Berita Terkini :
Home » » RESUME KEMUNCULAN DAN KEPUNAHAN

RESUME KEMUNCULAN DAN KEPUNAHAN

Senin, 21 Januari 2013 | 0 komentar



KEMUNCULAN DAN KEPUNAHAN

suatu organisme mempunyai masanya masing-masing. Kemunculan suatu organisme dapat terjadi karena adanya relung baru atau relung yang ditinggalkan. Selain itu ada sejumlah persyaratan yang diperlukan yang mendukung terbentuknya suatu jenis baru. Hal ini akan diterangkan di bawah ini.

A.      Kemunculan Kelompok Organisme Tertentu
Beberapa waktu yang lalu, dunia perfilman digegerkan oleh film jurasik park. Dalam film itu diceritakan mengenai dihidupkannya Dinosaurus yang berasal dari jaman jurasik. Berapa lamakah jaman jurasik itu? Kapan jaman itu berlalu dan mengapa? Evolusi adalah proses yang berlangsung sejak asal mula adanya kehidupan. Kapan kehidupan mulai ada, tidak dapat diketahui dengan pasti. Satu-satunya data yang dapat diperoleh mengenai hal ini adalah adanya fosil. Dari data yang dihimpun oleh ahli paleontologi diketahui bahwa fosil tertua yang ditemukan berumur sekitar 490 juta tahun. Maka kehidupan diperkirakan mulai pada akhir masa prekambrian, sekitar 700 juta tahun yang lalu. Data ini pun masih merupakan dugaan, karena pada masa itu, tentu jumlah organisme masih sangat sedikit, sehingga fosil tidak mungkin dijumpai pada lapisan tanah. Pada waktu itu, habitat yang mungkin ada adalah air. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa muka bumi masih dihuni oleh prokariot dan organisme bersel satu, terutama ganggang biru, yang kemudian diikuti oleh lumut kerak dan lumut yang menghuni sekitar pantai. Suhu permukaan bumi pun diperkirakan masih jauh lebih panas dan oksigen mungkin meliputi hanya sekitar 10% dari apa yang ada sekarang. Lapisan yang mengandung fosil tertua (Stromatolites) berupa spora, ditemukan di daerah pantai di Arabia dan Australia dan berumur sekitar 470 juta tahun yang lalu. Hal ini berarti bahwa ekosistem yang ada baru terdapat sekitar 480 juta tahun yang lalu. Setelah periode itu baru ditemukan fosil yang lebih muda di banyak daerah lain. Dari tabel di bawah ini dapat kita lihat kapan suatu kelompok organisme mulai muncul di permukaan bumi sesuai dengan data fosil yang ada. Garis titik-titik menunjukkan bahwa data fosil masih jarang dijumpai. Apabila kita bandingkan kedua tabel di atas, maka terlihat bahwa waktu geologi yang diberikan tidak sama. Hal ini disebabkan karena sumber yang diambil tidak sama. Tabel pertama mungkin lebih tepat, karena didasarkan atas publikasi yang relatif baru (1993). Meskipun umur tidak dapat begitu saja diabaikan, namun dari tabel tersebut di atas dapat kita lihat bagaimana proses terjadinya kehidupan itu terjadi. Misalnya kalau kita mengambil manusia, maka manusia baru muncul di permukaan buni sekitar 500.000 tahun yang lalu. Sedangkan protozoa dan prokariot lain diperkirakan sudah ada sekitar 3000 juta tahun yang lalu. Jadi proses kehidupan dapat pula kita telusuri melalui data fosil. Seperti sudah dikemukakan di atas, data umur sangat bervariasi. Variasi tersebut akan bertambah besar, kalau kita menggunakan data biologi lainnya yang akan didiskusikan kemudian.

B.       Teori tentang Kemunculan dan Kepunahan Reptilia Besar
Banyak orang menganggap bahwa Mamalia menguasai muka bumi, namun hal ini disebabkan karena dominasi manusialah (Homo sapiens) yang merupakan penyebab utama anggapan tersebut. Tidak dapat disangkal bahwa sebenarnya Reptilia merupakan organisme yang paling sukses di muka bumi. Meskipun reptilia tidak lagi merajai permukaan bumi, namun jumlah yang kini masih hidup di muka bumi tidak dapat dikatakan sedikit, dan kini hanya disaingi oleh kelompok pisces. Lamanya Reptilia menguasai permukaan bumi juga menunjukkan bahwa kelompok ini merupakan pemula di daratan dan pernah menjadi penguasa daratan (di wakili oleh macam-macam Dinosaurus). Reptilia pernah menguasai air (diwakili oleh Mesosaurus), daratan (Tyramosaurus) dan udara (Pteranodon). Sedangkan data mengenai Reptilia yang hidup di dalam tanah sayangnya tidak banyak diketahui.
Untuk mengkaji bagaimana Reptilia timbul dan hilang (terutama Dinosaurus) dari muka bumi, kita dapat mempelajari konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan Reptilia sejak munculnya di muka bumi hingga punahnya. Sebagai hewan Vertebrata yang pertama muncul sebagai hewan daratan, maka Reptilia mempunyai konsekuensi untuk mengatasi masalah kekeringan. Sebenarnya Vertebrata pertama yang muncul di daratan adalah Amphibia, tetapi Amphibia dalam hal ini tidak diperhitungkan, karena sebagian besar kehidupannya berlangsung di dalam air atau dinpermukaan, sehingga tidak banyak menghadapi konsekuensi kekeringan. Sedangkan Reptilia benar-benar merupakan hewan Vertebrata daratan.
Sejarah kemunculan Reptilia di daratan ditandai dengan
§   Terbentuknya sel telur berdinding ganda (telur amniota)
§   Kulit tubuh yang ditutupi perisai (misalnya kura-kura dan Dinoosaurus) atau sisik guna melindungi diri terhadap kekeringan
§   Terbentuknya sistem ekskresi yang terpisah kalau dibandingkan dengan hewan Vertebrata lainnya yang telah ada sebelumnya (ikan, amphibia)
§   Terbentuknya anggota gerak
§   Terbentuknya alat indra penglihatan, pendengaran, penciuman, dan pengecapan yang lebih baik.

C.      Terbentuknya Sel Telur Berdinding Ganda (AMNIOTA)
1.      Kapan terbentuknya telur amniota tidak dapat ditelusuri dengan baik, karena sedikitnya data fosil. Dalam hal ini harus kita fahami bahwa Reptilia pertama yang muncul dipermukaan bumi seharusnya berukuran relatif kecil, tetapi karena berukuran kecil, maka data fosilnyapun sangat terbatas. Walaupun demikian, berlandaskan pada logika, ada beberapa tahapan yangperlu dilalui kalau kita tinjau keadaan telur ikan dan amfibi dan dibandingkan dengan tipe telur yang dimiliki Reptilia.
2.      Konsekuensi dari sel telur berdinding ganda (kapur dan selaput amnion) mengharuskan fertilisasi internal sebagai satu-satunya alternatif refroduksi. Dengan demikian alat kelamin sekunder jantan merupakan struktur pertama yang muncul di kelompok Vertebrata pada Reptilia (dalam bentuk sepasang hemipenis).
3.      Konsekuensi lain dari munculnya sel telur berdinding kapur memerlukan suatu perubahan penting kalau dibandingkan dengan telur amfibi atau ikan, karena kulit kapur tersebut harus dapat menghubungkan embrio dengan dunia luar untuk pertukaran gas (oksigen-karbon dioksida).
4.      Telur reptilia ternyata ditunjang dengan terbentuknya membran amnion. Membran amnion berguna untuk menangkap oksigen yang masuk melalui dinding sel kapur tersebut. Hal ini memberikan konsekuensi bahwa telur pertama tidak mungkin terlalu besar agar pertukaran gas dapat berlangsung dengan baik.
5.      Konsekuensi lainnya adalah diggantikannya insang dengan paru-paru (tahapan ini sudah dilalui oleh Amphibia).
6.      Naiknya Reptilia ke daratan memberikan konsekuensi pula pada alat indra.
7.      Mata yang dilindungi dengan membran nictitans digantikan dengan mata yang berkelopak, juga untuk melindungi dari bahaya kekeringan.
8.      Alat pendengaran yang sebelumnya terdapat pada rahang bawah (pisces) mulai berangsur digantikan dengan telinga dalam, karena juga mengghadapi tantangan kekeringan. Fungsi telinga lebih diperlukan apabila dibandingkan dengan kehidupan di dalam air, untuk mencari mangsa dan menghindar dari predator. Di dalm air, ikan dan amphibi menggunakan linea lateralis  yang berlangsung berhubungan dengan air sebagai media, namun struktur tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik di daratan.



D.      Kepunahan (Termasuk Reptilia Besar - Dinosaurus)
Dalam sejarah muka bumi telah tercatat adanya lima kali peristiwa kepunahan besar-besaran. Hal ini terjaadi pada masa Kambrian, Ordovisian, Devonian, Permian dn Kretasea. Diantara kelima peristiwa kematian masal, maka peristiwa kematioan masal pada periode Permian merupakan kejadian yang paling buruk dalam sejarah bumi. Pada waktu itu sekitar 75% organisme punah. Namun pada masa kretasea sebelum peristiwa kematian masal, jumlah organisme hidup sudah melebihi keadaan sebelum peristiwa kematian Permian. Setelah peristiwa kematian Kretasea, maka kini jumlah organismepun masih meningkat lagi sehingga diperkirakan jumlah organisme sudah dua kali lipat dari pada keadaan sebelum peristiwa kematian Permian.
Apakah yang menyebabkan peristiwa kematian tersebut di atas ada sejumlah teori yang dikemukakan para ahli, dan kemungkinan besar beberapa teori dapat bekerja secara simultan atau merupakan akibat dari kemungkinan terdahulu.
1.      Teori Pergerakan Benua dan Terbentuknya Pangea
Akibat bergeraknya benua, maka jumlah panjang pantai menjadi sangat pendek dibandingkan dengan keadaan apabila bumi terdiri dari banyak benua. Hal ini menyebabkan sejumlah besar organisme laut yang hidup di air dangkal akan punah. Selain itu konsekuensi yang juga timbul adalah adanya satu daratan menyebabkan timbulnya perubahan cuaca yang drastis. Sebagai contoh, semua daratan diberbagai benua (Afrika, Asia, dan Amerika Utara) akan memiliki daerah gurun. Daratan yang luas dan datar menyebabkan daerah tengah tidak mendapat cukup air hujan, karena hujan sudah turun di daerah yang tidak terlalu jauh dari pantai. Akibat timbulnya gurun yang besar, maka sebagian besar ikan akan menjadi berubah, kering. Sebagian besar organisme daratan dan air akan punah.


2.      Teori Vulkanisme
Mengingat contoh vulkanisme akan menimbulkan perubahan yang besar untuk suatu daerah. Letusan suatu gunung berapi dapat berlangsung berbulan-bulan dan akibatnya paling tidak mempengaruhi sebagian muka bumi. Di indonesia kita mengenal beberapa kepunahan yang sangat besar dan garis tengahnya lebih dari 20 km, misalnya Danau Toba, Danau Tondano, dan Daerah Dieng. Diperkirakan bahwa letusan gunung tersebut beberapa ratus kali lebih dahsyat daripada letusan Gunung Krakatau. Akibat gunug krakatau saja, banjir besar menimpa daerah Negri Belanda yang berjarak puluhan ribu kilometer. Apabila ada sejumlah besar gunung berapi sebesar gunung Krakatau atau Tambora meletus, maka akan timbul kegelapan selama berbulan-bulan. Hal ini akan menyebabkan perubahan cuaca yang sangat drastis. Pengaruh letusan Gunung Galunggung saja telah hampir memusnahkan beberapa spesies di Jawa Di Pangandaran, jumlah banteng tinggal tiga ekor dari 35 ekor sebelumnya. Menurut hasil visum, kebanyakan banteng mati karena ada deposit debu vulkanis di paru-paru, dan sejumlah besar abu vulkanis di dalam lambung yang tidak dapat dikeluarkan dengan feces, mungkin karena terlalu berat.
3.      Teori Meteorit atau Supernova
Memorit berukuran sangat besar yang menabrak bumi akan menyebabkan perubahan iklim global, selain menimbulkan gempa bumi, akan memberikan akibat yang serupa dengan letusan gunung berapi, yang berarti perubahan cuaca. Ledakan supernova (bintang raksasa) di luar angkasa akan menyebarkan debu bintang yang mungkin menimbulkan kegelapan. Debu bintang dapat pula mempengaruhi magnetik bumi. Apabila kutub magnetik bumi berubah, maka akan terjadi gempa bumi, karena poros bumi mengalami perubahan. Menurut penelitian, kutub magnetik bumi memang sudah tidak tapat dari yang diperhitungkan dahulu. Selain itu meteorit atau supernova dapat membawa suatu unsur seperti lagam berat (misalnya iridium) yang beracun bagi kehidupan di muka bumi.
4.      Teori Glasiasi
Turunnya hujan salju selam 1 minggu di Kota Roma menjadi berita utama di tahun 1987. Hal ini disebabkan karena Kota Roma tidak setiap tahun kedatangan salju. Biasanya hujan salju yang turun disana hanya sepuluh tahun sekali. Pada tahun 1987, salju menumpuk sampai hampir 2 meter, lalu lintas terputus, listrik mengalami banyak gangguan. Akibatnya puluhan orang meninggal dunia karena kedinginan dan kelaparan. Gambaran peristiwa diatas dapat terjadi lebih parah lagi di masa lalu. Apabila hal itu terjadi di kota, bagaimana pula keadaannya di alam terbuka. Banyak satwa yang mati, dan tanaman yang hancur. Adanya zaman es menyebabkan cuaca bumi menurun secara drastis dan menimbulkan kematian masal bagi organisme yang tidak teradaptasi. Menurunnya suhu bumi sebanyak satu derajat saja sudah dapat memperluas lingkaran kutub menjadi beberapa puluh ribu km2, dan hal ini menyebabkan kematian organisme daerah tersebut.
5.      Teori Adanya Air Bah
Air merupakan penyebab kepunahan yang paling umum dijumpai. Hujan yang turun empat sam pai lima hari sudah menimbulkan banjir, tanah longsor dan kerusakan tempat penghunian, ladang dan hewan ternak. Akibat hujan beberapa hari saja sudah dapat menaikkan air sampai beberapa meter dan di daerah muara dapat sampai belasan meter. Akibatnya seperti yang dapat kita lihat di Bangladesh. Banyak ternak yang mati, tanaman pangan rusak total. Apabila hal ini berlangsung beberapa minggu saja, maka seluruh daerah akan mati, meninggalkan pohon-pohon yang besar saja. Sesudah banjir biasanya penyakit mewabah, sehingga apa yang tertinggal ikut mati pula apabila tidak ditangani.
Akibat glasiasi berakhir, maka seluruh daratan Sunda dan daratan Sahul terendam air, meninggalkan daerah dataran tinggi saja dan menjadikan Indonesia berbentuk kepulauan. Banyaknya organisme yang punah tidak dapat diperkirakan.
6.      Teori Epidemi atau Pandemi
Kematian masal suatu organisme misalnya setelah glasiasi atau banjir selain memusnahkan organisme yang terdapat di daerah tersebut, juga akan menimbulkan penyakit lainnya. Ada proses pembusukan besar-besaran, dan penyakit berkembang dengan pesat karena sanitasi yang buruk. Akibatnya banyak organisme lain yang ikut mati karena jumlah mikroba pembusukan meningkat dan menimbulkan infeksi pada organisme yang hidup di sekitarnya. 
7.      Teori Naiknya Suhu Muka Bumi (Greenhouse Effect)
Adanya jumlah CO2 yang besar akan menyebabkan temperaturmuka bumi naik. Hal ini disebabkan oleh karena CO2 akan membentuk lapisan yang menghambat masuknya sinar matahari. Akibatnya setiap pemanasan pada siang hari akan tetap tertahan pada malam hari, dan dengan demikian, udara bertambah lama bertambah panas.
8.      Teori Radiasi Ultra Violet dan Lubang Ozon
Lubang ozon menimbulkan mutasi pada organisme karena kemampuannya menembus sel dan memotong-motong DNA. Rusaknya DNA umumnya menyebabkan organisme yang dikenai sinar ultraviolet mengalami mutasi yang kemungkinan besar merugikan sehingga punah. Dengan adanya lubang ozon, maka suhu muka bumi akan naik dan contoh pada masa kini adalah banyaknya organisme yang punah akibat naiknya temperatur muka bumi.
9.      Teori Berkembangnya Mamalia Kecil Setelah Perubahan Temperatur Global
Mamalia kecil diperkirakan mulai berkembang di muka bumi tidak lam setelah kemunculan Reptilia. Sebelumnya, Mamalia tertekan perkembangannya karena bersaing dengan Dinosaurus. Namun pada waktu terjadi perubahan muka bumi, keberadaan Mamalia tidak banyak terpengaruh, sebaliknya sebagian besar Dinosaurus punah.
10.  Teori Campur Tangannya Manusia
Hal ini terutama berlaku untuk buaya, penyu dan kura-kura besar. Penyebabknya adalah karena over harvesting dan over exploiting untuk kesenangan atau ketamakan sekelompok orang dan rasa sekuriti kelompok yang lain.
Dari kesembilan penyebab utama yang disebutkan di atas, maka hanya tiga penyebab utama (epidemi, Mamalia, dan Manusia)yang tidak mempengaruhi perubahan temperatur muka bumi secara umum, kecuali pada zaman modern. Mengapa naik turunnya temperatur muka bumi berpengaruh pada kepunahan reptilia, terutama Dinosaurus ?
a.       Kebanyakan Reptilia tidak mengerami telurnya, tetapi menguburnya di dalam tanah.
b.      Kebanyakan Reptilia mempunyai determinasi seks yang bergantung kepada temperatur. Hal ini berarti bahwa suhu lingkungan akan menentukan jenis kelainan organisme yang akan menetas dari telur.
c.       Mengapa keberadaan Mamalia menjadi ancaman bagi Reptilia ? kalau temperatur bumi turun, maka Reptilia memerlukan waktu yang lebih lama untuk aktif, sedangkan Mamalia tidak demikian. Diperkirakan sifat homoioterm merupakan kunci keberhasilan Mamalia. Karena kemampuan termoregulasi, maka kenaikan suhu bumi, keberdaan Mamalia tidak terpengaruh sebesar pengaruh yang terjadi pada organisme poikiloterm.
d.      Kalau temperatur bumi naik, maka Reptilia harus bersembunyi kalau tidak mereka dapat hiperaktif dan memerlukan energi tinggi, disebabkan karena Reptilia tidak mempunyai kemampuan termoregulasi yang baik. Mamalia memang ikut menderita pada zaman glasiasi, tetapi dapat mengatur suhu tubuhnya secara lebih mudah, sehingga tidak perlu menjadi hiperaktif.
e.       Pada masa kepunahan, maka sebagian besar organisme punah, dan ini berarti punahnya sebagian besar mangsa. Reftilia berukuran besar akan lebih sulit mencari mangsa, tetapi tidak demikian bagi Reptilia kecil dan Mamalia. Mereka bersaing tetapi Mamalia dapat aktif siang atau malam, sedangkan Reptilia lebih terbatas jam operasinya karena perlu penyesuaian diri terhadap lingkungan yang waktunya lebih lambat dibandingkan Mamalia. Mamalia kecil yang lebih gesit mempunyai kemampuan menyembunyikan diri dari Reptilia berukuran besar.
f.       Telur Reptilia merupakan mangsa bagi Reptilia dan Mamalia kecil, sedangkan Mamalia tidak mempunyai telur yang bebas yang dapat di mangsa organisme lain.
g.      Mamalia menjaga anaknya sedangkan kebanyakan Reptilia tidak.
h.      Konsekuensi dan determinasi seks yang bergantung kepada temperatur. Reptilia mempunyai detyerminasi seks yang bergantung kepada temperatur. Apabila kita kaji strategi reproduksi Reptilia, diketahui bahwa proses pematangan telur ditentukan oleh penyinaran mata hari. Di sini tidak ada masalah apakah temperatur muka bumi naik atau turun. Adanya perubahan temperatur akan mengakibatkan timbulnya salah satu jenis kelamin saja, jantan atau betina. Dengan demikian, semua telur yang menetas akan menghasilkan salah satu jenis kelamin saja. Dengan demikian tidak ada regenerasi untuk generasi yang berikutnya. Dalam satu atau dua siklus reproduksi saja, maka jenis tersebut dapat hilang dari muka bumi.




DAFTAR PUSTAKA

Iskandar,Dr Djoko T. 2001. Catatan Kuliah Evolusi. Bandung : ITB
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang : Universitas Negeri Malang.







Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

Anda PenGunJuNg Ke .....

Negara PengunjuNg

free counters
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rizal Suhardi Eksakta * - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger