Berita Terkini :
http://picasion.com/

Namanya Beasiswa - Butuh Perjuangan

Monday, October 10, 2022 | 0 comments

Pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk masa depan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Namun, biaya pendidikan tinggi dapat menjadi tantangan bagi banyak orang. Oleh karena itu, beasiswa menjadi salah satu solusi yang membantu mewujudkan mimpi mengenyam pendidikan tinggi.

 

Beasiswa adalah dukungan keuangan yang diberikan oleh lembaga, organisasi, atau pemerintah kepada mahasiswa berprestasi dan berpotensi untuk mengejar pendidikan tinggi. Beasiswa ini bertujuan untuk membantu meringankan beban biaya kuliah, buku, dan biaya lainnya yang terkait dengan pendidikan.

 

Hal penting bagi calon mahasiswa untuk mencari informasi tentang berbagai jenis beasiswa yang tersedia. Beasiswa dapat didasarkan pada prestasi akademik, bakat di bidang tertentu, kriteria sosial-ekonomi, atau prestasi dalam kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, ada juga beasiswa yang disediakan oleh pemerintah atau perusahaan dengan syarat dan ketentuan tertentu.

 

Bagi calon mahasiswa yang ingin mendapatkan beasiswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah penting untuk memiliki catatan akademik yang baik dan prestasi yang memuaskan. Selain itu, berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler atau komunitas juga dapat meningkatkan peluang untuk mendapatkan beasiswa. Menulis surat permohonan yang baik dan menyampaikan alasan mengapa Anda pantas mendapatkan beasiswa juga merupakan langkah penting.

 

Proses mendapatkan beasiswa dapat sangat kompetitif, tetapi jangan menyerah. Berusaha untuk terus meningkatkan prestasi dan mengeksplorasi kesempatan-kesempatan baru yang dapat memperkuat peluang Anda. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari guru, konselor sekolah, atau sumber daya lainnya yang dapat membantu Anda dalam mengajukan permohonan beasiswa.

 

Beasiswa tidak hanya memberikan bantuan keuangan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri dan mencapai potensi diri. Dengan pendidikan tinggi yang berkualitas, maka dapat memperluas wawasan, mendapatkan keterampilan berharga, dan berkontribusi pada kemajuan dan pengembangan masyarakat.

 

Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Manfaatkan setiap peluang yang ada, perjuangkan impian pendidikan tinggi, dan terus bersemangat dalam meraih cita-cita akademis dan profesional. Dengan tekad dan kerja keras, kita dapat mengatasi rintangan keuangan dan mewujudkan impian Anda untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

 

Selamat berjuang dan semoga sukses  

 


Continue Reading

𝗦𝗲𝗷𝘂𝘁𝗮 𝗞𝗮𝘁𝗮

Wednesday, September 7, 2022 | 0 comments



Ini adalah sekelumit kisah tentang perjalanan memperjuangkan mimpi menjadi seorang awardee beasiswa. Perjalanan yang terasa amat melelahkan dan panjang. Tetapi, demi sebuah mimpi, dia harus mengorbankan apa yang bisa dikorbankan tanpa harus mengenal lelah dengan melibatkan sang Khaliq.

Sebelumnya, izinkan saya bercerita sedikit mengenai proses awal bagaimana proses dan tantangan mendapatkan beasiswa ini. Bang Rizal Rizal EnsyaMada adalah satu dari senior saya di Straya Language Institute yang diamanahi sebagai orang dibalik layar tentang keberadaan Sekolah Beasiswa Straya, dimana siswanya sejauh ini tersebar dari sabang sampai dengan merauke.

Dia lahir dan besar di Kabupaten Lombok Timur, dari seorang keluarga atau orang tua yang bisa di bilang “biasa-biasa aja” karena kedua orang tuanya nya sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan dasar sama sekali dan sudah dipastikan tentu tidak bisa membaca dan menulis. So, Bang Rizal bisa dibilang tidak memiliki riwayat maupun “dosis” privilege dalam keluarganya yang betul-betul educated person.

Alhasil, ini memacu semangatnya berani bermimpi dan berazzam untuk sekolah ke jenjang yang paling tinggi dengan beasiswa fully-funded (Beasiswa penuh) tentunya inshaAllah, dan masyaAllah………. Dari ia studi semenjak di bangku Sekolah Dasar sampai dengan S3 (Program Doktoral) dapat sepenuhnya menggunakan melalui kesempatan beasiswa. Tentu ini semua tidaklah mudah untuk diwujudkan. Oleh karena itu, berikut proses beliau meraih beasiswa S3 dengan filosofinya yang intinya jangan pernah lelah berbuat baik dan membantu sesama.



Sempat keterima di beberapa kampus Luar Negeri dengan skema beasiswa, namun karena Covid 19 melanda, jadi harus ketunda bahkan supervisornya yang akan jadi pembimbing nya pindah dan ada juga yg pensiun duluan.

Ironinya, di antara visa yang dia tunggu malah duluan keluar yang Taiwan. Hingga pada akhirnya, ia dapat berangkat Studi lanjut jenjang S3 ke Taiwan.

Perjuangan menjadi awardee di Negeri Formosa tersebut belum selesai sampai tahap final. Sebelumnya ada banyak sekali persiapan keberangkatan yang cukup menyita uang, waktu, tenaga dan kesabaran yang dilewatinya. Misalnya saja mulai dari mengurus legalisir ijazah, transkrip nilai, dokumen-dokumen persyaratan kampus lainnya seperti visa pelajar.

Untuk visa resident sendiri perlu mengurus notaris ijazah asli, terjemahan dan legalisir untuk perpanjangan visa nanti setiba di Taiwan. Secara umum tiket pesawat dibelikan dari ibu kota masing-masing negara. Jadi, kalau kita berasal dari kota lain, maka siap-siap saja dengan biaya transportasi mandiri. Belum lagi tes PCR sebelum keberangkatan. Karena aturan PCR sudah gak berlalu pergi 15 Agustus jadi gak perlu tes PCR sebelum terbang ke Luar Negeri.. Ini juga belum terhitung biaya untuk beli koper, pakaian dan barang-barang persiapan yang lain yang perlu dibawa selama di negara tujuan. Terakhir menyiapkan uang saku selama satu dua bulan sebelum beasiswa cair.

Setelah dinyatakan diterima oleh Supervisor di Universitas, bahagia tentu ada namun ada hal lain yang mesti dipikirkan seperti financial dalam memenuhi semua dokumen persyaratan di atas. Seperti contoh dalam mengurus visa pelajar di mana ini harus bolak-balik Surabaya, Jogja, Jakarta, dan Lombok.



Kurang lebih begitu kira-kira ringkasan rencana studinya, saya tahu betul prosesnya sangatlah panjang, dibutuhkan tekad dan mental yang kuat melewati tantangan tersebut. Kalau mau kilas balik ke belakang, perjuangannya meraih beasiswa ini malah lebih susah lagi. Tidak semudah membalik telapak tangan Ferguso!

Kita seperti mendaki pegunungan terjal yang bahkan tak tahu berapa lagi mencapai puncak. Mungkin awalnya terlihat mulus seperti yang nampak, kemudian ke belakangan lagi harus menerima kenyataan pahit ditolak berbagai beasiswa, belum penghabisan dan pengorbanan yang telah dilakukan. Memang di sini dibutuhkan strategi tepat, motivasi jangka panjang, mental kuat disertai sikap pantang menyerah. Seperti yang dibaratkan sebelumnya, perjuangan mendaki gunung yang terjal.

Namun terlepas dari semua strategi itu, strategi utama yang mesti dipenuhi adalah dengan menguasai bahasa inggris sebagai syarat utama daftar kampus maupun beasiswa. Meski kampus atau negara tujuan tak memakai bahasa inggris, tapi saat akan mempublikasikan thesis dan disertasi nanti pasti perlu menulis dalam bahasa inggris, termasuk ketika inisiatif mengikuti konferensi internasional.

Perjuangan mendapatkan beasiswa setelah sekian berjuang merupakan suatu anugerah yang mesti dirayakan mengingat latar belakangnya dimana berasal dari warga biasa-biasa aja. Perjuangannya mendapatkan beasiswa S3 sangatlah layak. Bolak-balik pulau ke pulau sampai semua persyaratan kampus dapat sepenuhnya terpenuhi……..masyaAllah cobaan tidak selesai sampai di sana. Ada lagi dari segi financial.,…..namun dengan kegigihan dan tekadnya yang kuat akhirnya bisa pula berangkat dengan lega dibarengi suka-cita keluarga tercinta.

Beliau adalah orang baik, suka berbagi ilmu, dan yg paling penting adalah gelar akademik bukan ukuran utk dapat bergaul, bercanda, diskusi, dll……..meskipun lawan bicaranya jauh di belakang. Pembawaan yang amat langka saya temukan utk sekelas Kandidat Doktor.

Terakhir, terima kasih telah membantu dan membimbing saya selama proses kemarin, hingga saya bisa dinyatakan lulus beasiswa LPDP tahun ini….

  


Dari sekian banyak awardee, saya mengenal bimbingan ini dari keluarga yang sederhana, bahkan rumahnya dekatan dengan hewan ternak peliharaan nya dengan akses jalan menuju rumahnya ia sebut sebagai jalan gaza 😆dan endingnya mendapatkan apa yang dia hajatkan.

Mimpi kami sederhana, bagaimana anak-anak kurang mampu ditengah keterbatasan bisa menata mimpi kuliah dengan beasiswa, karena tentu bukan anak Sultan. Itulah kenapa Sekolah Beasiswa Straya Language Institute itu ada.

Terima kasih telah memberi arti.


Continue Reading

Anak Desa Nekat S3 Luar Negeri

Sunday, September 4, 2022 | 0 comments


Namanya RizalEnsyaMada (Rizal M. Suhardi) atau kami biasa memanggilnya Pak Ical. Anak muda ini berasal dari desa Selaparang, Kec. Suela, Kab. Lombok Timur. Sehari-hari lebih banyak waktunya dihabiskan di sawah, menjadi seorang petani. Bahkan setelah S2 juga beliau banyak bergelut dengan bangket (sawah).


Menamatkan S1 di Univ Hamzanwadi, kemudian melanjutkan S2 di UGM dgn beasiswa LPDP, dan besok beliau akan berangkat S3 ke Taiwan dgn beasiswa dari kampusnya. Finally, you got it Pak Ical. Semoga lancar jaya studynya.


Luar biasa memang kawan satu ini. Perjuangannya sangat pantas didengar oleh anak-anak desa. Bahkan, cerita terakhir ketika mau berangkat S3 penuh dgn drama dan berliku jalannya. Tapi satu hal yg beliau tancapkan sbg prinsip, jika azam sdh tertanam, usaha sdh maksimal, serahkan hasilnya ke Yang Maha Kuasa.


Pak Ical ini adalah salah satu bukti bahwa cita-cita anak desa untuk kuliah tinggi bisa digapai. Meski anak seorang petani, berasal dari keluarga pas-pasan, asa menjadi doktor sebentar lagi terwujud. Kalok mau dengar ceritanya, dm aja via messenger, beliau org baik. Sekali lagi, congrats pak. You deserve it.

 

Terima kasih Pak Dosen.

sumber:

https://www.facebook.com/photo/?fbid=6043782942316353&set=a.350696538291717

Continue Reading

Sukses Terbesar - Short story

Sunday, February 13, 2022 | 1comments

 
The most memorable experience of success I've ever had touched my thoughts, feelings, and actions.


I was born in a family with no education and cannot read and write. Parents cannot send their children to college. I was the pioneer to continue further studies to the Masters's level from a family environment. Moreover, the size of village/village people, people, and families with more assets are identical to wealthy people who can continue their studies to a higher level outside certain cities and countries. For this reason, I want to prove to the public that families who cannot read and write with a mediocre economy can take higher education to achieve a higher education degree. I never asked to be born and raised in an uneducated family, but that didn't stop me from pursuing my education to a higher level.

 


The passion for learning and studying to a higher level is my dream. I want to learn more deeply and broadly about science. However, I encountered obstacles to making it happen along the way, namely the absence of a laptop or computer. I can't buy this device because of the economic burden of a low-income family that only relies on harvests every 6 months. To live, our family has to work hard and become laborers to continue living. Even so, I still want to have a laptop to complete college assignments and final college assignments.

Since entering college, I often go to internet cafes to look for information and lecture materials and type assignments submitted to the lecturer. I realized that I could go to the internet cafe waiting for free time and usually at night. I cannot stay long in the boarding house except for the night to sleep and eat. Most of the day on campus and regional libraries to complete assignments. Incidentally, at the campus and the regional library, there were several computers provided for the visitors. I have to catch up early (morning) to come to the campus library, considering that the distance between the boarding house and campus is about 1 kilometer. At the same time, it is approximately 2.5 km from the regional library. So it takes about 15-20 minutes to get to campus and 35-40 minutes to the East Lombok regional library on foot. The computers provided are not all in good condition. Sometimes if you are lucky, you get a good one, and if many visitors are waiting in line, you may get a lousy computer or even not get it at all. Therefore, you have to come early to choose a computer that is in good condition.

 



What I could not imagine until now, without the support of scholarships and side jobs, I might not be able to continue my higher education. Scholarships are one way to make that dream come true, apart from a side job to survive while studying. I am very enthusiastic about hunting for scholarships. I often take part in scholarship exhibitions and participate in every activity. I also tried to get a scholarship by paying in installments the terms and conditions of each scholarship provider to register on time without waiting for the deadline. Scholarships can help with tuition fees.



I sometimes join as a farm laborer during the long holidays when the harvest arrives. The hope at that time was that I wanted to be able to buy a laptop. Little by little, the results of the labor wages that I have earned are saved so that I can help make this dream come true. Because the price is so high, I decided to apply for a scholarship as an additional alternative. Since at that time, there was a quota for each study program to receive scholarships, the nominal of which could be 2 million 400 thousand per student. I also tried to complete the terms and conditions that have been determined. The coincidence that I have prepared the requested conditions is not too heavy and confusing. After I declared all the files complete, I also submitted them to the academic section and waited for an announcement from the campus. After waiting for about a month, Alhamdulillah, I was declared qualified to get this scholarship from the many registered students. I am just waiting for the scholarship money to be disbursed directly into the student's account without deducting a penny. From here, I feel that the effort will never be in vain.

 After this money was disbursed, I went home by telling my parents if I got a scholarship. I expressed my wish with this scholarship money used to buy a new laptop. Actually, in my heart, I wanted to buy Mukenah from this scholarship money, but my parents told me to believe what I needed for college. Mother said, use this scholarship money well, because this is a scholarship for yourself, so it is for yourself, not for the mother. I was silent for a moment, touched by my mother's statement. I have not been able to do good and make them happy who always motivate their children to reach their dreams.


In the end, I bought a laptop with scholarship money and a few hundred thousand additional savings to make up for the shortfall. Armed with this, I could bring home a laptop to my boarding house. I no longer need to go to the internet cafe to rent a computer and look for coursework materials. There is also no need to come to the campus library and the district library every morning to borrow computers to complete academic assignments. From this purchased laptop, I achieved educational projects in theses, papers, book chapters, theses, and wrote this paper. There is a sense of emotion and pride in writing this article with the items I bought with long sacrifices.




Continue Reading

Makna sebuah pengabdian

Saturday, January 29, 2022 | 0 comments

 LPDP: Satu Dekade Berkontribusi, Memberi Makna untuk Negeri 🇮🇩


Saya berasal dari keluarga sederhana, anak dari seorang petani kecil penggarap tanah kering yang tidak berpendidikan. Namun, bukan berarti rantai pendidikan terhenti begitu saja. Saya merasa bersyukur diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Orang tua saya berkata, "melalui pendidikan, semua akan berubah, zamanmu akan berbeda dengan kami. Kami maklumi, untuk bisa bertahan hidup dengan anugerah kesehatan saja, kami merasa bersyukur luar biasa".

Itulah motivasi sederhana yang menjadi alasan saya untuk terus berusaha memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas lewat beasiswa. Bagiku, beasiswa tidak hanya disediakan untuk mereka yang cerdas, tapi untuk mereka yang ingin mengubah keadaaan, _from Zero to Hero_. Terlebih saya sadar bahwa saya bukan anak sultan yang sekali ucap perihal uang langsung bisa _on the way to_ ATM 😅


Sebab itulah kenapa saya dan Komunitas @scholarshipforscholarship itu ada, kami berikhtiar memilih berkontribusi dan peduli pada dunia pendidikan dan tentunya lewat Beasiswa. Kemudian kami menginisiasi Sekolah Beasiswa @straya.institute, yang sampai saat ini batch 4. Kami merasa banyak orang yang terbantu melalui program ini, terbantu meraih mimpi untuk lanjut studi, baik di dalam dan luar negeri. Sekolah ini tentang berbagi, diskusi dan saling memotivasi, menyemangati, serta saling menguatkan satu sama lain. 

Kalau bukan sekarang, kapan lagi,

kalau bukan kita, siapa lagi.


Harapan kedepannya, semoga semakin banyak generasi anak Bangsa yang bisa mendapatkan Beasiswa LPDP @lpdp_ri agar kita bisa bersama-sama membangun Sumber Daya Manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Terus bergerak memberi dampak, kita pasti bisa 🌟

#SatuDekadeLPDP #SatuDekadeTransformasi #DiriUntukNegeri #LPDP #matagaruda #BagimuNegeri #EveryoneCanGetScholarship

Continue Reading
Powered by Blogger.

Entri Populer

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger