Mutiara Hikmah :
http://picasion.com/

RESUMEPTK V ( PROSEDUR PENGUMPULAN DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PTK )

Thursday, June 28, 2012 | 2comments


PROSEDUR PENGUMPULAN DATA DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA DALAM PTK

1.    Prosedur dan Teknik Pengumpulan Data dalam PTK
Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa teknik dalam mengumpulkan data, seperti yang dikemukakan Sevilla, dkk (1993) bahwa dalam pengumpulan data penelitian dalam pendidikan dapat meliputi hal-hal sebagai berikut.
1.      Pengamatan;
Pengamatan dalam istilah sederhana adalah proses peneliti dalam melihat situasi penelitian. Teknik ini sangat relevan digunakan dalam penelitian kelas yang meliputi pengamatan kondisi interaksi pembelajaran, tingkah laku anak dan interaksi anak dalam kelompoknya.Pengamatan dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur.Alat yang bisa digunakan dalam pengamatan adalah lembar pengamatan, ceklist, catatan kejadian dan lain-lain.
2.      Pertanyaan;
Teknik pertanyaan lebih cocok digunakan dalam pendekatan survei. Pertanyaan yang efektif akan membantu pengumpulan data yang akurat, karenanya Fox (dalam Sevilla, 1993) memberikan kreteria karakteristik pertanyaan yang efektif sebagai berikut; (a) bahasanya jelas, (b) ada ketegasan isi dan periode waktu, (c) bertujuan tunggal, (d) bebas dari asumsi, (e) bebas dari saran, dan (f) kesempurnaan dan konsistensi tata bahasa.
3.      Angket atau kuesioner (questionnaire)
Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden).Instrumen atau alat pengumpulan datanya juga disebut angket berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh responden.Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan presepsinya.
4.      Studi dokumenter (documentary study)
Studi dokumentermerupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen,baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudian dianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasil kajian yang sistematis, padu dan utuh.Jadi studi dokumenter tidak sekedar mengumpulkan dan menuliskan atau melaporkan dalam bentuk kutipan-kutipan tentang sejumlah dokumuen yang dilaporkan.
Jika dilihat dari segi teknikpengumpulan data kualitatif, ada tiga teknik yang dapat dipilih oleh peneliti untukmengumpulkan data yang disebut 3 E (Experiencing, Enquiring, dan Examining).
1.      Experiencing yaitu pengumpulan data melalui pengalaman. Teknik pengumpulandatanya dapat berupa observasi.
2.      Enquiring yaitu teknik pengumpulan data melalui pertanyaan oleh peneliti. Teknikpengumpulan datanya dapat berupa wawancara, angket, skala sikap, atau tes.
3.      Examining yaitu teknik pengumpulan data melalui pembuatan dan pemanfaatancatatan yang dapat berupa data arsip, jurnal, audiotape/videotape, artifak, dan catatanlapangan.
      1.            Pengumpulan Data Melalui Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan datadengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Adabeberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan observasi, diantaranya :
Ø  Memperhatikan fokus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati, baik yangumum maupun yang khusus. Kegiatan yang umum maksudnya yaitu segala sesuatuyang terjadi di dalam kelas harus diamati dan dikomentari serta dicatat dalamcatatan lapangan. Sedangkan observasi kegiatan khusus, maksudnya ialahobservasi tersebut hanya memfokuskan pada kegiatan khusus yang terjadi di dalamkelas, seperti kegiatan tertentu atau praktik pembelajaran tertentu.
Ø  Menentukan kriteria yang diamati, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuranapa yang digunakan dalam pengamatan.

a.      Langkah-langkah Observasi
Dalam melaksanakan observasi ada beberapa langkah/ fase utama yang harusditempuh, antara lain :
a)      Pertemuan Perencanaan
Dalam menyusun rencana observasi perlu diadakan pertemuan bersama
untuk menentukan urutan kegiatan observasi dan menyamakan persepsi antaraobserver (pengamat) dan observee (yang diamati) mengenai fokuspermasalahan yang akan diamati.
b)      Observasi Kelas
Dalam fase ini, observer mengamati proses pembelajaran danmengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada prosespembelajaran tersebut, baik yang terjadi pada siswa maupun situasi di dalamkelas.
c)      Diskusi Balikan
Pada fase ini, guru sebagai peneliti bersama dengan pengamat mempelajaridata hasil observasi untuk dijadikan catatan lapangan dan mendiskusikanlangkah-langkah selanjutnya.Kegiatan ini harus dilaksanakan dalam situasisaling mendukung (mutually supportive) serta didasarkan pada informasi yangdiperoleh selama observasi.
b.   Jenis-jenis Observasi
Antara lain yaitu :
a.      Observasi Partisipan (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orangyang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakanoleh sumber data. Dengan observasi partisipasi ini, maka data yang diperolehakan lebih lengkap dan sampai mengetahui apa tingkat makna dari setiapperilaku yang nampak. Misalnya, guru yang bertindak sebagai peneliti didalam kelasnya.Sebagai guru, peneliti hendaknya mencatat hasilpengamatannya secara sistematis.
b.      Observasi Non-partisipan (Non-participant Observation)
Didalam jenis observasi ini, peneliti tidak terlibat secara langsung, penelitihanya mencatat, menganalisis, dan membuat kesimpulan tentang perilakuobjek yang diteliti. Pengumpulan data dengan observasi ini tidak akanmendapatkan data yang akurat karena peniliti tidak mengalami secaralangsung apa yang dirasakan oleh objek penelitiannya. Contohnya, seorangguru yang bertindak sebagai pengamat di kelas guru lain yang mengajar(bukan di kelasnya) dan guru tersebut hanya mengamati apa yang terjadi didalam kelas tersebut.
c.       Observasi Terstruktur
Observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secarasistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan, dan dimana tempatnya.Observasi terstruktur dilakukan apabila peneliti telah mengetahui dengan pastivariable apa yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan, penelitimenggunakan instrument penelitian yang telah teruji validitas danreliabilitasnya.
d.      Observasi Tidak Terstruktur
Merupakan observasi yang tidak dipersiapkansecara sistematis tentang apa yang akan diobservasi. Hal ini dilakukan karenapeneliti tidak tahu pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melakukanpengamatan peneliti tidak menggunaklan instrument yang telah baku, tetapihanya berupa rambu-rambu pengamatan.
e.       Observasi Terbuka
Merupakan teknik observasi yang dilakukan dengan caramencatat segala sesuatu yang terjadi di dalam kelas. Misalnya ketikamelakukan tanya jawab dengansiswa, segala sesuatu yang terjadi ketikakegiatan itu berlangsung dicatat olehguru sebagai bahan observasi yangselanjutnya akan dianalisis dan akhirnya dibuat kesimpulan.
f.       Observasi Terfokus
Dilakukan apabila peneliti ingin mencari data denganmenfokuskan masalah yang akan ditelitinya, misalnya peneliti inginmengumpulkan data tentang pola interaksi antara guru dengan siswa melaluiteknik bertanya guru.
g.      Observasi Sistematik
observasi ini cenderung menggunakan skala yang padadasarnya adalah hasil pemikiran orang lain yang menyusun skala tersebut,selain itu pengamatan denganmenggunakan skala akan sangat menekankanpada aspek penelitian kuantitatif, yang akan mendahulukan perhitunganjumlah dibandingkan dengan kualitas analisisnya.

      2.            Pengumpulan Data Melalui Pertanyaan
Teknik pengumpulan data yang kedua adalah melalui pertanyaan. Guru sebagaipeneliti dapat mengajukan pertanyaan kepada siswa, orang tua, ataupun guru lainnya.Pengumpulan data melalui pertanyaan ini dapat dilakukan dengan menggunakanteknik wawancara atau angket.
·         Wawancara
Yang dimaksud dengan wawancara adalah percakapan yang dilakukanoleh pewawancara untuk memperoleh iinformasi dari terwawancara, narasumberatau informan.
Ada beberapa jenis atau bentuk wawancara, diantaranya :
Ø  Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih
dahulu menyiapkan bahan wawancara/pertanyaan.
Ø  Wawancara semi terstruktur adalah bentuk wawancara yang sudah disiapkanterlebih dahulu, tetapi memberikan keleluasaan untuk tidak langsung terfokuskepada bahasan atau mungkin mengajukan topik bahasan sendiri selamawawancara itu berlangsung.
Ø  Wawancara tidak terstruktur ialah bentuk wawancara dimana prakarsauntukmemilih topik bahasan diambil oleh orangyang diwawancarai. Apabilawawancara sudah berlangsung, pewawancara dapat mengarahkan agar informandapat menerangkan, mengelaborasi, atau mengklarifikasi jawaban yang kurangjelas.
Ø  Wawancara informal yaitu jenis percakapan bebas yang memungkinkaninterviewer untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah yangakan ditelitinya.
Ø  Wawancara formal berstruktur yaitu jenis wawancara yang dalampelaksanaannya menggunakan format wawancara yang terstruktur, jadi gurudapat menanyakan pertanyaan yang sama kepada responden.
·         Angket atau kuesioner
Merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidaklangsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden).
Instrumentpengumpul datanya juga disebut dengan angket yang berisi sejumlah pertanyaanatau pernyataan tertulis yang harus dijawab atau direspon oleh responden.
Ø  Prinsip Penulisan Angket :
v Isi dan Tujuan Pertanyaan
Maksudnya adalah apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentukpengukuran atau bukan? Jika berbentuk pengukuran, maka dalammembuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus disusun dalamskala pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukurvariabel yang diteliti.
v  Bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam angket harus disesuaikan dengankemampuan berbahasa responden (memerhatikan jenjang pendidikankeadaan sosial budaya dari responden).
v  Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Tipe pertanyaan dalam angket dapat terbuka (pertanyaan yangmengharapkan responden untuk menuliskan jawabannya dalam bentukuraian) atau tertutup (pertanyaan yang mengharapkan jawaban singkatatau mengharapkan responden untuk memilih salah satu alternatif jawabanyang telah disediakan) dan dapat pula menggunakan kalimat positifataupun negatif.
v  Pertanyaan tidak mendua (double barreled), contohnya “Bagaimanapendapat anda mengenai kualitas dan relevansi pendidikan saat ini?”
v  Tidak menanyakan yang sudah lupa, misalnya “Bagaimana kualitaspendidikan sekarang bila dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu?”
v  Pertanyaan tidak menggiring, maksudnya pertanyaan dalam angket tidakmenggiring/ mengarahkan ke jawaban yang baik atau yang buruk saja.Misalnya “Bagaimanakah prestasi belajar anda selama di sekolah yangdulu?”
v  Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalupanjang, sehingga akan membuat responden jenuh dalam mengisi
v  Urutan Pertanyaan.
Urutan pertanyaan dalam angket dimulai dari yangumum menuju ke hal yang spesifik atua dari hal yang mudah menuju kehal yang sulit. Hal ini perlu diperhatikan karena secara psikologis dapatmemengaruhi semangat responden, jika pada awalnya sudah diberipertanyaan yang sulit maka responden akan merasa malas untuk mengisiangket yang telah meraka terima.
v  Prinsip Pengukuran.
Angket yang diberikan kepada responden merupakninstrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variable yang akanditeliti. Olehkarena itu, angket terebut harus dapat digunakan untukmendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variable yang diukur,maka sebelum instrument angket tersebut diberikan kepada responden,sebaiknya diuji dulu validitas dan reabilitasnya.
v  Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alatpengumpul data akan memengaruhi responden dalam mengisi angket.Angket yang dibuat dikertas buram, akan mendapat respon yang kurangmenarik dari responden.
Ø  Jenis-jenis Angket atau Kuesioner
Jenis angket berdasarkan cara responden menjawab, diantaranya :
·         Angket tidak berstruktur (terbuka)
ialah angket yang disajikan dalambentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan jawabanbebas sesuai dengan kehendak dan keadaannya. Jawaban bebas disinimaksudnya adalah uraian berupa pendapat, hasil pemikiran, tanggapan,dan lain-lain mengenai segala sesuatu yang dipertanyakan setiap itempada angket. Contoh pertanyaan angket terbuka “Bagaimana pendapatanda mengenai kenaikan standar nilai UN?”
·         Angket berstruktur (tertutup) ialah jenis angket yang setelah rumusan pertanyaannya disediakan pula alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden.
Ø  Jenis angket berdasarkan bentuknya, antara lain :
o  Angket pilihan ganda (sama dengan angket tertutup)
o  Angket isian, seperti angket tercheck list/ daftar cek, sehingga,responden tinggal membubuhkan tanda check (√) pada kolom yangsesuai.
      3.            Pengumpulan Data Melalui Pembuatan dan Pemanfaatan Catatan (Examining)
Teknik pengumpulan data melalui pembuatan dan pemanfaatan catatan(examining) ini meliputi pembuatan catatan dan pemanfaatan segala hal yang dapatdikumpulkan oleh guru baik tertulis maupun tidak tertulis, antara lain:
a.      Dokumen Arsip
Dokumen memiliki arti barang-barang tertulis. Jadi dalam pengumpulan datadengan menggunakan dokumen arsip, peneliti mengumpulkan dan mencermatibenda-benda tertulis yang dapat digunakan untuk memperoleh wawasan kejadianmasa lalu, mengidentifikasi kecenderungan masa depan, dan menjelaskan tentangsesuatu seperti yang dapat diamati sekarang. Menurut Calhoun (1994, dalam Mills,2003), sumber data arsip di sekolah dapat berupa hal-hal berikut:
Ø Daftar hadir peserta didik
Ø Daftar peserta didik yang melanjutkan
Ø Daftar disiplin
Ø Daftar peserta didik yang dropout
Ø Daftar hadir pertemuan guru-orang tua peserta didik
Ø Data prestasi peserta didik dalam berbagai ajang kegiatan lomba, sepertimatematika, membaca, menulis, dll.
Ø Skor pada saat mengikuti tes standar
Ø Daftar keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan ekstra kurikuler.
Ada berbagai dokumen yang dapat membantu peneliti dalam mengumpulkandata penelitian yang ada relevansinya dengan permasalahan dalam penelitiantindakan kelas, seperti:
Ø  Silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Ø  Laporan-laporan diskusi
Ø  Berbagai macam hasil ujian dan tes
Ø  Laporan rapat
Ø  Laporan tugas siswa
Ø  Bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran
Ø  Contoh essay yang ditulis siswa (Elliot, 1991 dalam rochiati 2005)
Menurut goetz dan LeCompte (1984 dalam rochiati 2005), dokumen yangmenyangkut para partisipan penelitian akan menyediakan kerangka bagi data yangmendasar, antara lain:
Ø  koleksi dan analisis buku teks
Ø  kurikulum dan pedoman pelaksanaannya
Ø  arsip penerimaan siswa baru
Ø  catatan rapat
Ø  catatan tentang siswa
Ø  rencana pelaksanaan pembelajaran dan catatan guru
Ø  hasil karya siswa
Ø  kumpulan dokumen pemerintah
Ø  koleksi arsip guru berupa buku harian, catatan peristiwa penting (logs) dankenang-kenangan dari siswa angkatan lama
b.      Catatan Harian
Catatan harian (diaries) adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan,tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis dan penjelasan. Catatan tidakhanya melaporkan kejadian tugas sehari-hari, melainkan juga mengungkapkanperasaan bagaimana rasanya berpartisipasi dalam penelitian tindakan kelas.
c.       Catatan Lapangan
Yang dimaksud Catatan lapangan (field notes) dalam penelitian adalahbuktitentik berupa catatan pokok, atau catatan terurai tentang proses apa yang terjadi dilapangan, sesuai dengan fokus penelitian, ditulis secara deskriptif dan reflektif.Catatan lapangan ini dibuat oleh peneliti atau mitra peneliti yang melakukanpengamatan atau observasi terhadap subjek atau objek penelitian tindakan kelas.Berbagai hasil pengamatan tentang aspek pembelajaran di kelas, suasana kelas,pengelolaan kelas, interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa danbeberapa aspek lainnya dapat dicatat sebagai catatan lapangan dan akan digunakansebagai sumber data PTK. Pada umumnya catatan lapangan dibuat dengan tulisantangan si peneliti, yang hanya dimengerti oleh dirinya saja.
d.      Jurnal
Jurnal Harian adalah salah satu format yang merupakan modifikasi catatanlapangan (field notes) yang dapat dimanfaatkan oleh guru yang merangkap fungsisebagai pelaku tindakan perbaikan dan pengamat dengan hasil yang menjanjikan.Sebagaimana telah dikemukakan jurnal harian merupakan semacam catatan hariansehinggga dapat berfungsi sebagai rekaman pengamatan yang sangat efektif. Jurnalharian merupakan alat bantu yang lebih sederhana yang sangat praktis namun jugacukup produktif, sehingga cocok digunakan oleh pengamat yang juga sekaliguspelaku tindakan.
Cochran Smith Lytle (1993,dalam Mills, 2003) mengemukakan bahwa jurnal guru merupakan bagianterpenting dalam PTK karena jurnal guru/calon guru mungkin berisi hal-hal sepertiberikut:     
Ø  Catatan mengenai kehidupan di kelas di mana guru/calon guru mencatat hasilpengamatan dan merefleksikan pengalaman mengajarnya.
Ø  Catatan mengenai deskripsi, analisis, dan interpretasi guru/calon guru.
Ø  Catatan mengenai pokok-pokok kejadian dalam kelas yang dialami peserta didikdan apa arti kejadian ini bagi guru dalam menyiapkan pembelajaran berikutnya.
Ø  Catatan sebagai landasan untuk mengamati kembali, menganalisis, danmengevaluasi pengalaman mereka.
Ø  Catatan mengenai apa yang terjadi dalam kelas dilihat dari kaca mata guru.
e.       Peta (Map)
Peta tempat duduk peserta didik dalam kelas maupun letak peralatan dalamkelas sangat membantu guru yang baru pertama kalinya masuk ke kelas itu. Petamemberikan wawasan konseptual dengan alat untuk melakukan refleksi dengancara berpikir kembali mengenai keadaan kelas.
f.       Rekaman Foto, Slide, Tape, dan Video
Rekaman foto, slide, tape, dan video merupakan sumber data tidak tertulisyang dapat membantu guru dalam memantau kegiatannya di kelas sehinggapeneliti mempunyai alat pencatatan untuk menggambarkan apa yang sedang terjadidi kelas pada waktu pembelajaran dalam rangka penelitian tindakan kelas. Alat-alatelektronik ini berfungsi untuk menangkap suasana kelas, detail tentang peristiwa-peristiwapenting atau khusus yang terjadi atau ilustrasi dari episode tertentusehingga dapat digunakan untuk membantu mendeskripsikan apa yang peneliticatat di catatan lapangan, apabila memungkinkan. Gambar-gambar foto, cuplikanrekaman tape atau slide berguna juga dalam wawancara, baik untuk memulai topicpembicaraan ataupun untuk mengingatkan agar peneliti tidak menyimpang daritujuan wawancara.
Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yangtelah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutarkembali hasil rekaman proses pembelajaran. Setiap usai liputan, rekaman diputarulang, dilihat bersama (peneliti dan para kolaborator). Kemudian diadakan diskusi,untuk melihat gejala apa, data apa yang dapat diakses ? apa yang dapat dikritisisebagai titik lemah, terutama pada sisi cara atau pendekatan pembelajaran, atauteknik penilaian serta alat-alat yang digunakan. Akses data penelitian lewat teknikini, lebih bersifat otentik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Artinya,objektivitas data yang dituturkan secara deskriptif betul betul didasarkan pada faktayang terjadi di lapangan.
Dengan demikian, data dokumentasi gambaran utuh itu,digunakan pula dalam proses validasi data. Dengan video dan tape recorder gurujuga dapat mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yangmenjadi perhatian penelitian, sehingga guru memperoleh kesempatan untukmelakukan refleksi mengenai penguasaan konsep, keterampilan, dan sikap pesertadidiknya. Selain itu, foto juga dapat dibuat untuk memberikan penekanan atassuatu peristiwa yang terjadi di kelas. Pada proses analisis dibahas apa yangdiharapkan terjadi, apa yang kemudian terjadi, mengapa terjadi tidak seperti yangdiharapkan, apa penyebabnya atau ternyata sudah terjadi seperti yang diharapkan,dan apakah perlu dilakukan tindak lanjut.
Alat bantu rekam elektronik memang menjanjikan kelengkapan dokumentasi,meskipun masih mengandung keterbatasan - keterbatasan juga. Kamera hanyamampu merekam informasi visual, sedangkan kamera video dapat merekam 2dimensi informasi yaitu audio dan visual, meskipun masih tetap ada keterbatasanteknis seperti misalnya dari segi sudut pandang kamera. Dalam banyak hal,penggunaan berbagai alat bantu rekam yang canggih memang sangat menggodadan menjanjikan kemanfaatan yang nyata untuk keperluan - keperluan tertentudalam bentuk kelengkapan rekaman.
Namun disamping berbagai keuntungan yangdijanjikannya, penggunaan alat bantu rekam dalam konteks PTK juga perludipertimbangkan dari segi kelayakannya (feasibility). Artinya, hasil rekaman yangsangat lengkap dengan alat bantu rekam yang canggih itu, tidak akantermanfaatkan secara maksimal apabila untuk keperluan tayang ulang (replay)karena diperlukan persiapan dan/atau perlengkapan yang memakan waktu untukmenggelarnya. Belum lagi apabila juga diperhitungkan investasi yang diperlukanatau gangguan (intusion) yang diakibatkan dalam penggunaannya. Alat bantuperekaman elektronik lebih berpeluang menghasilkan gambaran yang lebihobyektif, namun agar benar - benar bermanfaat sebagai masukan, interpretasisecara jelas memang dibutuhkan. Oleh karena itu, hasil rekaman elektronik harussecepatnya ditranskripsikan dan dibubuhi catatan - catatan sesuai dengan keperluansehingga terwujud sebagai catatan lapangan (field notes).
Dalam penggunaan alat-alat elektronik seperti alat pengambil foto, slides dankamera video jangan sampai mengganggu siswa dan guru yang sedang terlibat.
Dalam pembelajaran serta tidak mengganggu jalannya pembelajaran di kelas karenadi khawatirkan para siswa akan lebih terpikat pada kesibukan rekaman video daripada berpartisipasi dalam pembelajaran itu sendiri. Untuk itu alat pengambil foto,slides dan kamera video sebaiknya dipegang oleh mitra peneliti (teman sejawat)bukan oleh penyaji bahan pembelajaran.
2.      Instrumen untuk mengumpulkan data PTK
Instrumen untuk mengumpulkan data PTK dapat dipahami dari dua sisi, yaitu sisiproses dan sisi hal yang diamati (Susilo dan Kisyani, 2006).
1.      Dari sisi Proses
Dari sisi proses , instrumen dalam PTK harus dapat menjangkau masalah yangberkaitan dengan input (kondisi awal), proses (saat berlangsung), dan output (hasil).

a.    Instrumen untuk Input
Instrumen untuk input dapat dikembangkan dari hal-hal yang menjadi akar masalahbeserta pendukungnya. Misalnya, akar masalah berupa bekal awal/prestasi tertentudari peserta didik yang dianggap kurang. Dalam hal ini tes bekal awal dapatmenjadi instrument yang tepat,disamping itu mungkin diperlukan pula instrumentpendukung yang mengarah pada pemberdayaan tindakan yang akan dilakukan,misalnya buku teks dalam kondisi awal dan sebagainya.
b.    Instrumen untuk Proses
Instrumen untuk proses ini digunakan pada saat proses berlangsung dan berkaitanerat dengan tindakan yang akan dipilih untuk dilakukan. Dalam tahap ini banyakformat yang dapat digunakan tetapi hendaknya sesuai dengan tindakan yangdipilih.
c.    Instrumen untuk Output
Instrumen untuk output ini berkaitan erat dengan evaluasi pencapaian hasilberdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
2.      Dari sisi hal yang diamati
Dari sisi hal yang diamati, instrument dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a.    Pengamatan terhadap guru (Observing Teacher)
Pengamatan merupakan alat efektif untuk mempelajari tentang metode danstrategi yang diimplementasikan dikelas.Salah satu bentuk instrumentpengamatan tersebut adalah catatan anecdotal (anecdotal record).Catatananekdotal adalah catatan peneliti mengenai segala sesuatu yang terjadi pada saat pengamatan berlangsung.Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal yang spesifik yang terjadi didalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswadalam pembelajaran.Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secarainformal dalam bentuk naratif.Sejauh mungkin catatan itu memuat deskripsi rincidan lugas peristiwa yang terjadi di kelas.

b.      Pengamatan terhadap kelas (Observing Classrooms)
Catatan anecdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadapsegala peristiwa yang terjadi dikelas.Pengamatn tersebut sangat bermanfaatkarena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik dikelas.Disamping itu pengamatan tersebut dapat menunjukkan strategi yang digunakanguru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi dikelas.Catatan anecdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tataletaknya, dan manajemen kelas.Beberapa model catatan anecdotal kelas yang diusulkan oleh Reed danBergermann (1992) dan dapat digunakan dalam PTK adalah sebagai berikut :
1) Format anecdotal organisasi kelas.
2) Format peta kelas
3) Format skala pengodean lingkungan sosial kelas.
4) Lembar cek wawancara personalia sekolah.
5) Lembar cek kompetensi
c.       Pengamatan terhadap peserta didik (Observing Student)
Pengamatan terhadap perilaku peserta didik dapat mengungkapkan berbagaihal yang menarik.Masing-masing individu peserta didik dapat diamati secaraindividual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan setelah pembelajaranusai.Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati dalam kurun waktutertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tinadakandiimplementasikan, dan sesuai tindakan.
3.      Hal- hal yang Harus Diperhatikan dalam Pengumpulan Data PenelitianTindakan Kelas.
Dalam pengumpulan data Penelitian Tindakan Kelas terdapat hal penting yang harusdiperhatikan yaitu instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitasyang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudahdan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis. Dari instrumentpenelitian ini akan didapatkan hasil berupa data yang akan digunakan dalam penelitian.Instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data dalam penelitian harus betul-betuldirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data sebagaimana adanya.
Hal ini disebabkan karena benarnya data yang dihasilkan, sangat menentukan bermututidaknya hasil penelitian.Apabila mengkaji hakikat dari instrumen penelitian, sebaiknya penelitimemperhitungkan terlebih dahulu jenis data yang dibutuhkan dan ingin di dapatkandalam penelitian. Setelah itu instrumen mana yang akan digunakan dalam pengumpulandata. Peneliti harus mengusai betul metode atau teknik yang digunakan dalampengumpulan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian dapat berjumlah lebihdari satu jenis instrumen. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dalam penelitian dantingkat kejelasan data yang didapatkan. Karena dalam penggunaan instrumen ini terdapatdua kategori instrumen, yaitu instrumen utama dan instrumen tambahan.
Instrumenutama ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang diutamakan, sedangkaninstrumen tambahan digunakan apabila data yang dihasilkan oleh instrumen utama initidak didapatkan kejelasan tentang permasalahan yang sebenarnya atau tingkatkedalaman permasalahan.Setelah ditetapkan jenis instrumen yang akan digunakan, peneliti menyusun kisi-kisiinstrumen. Kisi-kisi ini berisi lingkup pertanyaan, abilitas yang diukur, jenis pertanyaan,banyak pertanyaan, waktu yang dibutuhkan. Materi atau lingkup materi pertanyaandidasarkan dari indikator variabel. Artinya, setiap indikator akan menghasilkan beberaparuang lingkup isi pertanyaan serta abilitas yang diukurnya.
Abilitas dimaksudkan adalahkemampuan yang diharapkan dari subjek yang diteliti. Misalnya kalau diukur prestasibelajar, maka abilitas prestasi tersebut dilihat dari kemampuan subjek dalam halpengenalan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Atau bila yang diukuradalah sikap seseorang, maka lingkup abilitas sikap yang diukur kita bedakan menjadiaspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Lalu langkah selanjutnya adalah berdasarkankisi-kisi tersebut lalu peneliti menyusu
Sitem atau pertanyaan sesuai dengan jenisinstrumen dan jumlah yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi.Sebuah instrumen penelitian dapat dikatakan baik bila memenuhi tiga kriteria pokokyaitu validitas, reabilitas dan praktikabilitas.



























Continue Reading

RESUME PTK IV ( PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS )

| 1comments


PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A.    Prosedur Penelitian

Penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Mulyasa mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil belajar sekelompok peserta didik (2009 : 10). Sedangkan Mc. Niff mengemukakan bahwa hakekat penelitian tindakan kelas adalah sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar (dalam Wijaya, 2009 : 8). Selanjutnya Wijaya mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan, melaksanakan, merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti mengikuti desain model-model yang dijelskan pada model-model PTK seperti, yaitu: Model Lewin yang ditafsirkan oleh Kemmis Kemmis & Mc Taggart, Model Hopkins, dan Model MC Kerinan. Langkah-langkah pelaksanaan PTK sesuai dengan model PTK yang dipilih

Adapun langkah-langkah dari desain prosedur PTK di atas sebagai berikut :
1.      Perencanaan
Pada tahab perencanaan ini guru merencanakan hal-hal yang akan diajarkan serta permasalahan yang ada, dan cara pemecahannya Adapun hal-hal yang dilakukan dalam pada tahab perencanaan antara lain: (1) Guru melakukan analisis standar isi untuk mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar (2) Penyusunan program pembelajaran sesuai dengan Kompetensi Dasar (3) menentukan tempat atau lingkungan sebagai sumber belajar, serta menentukan waktu yang dibutuhkan (4) membentuk kelompok belajar (5) Peneliti menyusun skenario pembelajaran (6) Peneliti mengundang nara sumber jika dibutuhkan (7) Peneliti membuat lembar kerja siswa sesuai dengan Kompetensi Dasar (8) Menyiapkan alat penilain untuk proses pembelajaran dan sejauh mana pemahaman siswa setelah melakuakan pembelajaran di luar kelas terhadap objek langsung.

2.      Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan atau perubahan yang diinginkan (Suyanto, 1997 : 16). Peran peneliti pada pelaksanakan tindakan yaitu ikut terlibat dalam proses pembelajaran yang telah direncanakan yaitu sesuai judul yang di angkat. Adapun tindakan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah :
a.       Peneliti membawa siswa yang telah membentuk kelompok ke tempat atau objek yang dikunjungi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
b.      Peneliti menjelaskan tentang objek yang dikunjungi sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
c.       Peneliti memberikan kesempatan pada kelompok siswa untuk mengadakan pengamatan sesuai dengan objek yang dipelajari dan topik masing-masing.
d.      Siswa mengadakan pengamatan pada objek yang dipelajari sesuai dengan tugas masing-masing.
e.       Peneliti membimbing siswa untuk mengadakan praktek lansung terhadap objek yang dipelajari jika memungkinkan.
f.       Peneliti membimbing siswa untuk mengadakan diskusi kelompok terhadap hasil pengamatannya untuk melengkapi dan lebih memahami materi yang dipelajari.
g.      Setelah pelajaran selesai Peneliti mengajak siswa kembali kekelas untuk melanjutkan diskusi dari hasil temuannya.
h.      Peneliti memintak siswa mewakili kelompoknya untuk memberikan laporan hasil belajar dari lingkungan untuk dibahas bersama.
i.        Peneliti meyimpulkan materi pembelajaran, selanjutnya siswa untuk menyampaikan kesannya setelah mengadakan pembelajaran diluar kelas.



3.      Observasi (Pengamatan)
Observasi sebagai alat pengumpulan data yang sistematis artinya teknik observasi secara pencatatannya dilakukan untuk menafsirkan secara ilmiah (Suharsimi Arikunto, 1998 : 132). Pada tahap observasi ini guru merekam kegiatan siswa untuk mendapatkan data-data dari hasil pembelajaran, agar peneliti atau guru mendapatkan hasil yang valid, memilih teman sejawat atau guru lain sebagai observer terhadap tindakan yang dilakukan peneliti sesuai dengan pedoman atau lembar observasi yang telah disiapkan. Dalam observasi ini guru sejawat atau observer  mengamati secara langsung tentang: (1) Kesiapan guru dalam hal instrumen pengajaran, materi dan mental siswa dalam mengawali pembelajaran (2) motivasi siswa dalam proses belajar mengajar, (3) Keaktifan siswa dalam pembelajaran (4) Kemampuan guru dalam menyajikan lingkungan sebagai sumber belajar yang menyenangkan bagi siswa  (5) kemampuan guru dalam mengevaluasi hasil belajar (6) kemampuan guru untuk menumbuhkan minat belajar siswa.. Untuk mendapatkan data tentang kinerja guru, kinerja siswa dan minat belajar siswa instrumen yang digunakan yaitu :

a.       Skala sikap
b.      Lembar observasi

4.      Reflekai
Refleksi dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah berkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna untuk menyempurnakan tindakan berikutnya. Pada tahap refleksi ini guru dan observer berupa teman atau guru sejawat mengadakan diskusi untuk menganalisis sekala sikap dari hasil pre test dan post test yang dilakukan siswa, dari hasil pengamatan kinerja siswa dan guru serta keaktifan siswa dalam pembelajaran
Hasil dari refleksi ini oleh guru dijadikan acuan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan, dan selanjutnya direncanakan kembali pada pelaksanaan siklus II. Apabila pada Siklus I prestasi belajar siswa belum mencapai target, yang telah ditentukan, maka penelitian belum bisa dikatakan berhasil, sehingga peneliti harus melanjutkan ke siklus II., apabila pada siklus II prestasi belajar siswa sudah mengalami peningkatan dengan menggunakan langkah-langkah yang benar sesuai dengan target yang telah direncanakan maka penelitian baru dikatakan berhasil.
Continue Reading

RESUME PTK III ( KERANGKA BERFIKIR )

| 0 comments


KERANGKA BERFIKIR

A. Pengrtian kerangka berfikir
Kerangka berpikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun dan hasil-hasil penelitian yang terdahulu yang terkait.
Kerangka pikir ini digunakan sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diangkat. Atau, bisa diartikan sebagai mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka logis (construct logic) atau kerangka konseptual yang relevan untuk menjawab penyebab terjadinya masalah. Untuk membuktikan kecermatan penelitian, dasar dari teori tersebut perlu diperkuat  hasil-hasil penelitian terdahulu yang relevan.
Kerangka pikir itu penting untuk membantu dan mendorong peneliti memusatkan usaha penelitiannya untuk memahami hubungan antar variabel tertentu yang telah dipilihnya, mempermudah peneliti memahami dan menyadari kelemahan/keunggulan dari penelitian yang dilakukannya dibandingkan penelitian terdahulu
B. Karekteristik paradigama
Karakteristik paradigm penelitian ini sebenarnya harus secara disiplin kita taati karena kita telah memilih paradigm penelitian yang kita lakukan. Jika kita melakukan penelitian tindakan (kelas untuk para guru dan calon guru). Mereka harus menyadari penelitian tindakan ini sebuah metode yang menggunakan teknik kritik terhadap discourse, terhadap latar yang terjadi, terhadap latar pembelajaran yang terjadi, maka kita harus tegas tehadap setting apa yang ingin kita tingkatkan, maka kita harus focus terhadap discource yang kita sedang cermati. Kita jangan lari ke hasil tindakan bukan pada tindakan (jika kita melihat hasil belajarnya sementara tindakan hanya sebagai tindakan tanpa ada perubahan, maka kita lari dari focus (discource) yaitu peningkatan tindakan , sementara hasil belajar itu dampak dari tindakan)
C. Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan adalah upaya mencari perubahan dan meningkatkan. Peneliti bukanlah orang luar, peneliti adalah partisipan atau agen pembaharu, artinya kita tidak dapat menyerahkan pelaksanaan tindakan kepada orang lain (karena kitalah yang sedang me dan di tingkatkan). Apakah hasil dapat diterapkan di tempat lain, jawabannya tidak. Penelitian yang mencari perubahan dan peningkatan layanan tidak dapat diterapkan di tempat lain. Penelitian ini untuk mencari perubahan dan peningkatan situasi (latar peneltian jadi tidak bisa dipindah). Apakah telah terjadi perubahan dan peningkatan? Maka verifikasi akan menentukan, karena kesepakatan/consensus seluruh pihak yang terlibat yang akan memutuskan tingkat keberhasilan. Jika guru dan siswa tanpa pihak lain, maka guru dan siswalah yang memeriksa tingkat keberhasilan itu. Jika ada kepala sekolah, maka consensus ditambah kepala sekolah.
Artinya semua dikembalikan kepada guru tentang ukuran keberhasilannya. Situasi inilah menuntut pemahaman yang benar tentang PTK. Jika guru merasa, bila kenaikan hasil belajar digunakan sebagai indicator, maka inilah boomerang sedang berjalan mengancam esensi penelitian itu. Pemahaman dan kesadaran tentang metode penelitian dengan teknik kritkik “Discourse” ini harus termaknai dengan penuh kesadaran. jadi PTK bukan satu-satunya penyebab nilai siswa
Sebagai catatan agar guru/peneliti tidak focus pada hasil belajar dan kembali focus kepada tindakan atau solusi, apakah solusi berhasil bukan nilai ukurannya. NIlai yang diperoleh siswa ditentukan oleh banyak ubahan (penyebab), antara lain: siswa belajar, guru mengajar, orangtua membimbing belajar siswa dirumah
Langkah-langkah membangun kerangka penelitian atau paradigma penelitian, diantaranya:
  1. Pahami keadaan objek penelitian dengan cermat, sehingga dapat merumuskan masalah penelitian yang jelas dan research question yang jelas pula
  2. Pahami tujuan penelitian, dan tuliskan tujuan penelitian dengan rinci menjadi tujuan umum dan tujuan khusus
  3. Pelajari teori yang relevan, yang berhubungan dengan subjek penelitian Anda
  4. Pahami konsep-konsep yang diuraikan dalam teori tersebut dengan cermat. Hal ini sangat penting agar tidak membuat kekeliruan ketika menyusun kerangka fikir dan menterjemahkan konsep menjadi variabel.
  5. Pelajari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian Anda (tujuannya, pendekatannya, sampling, variabel-variabel utama, instrumen penelitian, metode analisa data, kesimpulan dan implikasinya).
  6. Kembangkan pengetahuan yang diperoleh berdasar keyakinan/pengetahuan peneliti sendiri, untuk menyusun kerangka fikiran (kerangka konseptual) penelitian yang diharapkan dapat menjawab research questions penelitian tersebut.
D .Hipotesis
Hipotesis diartikan sebagai dugaan sementara pada penelitian yang akan dilakukan.temasuk dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas, hipotesis dibutuhkan sebagai acuan peneliti yang disebut dengan hipotesis tindakan.
 Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau hubungan yang terdapat pada metode-metode penelitian lain melainkan hipotesis tindakan  idealnya hipotesis penelitian tindakan mendekati keketatan penelitian formal yang situasi lapanga yang senantiasa berubah membuatnya sulit untuk memenuhi tuntutan itu
Rumusan hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan untuk sampai pada pemilihan tindakan yang dianggap tepat, peneliti dapat mulai dengan menimbang prosedur-prosedur yang mungkin dapat dilaksanakan yang perbaikan yang diinginkan dapat dicapai sampai menemukan prosedur tindakan yang dianggap tepat.
Beberapa acuan penyusunan hipotesis tindakan dalam PTK, antara lain:
1)   Menjawab rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian
2)   Merupakan jawaban sementara dari kajian teori yang disusun oleh peneliti
3)   Merupakan jawaban sementara dari kerangka berpikir
 Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan
Dilihat dari sudut lain, alternatif tindakan perbaikan juga dapat dilihat sebagai hipotesis dalam arti mengindikasikan dugaan mengenai perubahan dalam arti perbaikan yang bakal terjadi jika suatu tindakan dilakukan.
Misalnya:
 jika kebiasaan membaca ditingkatkan melalui penugasan mencari kata atau istilah serapan, perbendaharaan kata akan meningkat dengan rata–rata 10% setiap bulannya.
b. Analisis kenaikan hipotesis tindakan
Setelah diperoleh gambaran awal mengenai sejumlah hipotesis tindakan maka selanjutnya perlu dilakukan masing–masing hipotesis tindakan itu dari segi jarak yang terdapat antara situasi riil dengan situasi ideal yang dijadikan rujukan. Sebab jika terdapat jarak yang terlalu sulit untuk mengupayakan perwujudannya, maka tindakan yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, kondisi dan situasi yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan sesuatu tindakan perbaikan dalam rangka PTK, harus ditetapkan sedemikian sehingga masih ada dalam batas–batas baik kemampuan guru senada dukungan fasilitas yang tersedia di sekolah maupun kemampuan rata–rata siswa untuk mencernakannya. Dengan kata lain, sebagai aktor PTK guru hendaknya cukup realistis dalam menghadapi kenyataan keseharian dunia sekolah dimana ia berada dan melaksanakan tugasnya.
Hipotesis tindakan harus dapat diuji secara empiris. Ini berarti bahwa baik proses implementasi tindakan yang dilakukan maupun dampak yang diakibatkannya dapat teramati oleh guru yang merupakan aktor PTK maupun mitra kerjanya. Sebagian dari gejala–gejala yang dapat diamati itu dapat diberikan secara kualitatif. Namun yang paling penting gejala – gejala tersebut harus dapat divertifikasi oleh pengamat lain, apabila diperlukan.
Pada gilirannya, untuk melakukan tindakan agar menghasilkan dampak/hasil sebagaimana diharapkan diperlukan kajian mengenai kelaikan hipotesis tindakan terlebih dahulu. Menurut Soedarsono (1997) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelaikan hipotesis tindakan adalah sebagai berikut:
1) Implementasi suatu PTK akan berhasil, hanya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Di pihak lain, sebagaimana telah dikemukakan untuk pelaksanaan PTK kadang – kadang memang masih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Selanjutnya selain persyaratan kemampuan, keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial.
2) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa.
3) Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas atau sekolah juga perlu diperhitungkan sebab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh karena itu demi keberhasilan PTK maka guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang ditentukan.
4) Selain kemampuan siswa sebagai perorangan, keberhasilan PTK juga sangat tergantung pada iklim belajar di kelas atau sekolah. Namun pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan status kuno. Dengan kata lain perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah memsng justru dapat dijadikan sebagai salah satu sasaran PTK.
5) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasai, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4) Iklim kerja sekolah juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain dukungan dari kepala sekolah serta rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. Selain itu semua tim PTK juga perlu membahas secara mendalam tentang kemungkinan konsekuensi alas an dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan.
c. Perencanaan Tindakan
Sebelum dilaksanakan penelitian, peneliti perlu melaksanakan berbagai persiapan sehingga semua komponen yang di-rencanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah per-siapan yang perlu ditempuh adalah:
1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru, di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implemen-tasi perbaikan yang telah direncanakan.
2) Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti gambar-gambar dan alat-alat peraga.
3) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data mengenai proses dan hasil tindakan perbaikan, kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan.
4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan, sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal keper-cayaan diri dalam pelaksanaan yang sebenarnya. Sebagai pelaku PTK, guru harus terbebas dari rasa gagal dan takut berbuat kesalahan.
 Pelaksanaan tindakan, Observasi dan Interpretasi
Atas dasar uraian di atas, adalah sangat beralasan untuk beranggapan bahwa PTK dilakukan oleh seorang guru atas prakarsa nya sendiri, mesikupun juga terbuka untuk dilakukan secara kola-boratif. Ini berarti bahwa peran guru dalam melaksanakan PTK adalah sangat penting dan tidak dapat digantikan oleh orang lain begitu saja. Oleh karena itu, implementasi tindakan, proses obser-vasi-interpretasi dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi karena keduanya merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam tindakan alamiah pembelajaran.
a. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan pelaksanaan tindakan perbaikan ini merupakan tindakan pokok dalam siklus PTKs, dan pada saat yang bersama-an kegiatan pelaksanaan tindakan ini juga diikuti dengan ke-giatan observasi dan interpretasi, serta diikuti dengan kegiat-an refleksi.
b. Observasi dan Interpretasi
Secara umum, observasi adalah upaya merekam segala perstiwa dan kegiatan yang terjadi selama tindakan perbaikan berlangsung, dengan menggunakan atau tanpa alat bantu. Perlu dicatat adalah kadar interpretasi yang terlibat dalam rekaman observasi secara seksama.
Mekanisme perekaman hasil observasi perlu dirancang agar tidak mencampuradukkan antara fakta dan interpretasi, namun juga tidak terseret oleh kaidah umum yang tanpa kecuali menafsirkan interpretasi dalam pelaksanaan observasi. Apabila yang terakhir ini dilakukan, sehingga yang direkam hanyalah fakta tanpa interpretasi, maka akan dapat menimbul-kan resiko, bahwa makna dari perangkat fakta yang telah di-amati itu tidak lagi dapat dibangkitkan kembali secara utuh karena proses erosi yang terjadi dalam ingatan, lebih-lebih apabila pengamat adalah juga aktor tindakan. Dalam hubungan ini, agaknya prosedur perekaman hasil observasi yang telah banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, dapat dimanfaat-kan





Continue Reading
Powered by Blogger.

Entri Populer

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger