap permasalahan – permasalahn tersebut untuk menentukan urgensi pengatasan. Dalam hubungan ini akan terkemukakan permasalahan yang sangat mendesak untuk diatasi seperti misalnya penguiasaan operasi matematik, atau yng dapat ditunda pengatasannya tanpa kerugian yang besar, seperti jmisalnya kemampuan membaca peta buta. Abahkan memang ada permasalahn yang tidak dapat diatasi denga PTK, seperti misalnya kesalahan – kesalahan factual dn/atau konseptual yangterdapt dalam buku paket. Menurut Aimanyu (1995) arahan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan permasalahan untuk PTK adalah sebagai berikut :
1)      Pilih permasalahan yang dirasa penting oleh guru sendiri dan muridnya, aatu topic yang melibatkan guru dalam serangkaian aktivitas yang memang diprogramkan oleh sekolah
2)      Jangan memilih masalah yang beradsa di luar kemampuan dan/atau kekuasaan guru untuk mengatasinya.
3)      Pilih dan tetapkan permasalahn yang skalanya cukup kecil dan terbatas (manageable)
4)      Usahakan untuk bekerja secara kolaboratif dalam pengembangan focus penelitian.
5)      Kaitkan PTK yang akan dilakukan denga prioritas – prioritas yang ditetapkan dalam rencana pengembangan sekolah.

Tidak perlu ditekankan lebih kuat lagi bahwa analisis masalah perlu dilakukan secara cermat, sebabb keberhasilan pada tahap analisis masalah akan menentukan keberhasilan keseluruhan proses pelaksanaan PTK. Jika PTK berhasil dilaksanakan dengan membawa kemanfaatan yang dapat dirasakan oleh guru dan sekolah (intrinsically rewarding). Maka keberhasilan ini akan menjadi motivasi bagi guru untuk meneruskan uasahanya di masa – masa yang akan datang. Disamping itu temuan – temuan yang dihasilkan melalui PTK itu akan menarik bagi guru lain yang belum mengikuti program PTK untuk juga  mencoba melaksanakannya.

  1. Perumusan Masalah
Setelah menetapkan focus permasalahan serta menganalisanya menjadi bagian – bagian dan lebih kecil, maka selanjutnya guru perlu merumuskan permasalahan secara lebih jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah dan jelas akan membuika peluang bagi guru untuk menetapkan tindakan alternatif solusi) yang perlu dilakukannya jenis data yang perlu dikumpulkan termasuk prosedur perekamannya serta cara menginterpretasikannya, khususnya yang perlu dilakukan sementara tindakan perbaikan dilaksanakan dan data mengenai proses dan/atau hasilnya itu direkam. Disamping itu, penetapan tindakan perbaikan yang akan dicobakan itu juga memberikan arahan kepada guru untuk melakukan berbagai persiapan termasuk yang berbentuk latihan guru meningkatkan keterampilan untuk melakukan tindakan perbaikan yang dimaksud. Sebagaimana telah dikemukakkan di atas, dalam PTK guru merupakan actor pelaksana tindakan perbaikan di samping sebagai peneliti

  1. Perencanaan Tindakan
  1. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan.
Dilihat dari sudut lain, alternative tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan  mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatuntindakan dilakukan. Misalnya jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan, perbendaharaan kata akan meningkat dengan rata – rata 10 % setiap bulannya. Dari contoh ini, hipotesis tindakan merupakan tindakan yang diduga akan dapat memecahkkan masalah yang ingin diatasi dengan penyelenggaraan PTK.
Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesisa formal. Jika hipotesis penelitian formal menyatakan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih atau menyatakan adanya perbedaan antara dua kelompok atau lebih, maka hipotesis tindakan tidak mengatakan demikian, tetapi mengatakan per4caya tindakan kita akan merupakan suatu solusi yang dapat memecahkan permasalahan yang diteliti sebagai contoh lain, peloibatab orabg tua dalam perencanaan kegiatan akademik sekolah akan berdampak menungkatkan perhatian mereka terhadap penyelesaian tugas siswa di rumah. Agar dapt menyusun hipotesis tindakan dengan tepat, sebagai peneliti guru dapat melakukan :
1)      Kajian teoretik di bidang pembelajaran pendidikan
2)      Kajian hasil – hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan
3)      Diskusi dengan rekan – rekan sejawat, pakar pendidikan, peneliti lain, dan sebagainya.
4)      Kajian pendapat dan saran pakar pendidsikan khususnya yang dituangkan dalam bentuk program, dan
5)      Mereflesikan pengalamannya sendiri sebagai guru

Dari hasil kajian tersebut dapat diperoleh landasan untuk membangun hipotesis tindakan. Menurut Soedarsono (1997) beberapa, hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :
1)      Rumusan alternative tindakan perbaikn berdasarkan hasil kajian. Dengan kata lain, alternative tindakan perbaikan hendaknya mempunyai landasan yang mantap secara konseptual.
2)      Setiap alternative tindakanb perbaikan yang dipertimbangkan perlu dikaji ulang dan dievaluasi dari segi relevansinya. Disamping itu juga perlu ditetapkan cara penilaiannya sehingga dapat menfasilitasi pengumpulan serta analisis data secara cepat namun tepat selama program tindakan perbaikan itu diimplementasikan.
3)      Pilih alternative tindakan serta prosedur implementasi yang dinilai paling menjanjikan hasil optimal namun masih tetap ada dalam jangkauan kemampuan guru untuk melakukannya dalam kondisi dan situasi sekolah yang actual.
4)      Pikiran dengan seksama perubahan – perubahan ( perbaikan – perbaiakn) yang secara implicit dan dijanjikan melalui hipotesis tindakan itu, baik yang berupa proses dan hasil belajar siswa maupun tehnik mengajar guru.

  1. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan
Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan maka selanjutnya perlu dilakukan masing – masing hipotesis tindakan itu dari segi jarak yang terdapat antara situasi riil dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. Sebab jika terdapat jarak yang terlalau sulit untuk mengupayakan perwujudannya, maka tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal. Oleh karena itu kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK, harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas – batas baik kemampuan guru senada dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata – rata siswa untuk mencernakannya. Dengan kata lain, sebagai actor PTK guru hendaknya cukup realistic dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah dimana is berada dan melalksanakan tugasnya.
Hipotesis tindakan harus dapai diuji secara empiric. Ini berarti bahwa baik proses implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat teramati oleh guru yang merupakan actor PTK maupun mitra kerjanya. Sebagian dari gejala – gejala yang dapat diamati itu dapat diberikan secara kualitatif. Namun yang paling penting gejala – gejala tersebut harus dapat divertifikasi oleh pengamat lain, apabila diperlukan.
Pada gilirannya, untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu.Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :
1)      Implementasi suatu PTK akan berhasil, hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Di pihak lain, sebagaiman telah dikemukakan untuk pelaksanaan PTK kadang – kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Selanjutnya selain persyaratan kemampuan, keberhasilan pelaksanaan ptk juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan financial.
2)      Kemampuan siswa juga perlu diperjhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.
3)      Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas atau sekolah juga perlu diperhitungkan sebab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh kartena itu demi keberhasilan PTK maka guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang ditentukan.
4)      Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan  sebagai kecenderungan untuk mempertahankan  status kuno. Dengan kata lain perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memsng justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK.
5)      Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasai, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4) Iklim kerja sekolah juga menentkan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain dukungan dari kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK.
      Selain itu semua tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan  konsekuensi alas an dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Demikian pula kemungkinann timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Aats dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan.
Langkah-Langkah Merumuskan Masalah Penelitian Tindakan Kelas
  1. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah
Dalam konteksnya dengan langkah pertama ini,yakni mengidentifikasi dan merumuskan masalah, lebih dahulu disajikan uraian tantang ruang lingkup masalah dalam penelitian tindakan kelas. Ini penting agar dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah menjadi lebih focus pada objek penelitian yang akan diteliti.
·         Ruang lingkup masalah
Penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengubah perilaku penelitiannya yaitu guru, perilaku orang ain yaitu siswa, atau mengubah kerangka kerja yaitu kegiatan pembelajaran yang pada gilirannya menghasilkan perubahan dan peningkatan kualitas keseluruhan aspek tersebut.Singkatnya ,penelitian tindakan kelas dilakukan untuk meningkatkan kualitas keseluruhan praktik pembelajaran dalamsituasi nyata.
·         Identifikasi masalah
Masalah yang diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh guru sendiri sebagai peneliti, meskipun dapat juga dilakukan dengan bantuan fasilitator, supaya merasa betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya terdapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam penerapan model pembelajaran , penggunaan metode ,penggunaan alat peraga, rendahnya keaktifan siswa dalam pembelajaran, kreaktifan siswa dalam pembelajaran, kreativitas belajar siswa, dan sebagainya. Pendek kata, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan  keadaan yang diinginkan.
·         Perumusan masalah
Masalah-masalah dalam penelitian tindakan kelas hendaknya dideskripsikan dengan jelas agar perumusan masalahnya dapat dibuat secara jelas pula. Pada intinya, rumusan masalah harus mengandung deskripsi secara jelas tentang kesenjangan antara kenyataan yang ada dengan keadaam yang diinginkan.
  1. Menganalisis masalah
Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui dimensi-dimensi penting yang ada dalam masalah itu dan untuk memberikan penekanan secara lebih jelas. Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, tergantung kepada tingkat kesulitan yang diyunjukkan dalam perumusan masalah. Di antara analisis masalah yang dapat dilakukan  adalah analisis sebab-akibat kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat, kajian terhadap data penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk mengklarifikasikan persoalan atau mengubah cara pandang individu yang terlibat dalam penelitian tantang masalahnya.kegiatan analisis masalah ini dapat dilakukan melalui diskusi dengan tema sejawat, dengan fasilitator peneliti dari perguruan tinggi kependidikan,dan juga kajian pustaka yang relevan.
  1. Merumuskan hipotesis tindakan kelas
Dalam penelitian tindakan kelas, rumusan hipotesisnya bukan hipotesis tentang perbedaan atau hubungan antar variable, melainkan hipotesis tindakan. Rumusan hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan.
  1. Merumuskan rencana tindakan
Dalam merumuskan rencana tindakan hendaknya memuat rencana informasi sebagai berikut :
a)      Apa yang perlu dilakukan untuk menentukan kemungkinan terpecahnya masalah yang telah dirumuskan.
b)      Alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan data.
c)      Rencana perekaman atau pencatatan data dan pengolahannya.
d)     Rencana untuk melaksanakantindakan dan mengevaluasi hasilnya.
  1. Melaksanakan tindakan
Pelaksanaan tindakan yang direncanakan hendaknya bersifat fleksibel untuk mencapai perbaikan yan diinginkan. Pada saat tindakan dilaksanakan inilah pengumpulan data dilakukan. Data yang dikumpulkan mencakup semua yang dilakukan, pengaruh tindakan terhadap peserta penelitian, pola interaksi yang terjadi, dan proses yang berlangsung.
  1. Menganalisis dan memaknai data
Isi semua catatan atau rekaman data hendaknya dicermati untuk dijadikan landasan melakukan refleksi. Di sini peneliti harus membandingkan berbagai isi catatan atau rekaman agar dapat menentukan suatu temuan yang relative valid dan reliable. Dengan perbandingan ini, unsure kesubjektifan dapat dikurangi. Penggolongan dapat dilakukan juga untuk dapat menyimpulkan dan memberikan pemaknaan data.
Data yang diperoleh melalui tes akan sangat membantu untuk menentukan adanya perbaikan yang diinginkan. Semua yang terjadi, baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan perlu dianalisis untuk menentukan apakah ada perubahan kea rah perbaikan atau penimgkatan kualitas di segala aspek praktik dalam situasi yang terkait dengan kegiatan pembelajaran. Hasil data dapat disajikan secara kualitatif deskriptif.
  1. Membuat laporan hasil
Hasil analisis data dilanjutkan dengan penyusunan laporan. Laporan hendaknya mencakup ulasan lengkap tentang pelaksanaan tindakan sesuai dengan yang telah direncanakan, pelaksanaan pemantauannya, dan perubahan atau peningkatan kualitas yang terjadi sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger