Berita Terkini :
Home » » Alat Evaluasi Tes

Alat Evaluasi Tes

Selasa, 24 Januari 2012 | 0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
A. Teknik Tes
Merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Adanya perbedaan individual itu sudah barang tentu akan ikut serta dalam menentukan berhasil atau tidaknya individu tersebut, sehingga akan berakibat pula pada prestasi kerja maupun belajarnya. Senada dengan itu, maka perlu diciptakan alat untuk mendiagnosis atau mengukur keadaan individu, dan alat pengukur itulah yang lazim disebut tes.
1. Pengertian tes
Menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya yang berjudul Psychological Testing, yang dimaksud dengan tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.
Adapun menurut Lee J. Cronbach dalam bukunya yang berjudul Essential Of Psychological Testing, tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan tingkah laku dua orang atau lebih. Sedangkan menurut F.L. Goodnough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu, dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka antara yang satu dengan yang lainnya.
Jadi, tes dalam dunia pendidikan merupakan cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh peserta tes (testee), sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau perilaku testee.
2. Fungsi tes
Secara umum ada dua fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu : (a) sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini, tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dimiliki oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. (b) sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.
3. Penggolongan tes
Sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan.
a. Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik.
1) Tes seleksi. Sering dikenal dengan istilah ujian saring atau ujian masuk. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian calon yang mengikuti tes.
2) Tes awal. Sering dikenal dengan istilah pre-tes. Dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik. Jadi, tes awal merupakan tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik.
3) Tes akhir. Sering dikenal dengan post-tes. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolomg penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik.
4) Tes diagnotik. Merupakan tes yang digunakan untuk menentukan secara tepat, jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu.
5) Tes formatif. Merupakan tes hasil belajar yang digunakan untuk mengetahui sejauh manakah peserta didik telah terbentuk.
6) Tes sumatif. Merupakan tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan.
b. Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap.
1) Tes intelegensi. Yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
2) Tes kemampuan. Yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh siswa.
3) Tes sikap. Yaitu salah satu jenis tes yang digunakan untuk predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitarnya.
4) Tes kepribadian. Yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari sseseorang yang banya sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, berpakaian, dan sebagainya.
5) Tes hasil belajar/tes pencapaian. Yaitu tes yang biasa di gunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi siswa.
c. Penggolongan lain-lain.
Dilihat dari banyaknya orang yang mengikuti tes :
1) Tes individual, yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu testee.
2) Tes kelompok, yakni tes dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu testee.
Dilihat dari segi banyaknya waktu yang di sediakan bagi peserta tes :
1) Power test, yakni tes dimana waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes tidak dibataasi.
2) Speed test, yakni tes dimana waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes dibataasi.
Dilihat dari segi bentuk responnya :
1) Verbal test, yakni suatu tes yang menghendaki respon yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun tulisan.
2) Nonverbal test, yakni tes yang menghendaki respon dari testee bukan bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku.
Dilihat dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawabannya :
1) Tes tertulis, yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butiran-butiran pertanyaan dilakukan secara tertulis dan testee juga memberikan jawaban secara tertulis pula.
2) Tes lisan, yakni tes dimana tester didalam mengajukan pertanyaan dilakukan secara lisa dan testee juga memberikan jawabannya secara lisan pula.
B. Teknik Pengujian Reliabilitas Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif
1. Pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dengan menggunakan pendekatan single test-single trial (single test-single trial method)
Dalam rangka menentukan reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dengan menggunakan pendekatan single test-single trial, maka penentuan reliabilitas tes tersebut dilakukan dengan jalan pengukuran terhadap suatu kelompok subyek, dimana pengukuran itu dilakukan dengan hanya menggunakan satu jenis alat pengukur, dan pengukuran tersebut hanya dilakukan satu kali saja. Dengan kata lain, single test-single trial merupakan pendekatan serba single atau pendekatan serba satu, yakni satu kelompok subyek, satu jenis alat pengukur, dan satu kali pengukuran.
Dengan menggunakan pendekatan single test-single trial, maka tinggi reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dapat diketahui dengan melihat besar kecilnya koefisien reliabilitas tes, yang dilambangkan dengan r11 atau rtt (koefisien reliabilitas tes secara total). Adapun cara untuk mencari atau menghitung r11 atau rtt itu, dapat digunakan lima jenis formula, yaitu : (1) Formula Spearman-Brown, (2) Formula Flanagan, (3) Formula Rulon (4) Formula Kuder-Richardson, (5) Formula C. Hoyt.
Meskipun kelima jenis formula tersebut sama-sama termasuk dalam kelompok pendekatan single test-single trial, namun kelimanya memiliki perbedaan tertentu, diantaranya :
Pertama, dengan menggunakan Formula Spearman-Brown, Formula Flanagan, dan Formula Rulon, maka penentuan reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dilakukan dengan jalan membelah dua tes, karena itu sering dikatakan bahwa ketiga jenis formula tersebut menggunakan teknik belah dua (split-half technique). Sedangkan Formula Kuder-Richardson dan Formula C. Hoyt, tidak menggunakan teknik belah dua.
Kedua, meskipun penggunaan Formula Spearman-Brown, Formula Flanagan, dan Formula Rulon sama-sama menggunakan teknik belah dua, namun sasaran yang dijadikan landasan untuk berpijak dalam penentuan reliabilitas tes hasil belajar tidak sama.
Ketiga, Formula Kuder-Richardson Dan Formula C. Hoyt sama-sama tidak menggunakan teknik belah dua, selain itu prinsip keduanya pun berbeda.
2. Pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dengan menggunakan pendekatan test-retest (single test-double trial method)
Adapun pada pendekatan single test-double trial atau pendekatan test-retest, yang juga sering dikenal dengan istilahpendekatan bentuk ulangan, maka penentuan reliabilitas tes hasill belajar dilakukan dengan ulangan. Dimana tester hanya menggunakan satu seri tes, tetapi percobaanya dilakukan sebanyak dua kali.
Apabila seorang staf pengajar ingin menguji reliabilitas tes dari tes hasil belajar yang disusunnya , maka pengujian reliabilitas itu dilakukan dengan jalan memberikan satu seri tes kepada sekelompok subyek dalam dua kesempatan yang berbeda. Misalnya, tes hasil belajar bidang studi pendidikan agama Islam diberikan kapada para siswa pada hari senin minggu pertama. Dua minggu kemudian para siswa tersebut kembali diuji ata diberikan tes, akan tetapi dengan memperhatikan syarat-syarat tertentu, yaitu :
Pertama, bahwa dalam jangka waktu antara penyelenggaraan tes pertama dengan penyelenggaraan tes kedua, guru sama sekali tidak boleh menyinggung atau memberikan semacam petunjuk mengenai tes pertama.
Kedua, testing dilaksanakan dalam situasi dan kondisi yang sama. Artinya, situasi dan kondisi pada saat tes kedua tidak jauh berbeda dengan tes pertama.
3. Pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dengan menggunakan pendekatan alternate form (double test-double trial method)
Berbeda dengan pendekatan test-retest, maka dalam rangka mengetahui apakah tes hasil belajar telah memiliki reliabilitas yang tinggi ataukaj belum, dipergunakan dua buah tes yang diberikan kepada sekelompok subyek tanpa adanya renggang waktu, dengan ketentuan bahwa kedua tes tersebut harus sejenis, dalam arti : sekalipun butir-butir itemnya tidak sama, namun hendaknya butir-butir item itu mengukur hal yang sama, baik dari segi isinya, proses mental yang diukur, derajat kesukaran maupun jumlah butir itemnya.
Penentuan reliabilitas tes dengan menggunakan pendekatan alternate form ini sering dikenal dengan istilah pendekatan bentuk paralel. Pendekatan jenis ketiga ini dipandang lebih baik dibandingkan dengan dua pendekatan sebelumnya, dengan alasan :
a. karena butir-butir item dibuat sejenis tapi tidak sama, maka tes hasil belajar yang akan diuji reliabilitasnya tersebut dapat terhindar dari kemungkinan timbulnya pengaruh yang datang dari testee, yaitu pengaruh latihan atau menghafal.
b. Karena kedua tes tersebut dilakukan dalam waktu yang bersamaan, maka dapat dihindarkan dari timbulnya perbedaa-perbedaan situasi dan kondisi yang diperkirakan akan dapat mempengaruhi penyelenggaraan tes, baik yang bersifat sosial maupun yang bersifat alami.
Namun, untuk membuat tes dengan bentuk yang sama (paralel), bukanlah perkara yang mudah. Hanya staf pengajar yang telah memiliki bekal pengalaman mengajar yang cukup lama dan memiliki skil atau kemampuan dalam meracik atau merancang tes sajalah yang dapat mewujudkannya.
tes hasil belajar adalah merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik, setelah mereka mengikuti prose pembelajaran.
Sebagai alat pengukur perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik, apabila ditinjau dari segi bentuk soalnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes hasil belajar bentuk uraian (selanjutnya disingkat dengan tes uraian) dan tes hasil belajar bentuk obyektif (selanjutnya disingkat dengan tes obyektif).
1. Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif (objective test)
a. Pengertian test objektif
Test objektif (objective test) yang juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (short answer test), tes “ya-tidak” (yes-no test) dan tes model baru (new type test) adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items) yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu (atau lebih) diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing items; atau dengan jalan menuliskan (mengisikan) jawabannya berupa kata-kata atau symbol-simbol tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan pada msing-masing bitur item yang bersangkutan.

b. Penggolongan tes objektif
1. Tes obyektif bentuk benar-salah (true-false test)
2. Tes obyektif bentuk menjodohkan (matching test)
3. Tes obyektif bentuk melengkapi (completion test)
4. Tes obyektif bentuk isian (fill in test)
5. Tes obyektif bentuk pilihan ganda (multiple choice item test)

2. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis sampaikan, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah pengertian dari tes obyektif dan pembagian tes obyektif?
2. Kekurangan dan kelebihan tes obyektif dan pembagiannya?
3. Tujuan
Dalam setiap kegiatan tentunya ada tujuan yang hendak dicapai oleh pelakunya, begitu pula dengan penulisan makalah ini penulis hendak mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui teknik-teknik yang tepat untuk memberikan pemeriksaan, penskoran dan penilaian.
2. Mampu membandingkan teknik-teknik yang ada dan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi perkembangan dunia pendidikan.
3. Mengetahui perbedaan, kelemahan dan kelebihan dari tiap teknik.
4. Mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum memperolah dan meberikan nilai.






BAB II
PEMBAHASAN
1. pengertian tes obyektif
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan darri tes bentuk essai (Arikunto, 2003:164)
Tes hasil belajar adalah merupakan salah satu jenis tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan atau kemajuan belajar peserta didik, setelah mereka mengikuti prose pembelajaran.
Sebagai alat pengukur perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik, apabila ditinjau dari segi bentuk soalnya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tes hasil belajar bentuk uraian (selanjutnya disingkat dengan tes uraian) dan tes hasil belajar bentuk obyektif (selanjutnya disingkat dengan tes obyektif).
Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif (objective test)
Test objektif (objective test) yang juga dikenal dengan istilah tes jawaban pendek (short answer test), tes “ya-tidak” (yes-no test) dan tes model baru (new type test) adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items) yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu (atau lebih) diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing items; atau dengan jalan menuliskan (mengisikan) jawabannya berupa kata-kata atau symbol-simbol tertentu pada tempat atau ruang yang telah disediakan pada msing-masing bitur item yang bersangkutan.
2. Kelebihan dan kekurangan tes obyektif
a. Kelebihan Test Objektif yaitu:
• Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangannya unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa.
• Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi.
• Pemeriksaanya dapat diserahkan orang lain.
• Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
• Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu.
• Reabilitynya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan tes Essay, karena penilainnya bersifat objektif.
• Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas.
• Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai. (Sukmadinata, 2005:187)
• Tes Objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
b. Kelemahan Test Objektif yaitu :
• Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelamahan yang lain.
• Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
• Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
• Kerjasama antarpeserta didik pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
• Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
• Memang test sampling yang diajukan kepada peserta didik- peserta didik cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya.
• Tidak biasa mengajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi.
• Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item test harus sebanyak jumlah pengikut test.
c. Cara mengatasi kelemahan
1) Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus menerus hingga betul-betul mahir.
2) Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan nomor satu dan dua.
3) Menggunakan norma/standar penilaian yang memperhitungkanfaktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif itu

3. Pembagian tes obyektif
Salah satu jenis tes hasil belajar, tes obyektif dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
1. Tes obyektif bentuk benar-salah (true-false test)

Tes obyektif bentuk true-false test sering dikenal dengan istilah tes obyektif bentuk benar-salah atau tes obyektif “ya-tidak” (yes-no test).
Tes obyektif bentuk true-false adalah sala satu bentuk tes obyektif dimana butir-butir soal yang diajukan dalam tes hasil belajar itu berupa pernyataan, pernyataan mana ada yang benar atau ada yang salah. Disini, tugas testee adalah membubuhkan tanda (simbol) tertentu atau mencoret huruf B jika menurut mereka pernyataan itu benar, atau membubuhkan tanda (simbol) tertentu atau mencoret huruf S jika menurut mereka pernyataan itu salah.
Jadi, tes obyektifbitu bentuknya adalah kalimat atau pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban: benar atau salah, dan testee diminta menentukan pendapatnya mengenai pernyataan tersebut dengan cara seperti yang ditentukan dalam petunjuk cara mengerjakan soal.
a. Kelebihan:
• Soal ini baik untuk hasil- hasil, dimana hanya ada dua alternative jawaban.
• Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca.
• Sejumlah soal relative dapat dijawab dalam tipe test secara berkala.
• Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b. Kelemahan:
• Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda.
• Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa peserta didik mengetahui dengan baik.
• Tidak ada informasi diagnostic dari jawaban yang salah.
• Memungkinkan dan mendorong peserta didik untuk menerka-nerka.
2. Tes obyektif bentuk menjodohkan (matching test)
Tes obyektif bentuk matching sering dikenal dengan istilah tes menjodohkan, tes mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan dan tes mempertimbangkan.
Tes obyektif bentuk matching merupakan salah satu bentuk obyektif dengan cirri-ciri sebagai berikut:
a. Tes terdiri dari satu seri jawaban
b. Tugas testee adalah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban yang telah tersedia, sehingga sesuai atau cocok atau merupakan pasangan dari pertanyaan.
Jadi, dalam tes obyektif bentuk matching ini, disediakan dua kelompok bahan dan testee harus mencari pasangan-pasangan yang sesuai antara yang terdapat pada kelompok pertama dengan yang terdapat pada kelompok kedua, sesuia dengan petunjuk yang diberikan dalam tes tersebut.
a. Kelebihan:
• Suatu bentuk yang efisien diberikan dimana sekelompok respon sama menyesuaikan dengan rangkaian isi soal.
• Waktu membaca dan merespon relative singkat.
• Mudah untuk dibuat.
• Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b. Kelemahan:
• Materi soal dibatasi oleh factor ingatan/ pengetahuan yang sederhana dan kurang dapat dipakai untuk mengukur penguasaan yang bersifat pengertian dan kemampuan membuat tafsiran.
• Sulit menyusun soal yang mengandung sejumlah respon yang homogen.
• Mudah terpengaruh dengan petunjuk yang tidak relevan.
3. Tes obyektif bentuk melengkapi (completion test)
Tes obyektif bentuk completion sering dikenal dengan istileh tes melengkapi atau menyemprnakan, yaitu salah satu jenis tes obyektif yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
a. Tes tersebut terdiri atas susunan kalimat yang bagian-bagiannya sudah dihilangkan (sudah dihapuskan)
b. Bagian-bagian yang dihilangkan itu diganti dengan titik-titik (….)
c. Titik-titik itu harus diisi atau dilengkapi atau disempurnakan oleh testee
Jadi sebenarnya tes obyektif bentuk completion ini mirip dengan tes obyektif bentuk fill iin. Letak perbedaannya ialah,bahwa pada tes obyektif bentuk fill in bahan yang diteskan itu merupakan satu kesatuan cerita, sedangkan pada tes obyektif bentuk completion tidak harus demikian. Dengan kata lain, pad tes obyektif bentuk completion ini, butir-butir soal tes dapat saja dibuat berlainan antara yang satu dengan yang lain.
a. Kelebihan:
• Sangat mudah dalam penyusunannya.
• Lebih menghemat tempat ( menghemat kertas ).
• Persyaratan komprehensif dapat dipenuhi oleh test model ini.
• Digunakan untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.
b. Kelemahan:
• Lebih cenderung mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.
• Butir- butir item dari test model ini kurang relevan untuk diajukan.
• Tester kurang berhati-hati dalam menyusun kalimat dalam soal.
4. Tes obyektif bentuk isian (fill in test)
Tes obyektif bentuk fill in (bentuk isian) ini biasanya berbentuk cerita atau karangan. Kata-kata penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya dikosongkan (tidak dinyatakan), sedangkan tugas testee adalah mengisi bagian-bagian yang yang telah dikosongkan itu.
a. Kelebihan:
• Mudah dalam perbuatan
• Kemungknan menebak jawaban sangat sulit
• Cocok untuk soal- soal hitungan
• Hasil- hasil pengetahuan dapat diukur secara luas
b. Kelemahan:
• Sulit menyusun kata- kata yang jawabannya hanya satu.
• Tidak cocok untuk mengukur hasil- hasil belajar yang komplek.
• Penilaian menjemukan da memerlukan waktu banyak.
5. Tes obyektif bentuk pilihan ganda (multiple choice item test)
Tes obyektif bentuk multiple choice item sering dikenal dengan istilah tes obyektif pilihan ganda, yaitu salah satu bentuk tes obyekif yang terdiri atas pertanyaan atau pernyataan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu (atau lebih) dari beberapa kemungkinan jawab yang telah disediakan pada tiap-tiap butir soal yang bersangkutan.
Tes obyektif bentuk multiple choice item terdiri atas dua bagian:
a. Item atau soal, yang dapat berbentuk pertanyaan dan dapat pula berbentuk pernyataan
b. Option atau alternatif, yaitu kemungkinan-kemungkinan jawab yang dapat dipilih oleh testee.
Option atau alternatif ini terdiri atas dua bagian, yaitu:
1) Satu jawaban betul, yang biasa disebut kunci jawaban
2) Beberapa pengecoh atau distraktor, yang jumlahnya berkisar antara dua sampai lima buah
Dalam perkembangannya, sampai saat ini obyektif bentuk multiple choice itemdapat dibedakan menjadi Sembilan model, yaitu:
1) Tes obyektif bentuk multiple choice item model melengkapi lima pilihan
Tes obyektif bentuk multiple choice item model melengkapi lima pilihan ini pada umumnya terdiri atas: kalimat pokok yang berupa pernyataan yang belum lengkap, diikuti oleh lima kemungkinan jawab (alternatif) yang dapat melengkapi perntaan tersebut. Tugas testee di sini adalah: memilih salah satu di antara lima kemungkinan jawab tersebut, yang menurut keyakinan testee adalah paling tepat (=merupakan jawaban yang paling benar)
Dengan demikian, Tes obyektif bentuk multiple choice item model melengkapi lima pilihan ini, hanya akan kita jumpai satu jawaban yang benar.
2) Tes obyektif bentuk multiple choice item model asosiasi dengan lima atau empat pilihan
Tes obyektif bentuk multiple choice item model asosiasi dengan lima atau empat pilihan ini terdiri dari lima atau empat judul/istilah/pengertian, yang diberi tanda huruf abjad didepannya, dan diikuti oleh beberapa pernyataan yang diberi nomor urut didepannya. Untuk tiap pernyataan tersebut testee diminta memilih salah satu judul/istilah/pengertian yang berhuruf abjad, yang menurut keyakinan testee adalah paling cocok (paling benar)
3) Tes obyektif bentuk multiple choice item model melengkapi berganda
Butir soal sejenis ini pada dasarnya sama dengan model melengkapi lima pilihan, yaitu terdiri atas satu kalimat pokok yang belum lengkap, diikuti dengan beberapa kemungkinan jawaban (bisa merupakan lima pernyataan dan bisa pula merupakan empat pernyataan). Perbedaannya adalah, bahwa pada butir soal jenis ini, kemungkinan jawaban betulnya bisa satu, dua, tiga atau empat.
4) Tes obyektif bentuk multiple choice item model analisis hubungan antar hal
Tes obyektif bentuk multiple choice item biasanya terdiri atas satu kalimat pernyataan yang diikuti oleh satu kalimat keterangan. Kepada testee ditanyakan, apakah pernyataan itu betul, danapakah keterangan itu juga betul. Jika pernyataan dan keterangan itu betul, testee harus memikirkan, apakah pernyataan itu disebabkan oleh keterangan yang diberikan, pernyataan itu tidak disebabkan oleh keterangan tersebut?
5) Tes obyektif bentuk multiple choice item model analisis kasus
Butir soal jenis ini merupakan tiruan keadaan yang sebanarnya. Jadi seolah-olah testee dihadapkan kepada suatu kasus. Dari kasus tersebut, kepada testee ditanyakan mengenai berbagai hal dan kunci jawaban-jawaban itu tergantung pada tahu atau tidaknya testee dalam memahami kasus tersebut
6) Tes obyektif bentuk multiple choice item model hal kecuali
Model “hal kecuali” ini dikembangkan atas dasar asosiasi positif dan asosiasi negative secara serempak
Jika model semacam ini digunakan dalam tes hasil belajar, maka pada kolom sebelah kiri dicantumkan tiga macam gejala atau katagori (yakni A, B dan C); sedangkan pada kolom sebelah kanan terdapat lima hal atau keadaan (yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5), dimana empat diantaranya cocok dengan satu hala yang berada di sebelah kiri
Jawaban yang dikehendaki oleh tester adalah agar testee menentukan hal berabjad mana yang dipandang cocok dengan empat keadaan yang bernomor dan keadaan yang tidak cocok dengan hal atau keadaan itu. Jadi, disini testee diminta untuk memberikan dua buah jawaban, yaitu 1 huruf abjad dan 1 nomor
7) Tes obyektif bentuk multiple choice item model hubungan dinamik
Tes obyektif bentuk multiple choice item model hubungan dinamik ini adalah salah satu jenis tes obyektif bentuk pilihan ganda, yang menuntut kepada testee untuk memiliki bekal pengertian atau pemahaman tentang perbandingan kuantitatif dalam hubungan dinamik
Dalam praktik model ini lebih sesuai diterapkan pada tes hasil belajar yang termasuk dalam kelompok mata pelajaran eksakta, seperti: fisika, kimia, biologi dan sebagainya
8) Tes obyektif bentuk multiple choice item model perbandingan kuantitatif
Pada model perbandingan kuantitaif ini, yang perlu ditanyakan pada testee adalah hafalan kuantitatif yang sifatnya fundamental dan di kemudian hari perlu hafal di luar kepala, di dalam profesinya, tanpa melihat buku, daftar atau model
9) Tes obyektif bentuk multiple choice item model pemakaian gambar/diagram/grafik/peta
Pada tes obyektif bentuk multiple choice item model pemakaian gambar/diagram/grafik/peta yang diberi tanda huruf abjad A, B, C, D dan sebagainya. Kepada testee ditanyakan tentang sifat/keadaan/hal-hal tertentu yang berhubungan dengan tanda-tanda tersebut.
a. Kelebihan:
• Hasil belajae yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur.
• Terstruktur dan petunjuknya jelas.
• Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik.
• Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban.
• Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya.
b. Kelemahan:
• Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama.
• Sulit menemukan pengacau.
• Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide.
• Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.













BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Adanya perbedaan individual itu sudah barang tentu akan ikut serta dalam menentukan berhasil atau tidaknya individu tersebut, sehingga akan berakibat pula pada prestasi kerja maupun belajarnya. Senada dengan itu, maka perlu diciptakan alat untuk mendiagnosis atau mengukur keadaan individu, dan alat pengukur itulah yang lazim disebut tes.
tes dalam dunia pendidikan merupakan cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh peserta tes (testee), sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau perilaku testee.

1. Tes obyektif bentuk benar-salah (true-false test)
2. Tes obyektif bentuk menjodohkan (matching test)
3. Tes obyektif bentuk melengkapi (completion test)
4. Tes obyektif bentuk isian (fill in test)
5. Tes obyektif bentuk pilihan ganda (multiple choice item test)
Salah satu jenis tes hasil belajar, tes obyektif dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
2. Saran
Dalam hal ini penulis mencoba memberikan saran dari uraian di atas :
1. Pendidik sebaiknya mengetahui berbagai macam teknik dalam pengolahan dan pengonversian hasil evaluasi dengan memanfaatkan metode tes obyektif
2. Pendidik mampu menangani peserta didiknya dalam proses pembelajaran
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger