Berita Terkini :
http://picasion.com/

𝗦𝗲𝗷𝘂𝘁𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗮

Wednesday, September 7, 2022 | 0 comments



Ini adalah sekelumit kisah tentang perjalanan memperjuangkan mimpi menjadi seorang awardee beasiswa. Perjalanan yang terasa amat melelahkan dan panjang. Tetapi, demi sebuah mimpi, dia harus mengorbankan apa yang bisa dikorbankan tanpa harus mengenal lelah dengan melibatkan sang Khaliq.

Sebelumnya, izinkan saya bercerita sedikit mengenai proses awal bagaimana proses dan tantangan mendapatkan beasiswa ini. Bang Rizal Rizal EnsyaMada adalah satu dari senior saya di Straya Language Institute yang diamanahi sebagai orang dibalik layar tentang keberadaan Sekolah Beasiswa Straya, dimana siswanya sejauh ini tersebar dari sabang sampai dengan merauke.

Dia lahir dan besar di Kabupaten Lombok Timur, dari seorang keluarga atau orang tua yang bisa di bilang “biasa-biasa aja” karena kedua orang tuanya nya sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan dasar sama sekali dan sudah dipastikan tentu tidak bisa membaca dan menulis. So, Bang Rizal bisa dibilang tidak memiliki riwayat maupun “dosis” privilege dalam keluarganya yang betul-betul educated person.

Alhasil, ini memacu semangatnya berani bermimpi dan berazzam untuk sekolah ke jenjang yang paling tinggi dengan beasiswa fully-funded (Beasiswa penuh) tentunya inshaAllah, dan masyaAllah………. Dari ia studi semenjak di bangku Sekolah Dasar sampai dengan S3 (Program Doktoral) dapat sepenuhnya menggunakan melalui kesempatan beasiswa. Tentu ini semua tidaklah mudah untuk diwujudkan. Oleh karena itu, berikut proses beliau meraih beasiswa S3 dengan filosofinya yang intinya jangan pernah lelah berbuat baik dan membantu sesama.



Sempat keterima di beberapa kampus Luar Negeri dengan skema beasiswa, namun karena Covid 19 melanda, jadi harus ketunda bahkan supervisornya yang akan jadi pembimbing nya pindah dan ada juga yg pensiun duluan.

Ironinya, di antara visa yang dia tunggu malah duluan keluar yang Taiwan. Hingga pada akhirnya, ia dapat berangkat Studi lanjut jenjang S3 ke Taiwan.

Perjuangan menjadi awardee di Negeri Formosa tersebut belum selesai sampai tahap final. Sebelumnya ada banyak sekali persiapan keberangkatan yang cukup menyita uang, waktu, tenaga dan kesabaran yang dilewatinya. Misalnya saja mulai dari mengurus legalisir ijazah, transkrip nilai, dokumen-dokumen persyaratan kampus lainnya seperti visa pelajar.

Untuk visa resident sendiri perlu mengurus notaris ijazah asli, terjemahan dan legalisir untuk perpanjangan visa nanti setiba di Taiwan. Secara umum tiket pesawat dibelikan dari ibu kota masing-masing negara. Jadi, kalau kita berasal dari kota lain, maka siap-siap saja dengan biaya transportasi mandiri. Belum lagi tes PCR sebelum keberangkatan. Karena aturan PCR sudah gak berlalu pergi 15 Agustus jadi gak perlu tes PCR sebelum terbang ke Luar Negeri.. Ini juga belum terhitung biaya untuk beli koper, pakaian dan barang-barang persiapan yang lain yang perlu dibawa selama di negara tujuan. Terakhir menyiapkan uang saku selama satu dua bulan sebelum beasiswa cair.

Setelah dinyatakan diterima oleh Supervisor di Universitas, bahagia tentu ada namun ada hal lain yang mesti dipikirkan seperti financial dalam memenuhi semua dokumen persyaratan di atas. Seperti contoh dalam mengurus visa pelajar di mana ini harus bolak-balik Surabaya, Jogja, Jakarta, dan Lombok.



Kurang lebih begitu kira-kira ringkasan rencana studinya, saya tahu betul prosesnya sangatlah panjang, dibutuhkan tekad dan mental yang kuat melewati tantangan tersebut. Kalau mau kilas balik ke belakang, perjuangannya meraih beasiswa ini malah lebih susah lagi. Tidak semudah membalik telapak tangan Ferguso!

Kita seperti mendaki pegunungan terjal yang bahkan tak tahu berapa lagi mencapai puncak. Mungkin awalnya terlihat mulus seperti yang nampak, kemudian ke belakangan lagi harus menerima kenyataan pahit ditolak berbagai beasiswa, belum penghabisan dan pengorbanan yang telah dilakukan. Memang di sini dibutuhkan strategi tepat, motivasi jangka panjang, mental kuat disertai sikap pantang menyerah. Seperti yang dibaratkan sebelumnya, perjuangan mendaki gunung yang terjal.

Namun terlepas dari semua strategi itu, strategi utama yang mesti dipenuhi adalah dengan menguasai bahasa inggris sebagai syarat utama daftar kampus maupun beasiswa. Meski kampus atau negara tujuan tak memakai bahasa inggris, tapi saat akan mempublikasikan thesis dan disertasi nanti pasti perlu menulis dalam bahasa inggris, termasuk ketika inisiatif mengikuti konferensi internasional.

Perjuangan mendapatkan beasiswa setelah sekian berjuang merupakan suatu anugerah yang mesti dirayakan mengingat latar belakangnya dimana berasal dari warga biasa-biasa aja. Perjuangannya mendapatkan beasiswa S3 sangatlah layak. Bolak-balik pulau ke pulau sampai semua persyaratan kampus dapat sepenuhnya terpenuhi……..masyaAllah cobaan tidak selesai sampai di sana. Ada lagi dari segi financial.,…..namun dengan kegigihan dan tekadnya yang kuat akhirnya bisa pula berangkat dengan lega dibarengi suka-cita keluarga tercinta.

Beliau adalah orang baik, suka berbagi ilmu, dan yg paling penting adalah gelar akademik bukan ukuran utk dapat bergaul, bercanda, diskusi, dll……..meskipun lawan bicaranya jauh di belakang. Pembawaan yang amat langka saya temukan utk sekelas Kandidat Doktor.

Terakhir, terima kasih telah membantu dan membimbing saya selama proses kemarin, hingga saya bisa dinyatakan lulus beasiswa LPDP tahun ini….

  


Dari sekian banyak awardee, saya mengenal bimbingan ini dari keluarga yang sederhana, bahkan rumahnya dekatan dengan hewan ternak peliharaan nya dengan akses jalan menuju rumahnya ia sebut sebagai jalan gaza 😆dan endingnya mendapatkan apa yang dia hajatkan.

Mimpi kami sederhana, bagaimana anak-anak kurang mampu ditengah keterbatasan bisa menata mimpi kuliah dengan beasiswa, karena tentu bukan anak Sultan. Itulah kenapa Sekolah Beasiswa Straya Language Institute itu ada.

Terima kasih telah memberi arti.


Continue Reading

Anak Desa Nekat S3 Luar Negeri

Sunday, September 4, 2022 | 0 comments


Namanya RizalEnsyaMada (Rizal M. Suhardi) atau kami biasa memanggilnya Pak Ical. Anak muda ini berasal dari desa Selaparang, Kec. Suela, Kab. Lombok Timur. Sehari-hari lebih banyak waktunya dihabiskan di sawah, menjadi seorang petani. Bahkan setelah S2 juga beliau banyak bergelut dengan bangket (sawah).


Menamatkan S1 di Univ Hamzanwadi, kemudian melanjutkan S2 di UGM dgn beasiswa LPDP, dan besok beliau akan berangkat S3 ke Taiwan dgn beasiswa dari kampusnya. Finally, you got it Pak Ical. Semoga lancar jaya studynya.


Luar biasa memang kawan satu ini. Perjuangannya sangat pantas didengar oleh anak-anak desa. Bahkan, cerita terakhir ketika mau berangkat S3 penuh dgn drama dan berliku jalannya. Tapi satu hal yg beliau tancapkan sbg prinsip, jika azam sdh tertanam, usaha sdh maksimal, serahkan hasilnya ke Yang Maha Kuasa.


Pak Ical ini adalah salah satu bukti bahwa cita-cita anak desa untuk kuliah tinggi bisa digapai. Meski anak seorang petani, berasal dari keluarga pas-pasan, asa menjadi doktor sebentar lagi terwujud. Kalok mau dengar ceritanya, dm aja via messenger, beliau org baik. Sekali lagi, congrats pak. You deserve it.

 

Terima kasih Pak Dosen.

sumber:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=6043782942316353&set=a.350696538291717

Continue Reading
Powered by Blogger.

Entri Populer

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger